AGAMA DAN KETIDAKBERARTIAN HIDUP

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 28/05/2023 – 08 Dzulqa’dah 444 H

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

Banyak orang yang silau dengan kemajuan Jepang dari segi ekonomi. Sangat wajar, denyut kemajuan Jepang secara ekonomi dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Ketika anda sedang berkendara, maka secara tidak langsung anda sedang merasakan pengaruh kemajuan Jepang di dalamnya karena kendaraan yang digunakan merupakan produk otomotif Jepang. Sebut saja merek-merek otomotif di sekitar kita dari Toyota, Honda, Yamaha, dan Kawasaki. Ketika anda duduk di ruang kerja menikmati dinginnya Air Conditioner, maka pengaruh ekonomi Jepang juga akan terasa karena AC ruang anda kebetulan bermerek Hitachi. Dan lain sebagainya, kemajuan ekonomi Jepang dirasakan dengan membanjirnya produk-produk otomotif maupun elektronik dari negara ini di dalam rumah tangga dan kehidupan kita.

Belakangan ini, anak-anak muda dari berbagai belahan dunia sedang gandrung dengan satu tren budaya yang disebut dengan KPop atau budaya populer Korea. Ini merupakan budaya musik asal Korea Selatan yang menarik perhatian kalangan anak muda di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dari budaya KPop ini maka muncul istilah Korean wave atau gelombang untuk mempelajari segala sesuai tentang Korea. Para penggemar Kpop mempelajari kebudayaan Korea dan bahasa Korea. Budaya Kpop ini juga membuat para penggemarnya menonton serial drama  Korea (Drakor), film dan variety show dari Korea Selatan.

Membajirnya budaya masa asal Korea Selatan di berbagai belahan dunia tersebut tentu saja juga menggambarkan kemajuan secara ekonomi negara ini. Dalam salah satu dalil teori radiasi budaya, Arnold J.Toynbee menyatakan bahwa suatu aspek budaya akan membuka pintu bagi masuknya aspek budaya dari lapisan yang lebih dalam. Masuknya teknologi berupa televisi, gadget, dan lainnya telah membuka jalan masuknya aspek budaya lain seperti seni pada masyarakat. Dalam teori globalisasi, negara-negara inti (negara maju) akan lebih cepat memberikan pengaruh kepada negara-negara lain yang berada dalam level pinggiran (terbelakang/berkembang) dibandingkan kebalikannya. Sangat jarang terjadi budaya negara pinggiran merangsek dengan mudah ke negara-negara inti atau maju. Dalam globalisasi yang terjadi adalah subordinasi budaya dari negara maju ke negara terbelakang. Bukan sebaliknya. Yang dimaksud dengan negara-negara inti adalah negara yang secara ekonomi maju dan sejahtera.

Dibalik kemajuan bangsa dan rakyat negara-negara tersebut ternyata menyimpan pula kisah-kisah pilu dan keputusasaan. Gemerlapnya dunia dan kemajuan ekonomi bangsa-bangsa ini ternyata diikuti pula dengan rakyat yang menderita dan tidak bahagia secara rohani. Sebagaimana dilansir oleh portal berita detik.com (03/03/2023), Jepang mencatat rekor yang memilukan yaitu mencatat kasus siswa bunuh diri tertinggi dalam sejarah.

Dari data Kementerian Pendidikan berdasarkan data statistik pemerintah Jepang, dilaporkan bahwa pada tahun 2022 tercatat sebanyak 512 kasus siswa bunuh diri. Hal ini merupakan kasus tertinggi dalam sejarah. Dilansir detikHealth yang mengutip Japan Today (3/3/2023), dari jumlah kasus bunuh diri dikalangan siswa tersebut 17 diantaranya merupakan siswa SD, 143 siswa SMP dan 352 siswa SMA. Bunuh diri yang dilakukan anak laki-laki sekolah menengah lebih tinggi dibandingkan siswa perempuan. Kasus bunuh diri di Jepang ini rata-rata terjadi pada anak usia 19 tahun ke bawah.

Tuntutan untuk berprestasi dan kinerja yang tinggi membuat anak-anak ini mengalami tekanan hidup yang tidak terperikan. Menurut Kementerian Kesehatan Jepang, mayoritas kasus bunuh diri di kalangan siswa ini disebabkan oleh kekhawatiran mereka mengenai kinerja akademik yang buruk, prospek karir yang buruk, dan stress perihal ujian masuk sekolah dan universitas. Angka kasus bunuh diri di Jepang tidak saja terjadi dikalangan siswa tetapi banyak juga terjadi dikalangan pekerja usia produktif. Jumlahnya juga tidak kalah mengerikan. Beberapa faktor yang mempengaruh tingginya angka bunuh diri itu meliputi stress kerja berat, isolasi sosial, lingkungan hidup yang tidak sehat, tekanan ekonomi dan stigma sosial terkait bunuh diri.

