metrouniv.ac.id – 18/04/2026 – 1 Dzulqa’dah 1447 H
Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA. (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Lagu Lir Ilir dalam tradisi Jawa yang dikenal luas dan sering kita dengarkan dalam dari majelis-majelis sholawatan dan sering dikaitkan dengan dakwah Sunan Kalijaga bukan sekadar tembang spiritual. Ia adalah panggilan halus untuk bangkit dari kelelahan jiwa, menghidupkan kembali harapan, dan melanjutkan perjalanan hidup dengan makna. Dalam perspektif psikologi, pesan ini sangat dekat dengan konsep “resiliensi”, yaitu kemampuan seseorang untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit kembali dari tekanan hidup yang dihadapinya.
Lir Ilir: Simbol Kebangkitan Psikis
Makna “lir ilir” dapat dimaknai sebagai “bangun” atau “terjaga”. Ini mencerminkan kondisi psikologis ketika seseorang keluar dari fase yaitu kelelahan mental, kehilangan makna, dan stagnasi emosional . Dalam psikologi eksistensial, Viktor Frankl menyebut bahwa manusia dapat bertahan dalam penderitaan selama ia memiliki makna (meaning). Lir Ilir mengajak seseorang untuk kembali menemukan makna hidupnya. Al-Qur’an pun memberikan harapan serupa bahwa “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”(QS. Al-Insyirah: 5–6). Ayat ini menegaskan bahwa kelelahan bukan akhir, melainkan bagian dari proses menuju pemulihan. Maka setiap individu perlu berprinsip untuk selalu menyala dan selalu bangkit lagi dan bangkit lagi tanpa patah semangat dalam mengatasi problematika hidup.
Tandure Wis Sumilir: Pertumbuhan Diri dalam Psikologi Positif
Lirik “tandure wis sumilir” (tanaman mulai bersemi) menggambarkan fase pertumbuhan setelah keterpurukan. Dalam psikologi positif, Martin Seligman menjelaskan bahwa manusia memiliki kapasitas untuk berkembang melalui hope (harapan), optimism (optimisme) , dan post-traumatic growth (pertumbuhan pasca krisis). Kondisi ini juga sejalan dengan firman Allah: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah…”. (QS. Az-Zumar: 53). Secara psikologis, harapan adalah bahan bakar utama untuk bangkit dari kelelahan. Maka seseorang harus punya bahan bakar diri berupa rasa keimanan, keikhlasan serta keyakinan diri bahwa Allah Swt akan menolong umatnya yang berikhtiar maksimal dalam menggapai kesuksesan hidup dan keridhaan Allah Swt.
Cah Angon: Self-Leadership dan Tanggung Jawab Diri
Lirik “cah angon” (anak penggembala) melambangkan manusia sebagai pemimpin atas dirinya sendiri. Dalam teori “self-leadership”, individu dituntut untuk mampu dalam mengelola emosi, mengarahkan tujuan hidup, dan bertanggung jawab atas pilihan. Konsep ini selaras dengan teori “locus of control” dari Julian Rotter, bahwa individu yang sehat secara mental cenderung memiliki “internal locus of control”, yaitu merasa memiliki kendali atas hidupnya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa kesehatan mental juga terkait dengan kemampuan seseorang mengelola amanah dirinya sendiri. Maka penting bagi seseorang untuk meneguhkan dirinya adalah sebagai khalifah di muka bumi, minimal menjadi pemimpin yang Amanah untuk diri dan keluarganya, dan beberapa diri mendapatkan Amanah sebagai pemimpin umat, baik dalam konteks kenegaraan, kedinasan maupun organisasi kemasyarakatan.
Mendaki Jalan Licin: Resiliensi dalam Tekanan Hidup
Lirik “penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno” (panjatlah meski licin) menggambarkan perjuangan yang tidak mudah. Dalam teori “resiliensi”, Ann Masten menyebut resiliensi sebagai “ordinary magic”, yaitu kemampuan biasa yang dimiliki manusia untuk bertahan dalam kondisi sulit. Sementara Albert Bandura menekankan pentingnya “self-efficacy” (keyakinan pada kemampuan diri) dalam menghadapi tantangan. Al-Qur’an menegaskan: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286). Artinya, setiap “jalan licin” yang kita hadapi masih berada dalam batas kemampuan kita untuk mengatasinya.
Dodotiro Kumitir: Regulasi Diri dan Perbaikan Diri
Lirik “dodotiro kumitir, bedah ing pinggir” menggambarkan pakaian yang robek, simbol kondisi diri yang mulai rapuh. Dalam psikologi, ini terkait dengan “self-awareness” (kesadaran diri) dan “self-regulation” (pengelolaan diri). Daniel Goleman menekankan bahwa kemampuan mengenali dan memperbaiki diri adalah inti dari kecerdasan emosional. Islam juga mengajarkan evaluasi diri: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18). Proses memperbaiki “pakaian yang robek” adalah metafora dari proses healing dan refleksi diri.
Keseimbangan Sosial dan Dukungan Emosional
Lirik “yo surako surak hiyo” mencerminkan kebersamaan dan dukungan sosial. Dalam psikologi, dukungan sosial adalah faktor penting dalam kesehatan mental.
Abraham Maslow menempatkan kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki (belongingness) sebagai kebutuhan dasar manusia. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai dan menyayangi seperti satu tubuh…” (HR. Muslim). Dukungan sosial membantu seseorang dalam mengurangi stress, meningkatkan resiliensi, dan mempercepat pemulihan emosional
Penutup: Lir Ilir sebagai Narasi Penyembuhan Jiwa
Lir Ilir bukan sekadar lagu, tetapi peta psikologis perjalanan manusia yaitu dari lelah menuju bangkit, dari putus asa menuju harapan dan dari rapuh menuju pulih. Ia mengajarkan bahwa kelelahan adalah bagian dari proses, harapan harus terus dijaga dan bangkit adalah pilihan yang harus diupayakan. Sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka (seraya berkata): janganlah kamu takut dan jangan bersedih hati…” (QS. Fussilat: 30). Pada akhirnya, resiliensi bukan tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang selalu memilih untuk bangun kembali, lir ilir bermakna bangkitlah jiwa yang lelah. Maka seseorang harus dinamis, adaptif dan solutif dalam kehidupan ini. Wallahu a‘lam bish-shawab.