Bagaimana kondisi masyarakat Korea selatan yang karena kemajuannya telah mengimpor budaya Kpop keseluruh dunia. Kondisinya ternyata juga tidak kalah tragis. Kasus bunuh diri justru terjadi banyak dikalangan artis korea yang telah berhasil mengenal budaya Korea ke seluruh dunia. Dibalik romantisme, keceriaan, hidup yang glamour penuh kemewahan dan tampang yang rupawan para artis Korea ternyata menyimpan sisi kelam kehidupan. Banyak dari mereka yang mengalami depresi karena beragam alasan, mulai dari tuntutan untuk tampil sempurna tanpa cela hingga perundungan di sosial media.

Nama-nama artis Korea seperti Jeon Mi-Seon, Choi Jin Ria tau Sulli, Goo Ha-Ra, Jo Hanna, Jang Ja-Yeon, Kim Daul, Yoo Ju Eun, Ahn So Jin, Kim Jong Hyun Shinee, dan Cha in Ha, adalah contoh deretan artis yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Sering kita bertanya, apa yang kurang dari kehidupan mereka? Popularitas, kemewahan hidup, uang, harta, wajah yang rupawan, pasangan yang juga rupawan. Semua itu mereka miliki, namun mengapa mereka memilih mengakiri hidupnya secara tragis.

Kasus bunuh diri di Korea banyak juga terjadi  di luar dunia keartisan. Badan Pusat Statistik Korea Selatan Xinhua melaporkan tingkat bunuh diri per 100.000 orang di bawah usia 17 tahun mencapai 2,7 bunuh diri remaja per 100.000 penduduk pada tahun 2021, naik dari 2,5 tahun sebelumnya. Laporan statistik Korea tentang penyebab kematian pada 2021 rata-rata 37 orang bunuh diri per hari dan tingkat bunuh diri negara tersebut adalah yang tertinggi diantara 38 negara anggota Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan.

Penyebab bunuh diri menurut para ahi ilmu jiwa sangat kompleks,  bukan hanya karena masalah kesehatan pribadi dan mental, tetapi juga terkait dengan faktor ekonomi dan tekanan sosial. Jadi kalaupun tidak bunuh diri, nyaris sepertiga penduduk Korea beresiko mati kesepian. Mengutip laporan Korea Herald (CNBC Indonesia), baru-baru ini seorang pria berusia 50 tahunan ditemukan mati sendiri di rumahnya di Seoul pada akhir Juli 2022 lalu. Kulkasnya kosong, tempat cuci piringnya penuh dengan bungkus mie instan, dan ada tumpukan pemberitahuan tagihan yang belum dibayar di rumah.

Kepergian pria malang tersebut menambah jumlah kematian akibat kesepian di Korea Selatan. Saat ini ada hampir sepertiga rumah tangga  hanya terdiri dari satu orang di Korea Selatan. Menurut Statistik Korea, jumlah rumah tangga satu orang melonjak dari 5,39 juta pada 2016 menjadi 6,64 juta pada tahun 2021. Mereka inilah yang paling rentang mengalami mati kesepian. Mengherankan, sebuah negara yang dicitrakan maju dan rakyatnya sejahtera, ternyata sebagian warganya mati karena kesepian. Apa yang terjadi dengan rakyat bangsa ini?

 

Situasi Meaninglessness

 

Sisi lain dari kehidupan masyarakat Jepang dan Korea sebagaimana tersebut di atas menggambarkan apa yang disebut dengan suatu kehidupan meaninglessness, yaitu orang tidak dapat menemukan arti dan makna kehidupan. Hidup yang penuh ketidakberartian atau hidup dengan ketidakbermaknaan. Dalam siatuasi meaninglessness orang kehilangan dan tidak menemukan jawaban hakikat kehidupan, mengapa diri ada di muka bumi ini, untuk apa dan akan kemana akhir dari kehidupan. Situasi seperti ini banyak terjadi pada masyarakat yang kurang teguh memegang dan mengamalkan ajaran agama.

Fakta kondisi masyarakat Jepang sebagaimana di atas ternyata berbanding lurus dengan fakta penganut agama di negara itu. Survei NHK pada 2018 tentang pengamalan keagamaan orang Jepang menunjukkan dalam kehidupan bahwa 62% orang Jepang tidak beragama, 31% Budha, 3% Shinto, 1% Kristen, 1% lainny, 2%  tidak menjawab. Survei Gallup pada tahun 2015 menunjukkan bahwa hanya 24% orang Jepang menganggap agama sebagai sesuatu yang penting, sedangkan 75% sisanya menganggap agama tidak penting.(www.profilbaru.com). Hasil survai ini memang agak berbeda dengan data statistik di Jepang yang menunjukkan bahwa secara formal sebenarnya orang Jepang mayoritas beragama Shinto dan Budha.

Yang terjadi sebenarnya, orang bukan tidak memiliki agama, akan tetapi agama hanya dijadikan sebagai status formal saja sehingga agama tidak nampak dalam pengamalan di kehidupan sehari-hari.  Bahkan sebagian menganggap agama sudah tidak penting dan relevan dengan kehidupan modern. Karena agama (Tuhan) tidak dijadikan sebagai pedoman hidup dan pegangan moral serta melabuhkan semua persoalan hidup, maka manusia kehilangan orientasi hidup, kehilangan tujuan hidup, kehilangan pegangan moral yang absolut yang pada akhirnya kehilangan rasa damai dan tentram dalam kehidupan.

Pada tataran ini, maka sangat penting untuk memahami fungsi agama dalam kehidupan. Secara fungsional agama memberikan pedoman moral dan etika bagi manusia. Agama mengajarkan nilai-nilai kejujuran, kesetiaan, keadilan dan belas kasih dan kasih sayang yang menjadi dasar dari kebaikan moral dan etika. Nilai-nilai ini membantu manusia dalam mengembangkan sikap dan perilaku yang baik dan memperkuat hubungan sosial dengan orang lain.

Agama juga berfungsi untuk menjaga keharmonisan sosial. Agama memainkan peran penting dalam menjaga keharmonisan sosial dengan mendorong sikap toleransi, membantu dalam memperkuat ikatan sosial dan mengurangi konflik antar kelompok. Agama berfungsi pula dalam memberikan dukungan moral dan spiritual bagi masyarakat dalam menghadapi masalah dan tantangan kehidupan. Agama membantu manusia dalam menemukan arti dan makna hidup dan memperoleh kekuatan untuk menghadapi kesulitan. Dalam keadaan sulit manusia bisa merasa tenang dan terhibur dengan berpegang teguh pada keyakinan agama dan kepada Tuhan.

Fungsi lain dari agama adalah memainkan peran penting dalam menjaga identitas dan taradisi budaya suatu masyarakat. Agama memperkuat identitas budaya masyarakat melalui praktek keagamaan, yang dpertahankan dari generasi ke generasi. Misalnya perayaan hari raya keagamaan atau ritual keagamaan lainnya bisa menjadi sarana untuk mengenalkan dan mempertahankan tradisi suatu masyarakat ke generasi berikutnya. Agama juga berfungsi untuk memotivasi amal kebajikan, yaitu mendorong anggota masyarakat untuk melakukan amal kebajikan dan membantu mereka untuk memperkuat keinginan dan tekad untuk berbuat baik. Agama memotivasi manusia untuk mengembangkan sikap dan tindakan altruistik, humanis dan sikap filantropis.

Hatta, dengan beragama, mengamalkan ajarannya dan mendekatkan diri kepada Tuhan akan membuat manusia memiliki pegangan hidup yang jelas dan tempat mengantungkan segala persoalan kehidupan. Situasi ketidakbermaknaan hidup yang dialami seseorang bisa jadi karena ia telah melupakan dan meninggalkan agama. Agama hanya ada dalam status formal namun tidak muncul dalam perbuatan nyata dan amal shalih. Al-Qur’an mengingatkan kepada kita semua bahwa hanya dengan mengingatkan Allah maka hati menjadi tentram.

 

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d (13): 28).

 

Berdzikir mengingat Allah bermakna juga selalu menjadikan agama sebagai pedoman dalam hidup. Mengadukan segala persoalan kehidupan hanya kepada Allah. Memohon dan meminta pertolongan hanya kepada Allah. Itulah sumber ketenangan, ketentraman dan kedamaian hidup. Masyarakat yang meninggalkan agama dan Tuhan mereka akan kehilangan arti dan makna hidup. Hidupnya akan diliputi kegelisahan terus menerus, kesepian dan diliputi keputusasaan. Karena itu jangan sekali-kali meninggalkan agama jika ingin kehidupan yang diliputi kedamaian dan ketentraman. Wallahu a’lam bishawab. (mh.27.05.23).

Posting : (ss_humas)

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.