ANAK DAN TABUNGAN KITA

1. Anak dan Tabungan Kita 23 Juli 2025 Cover Artikel 2025 Masnawati Yusiyanto

metrouniv.ac.id – 23/07/2025 – 27 Muharram 1447 H

Masnawati ali  Yudiyanto (Ketua DWP UIN Jurai Siwo Lampung)

Dalam sebuah bukunya,  Abdullah hadrami menceritakan,  suatu hari seorang anak sedang dirundung masalah dan menceritakan masalahnya pada ayahnya, kemudian ayahnya mendengarkan dengan seksama. Tak berapa lama,  ayahnya mengambil segenggam garam dan menyuruh anaknya mengambil segelas air, setelah itu garam ditaburkan pada segelas air kemudian diaduk perlahan. Lalu ayah menyuruh anaknya untuk meminum air itu dan bertanya, “Bagaimana rasanya nak?”. Anaknya menjawab, “Asin sekali rasa air ini”. Lalu ayahnya tersenyum dan mengajak anaknya menuju sebuah telaga.  Sampai di tepi Telaga, ayah kembali menaburkan garam ke telaga itu kemudian mengaduknya dengan sepotong kayu. Kemudian ayah berkata lagi pada anaknya, “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah”.  Pada saat anak meneguk air itu ayahnya bertanya, “Bagaimana rasanya?”.  Anaknya menjawab,  “Segar sekali”, sahut anak.  Lalu ayah bertanya lagi, “Apakah kamu merasakan asin di dalam air itu?”.  “Tidak ayah”, jawab anaknya. Ayah lalu berkata, “Wahai anak ku dengarkan baik baik, problem dalam kehidupan adalah layaknya segenggam garam ini, semua sangat tergantung dari wadah yang kita miliki, bahagia dan sedih itu mengikuti perasaan tempat kita meletakannya, karena itu dada kita harus lapang dalam menjalani hidup ini”.

Ayah, bunda semuanya, bertepatan dengan peringatan hari anak nasional ini,  hikmah yang bisa kita petik adalah betapa pentingnya kedekatan hubungan antara orangtua dengan anak anaknya, agar ketika anak sedang merasa sedih, kecewa maka  orangtuanyalah yang menjadi rujukan bagi mereka.

Sungguh, kehidupan kita dan anak anak kadang seperti pusaran nasib yang sedang dipergilirkan. Saat mereka lahir, mereka benar benar memerlukan kita, sangat tergantung pada kita bahkan sampai usia mereka bertambah. Akan tetapi  semakin terus  bertambahnya usia, maka semakin berkuranglah ketergantungan mereka pada kita.  Bahkan saat usia mereka menginjak remaja,  posisi kita semakin lemah karena mereka terkadang  lebih mendengarkan temannya daripada orang tuanya sendiri, bahkan kata kata orangtua tak lagi berharga kecuali bila kita sudah MENABUNG kedekatan sejak mereka masih kecil.

Secara alamiah anak yang memasuki usia remaja memiliki kebutuhan eksistensi,  mereka ingin didengar, diakui, dihargai dan dipercaya. Mereka ingin menunjukkan bahwa dirinya memiliki kemampuan dan hak menentukan. Mereka akan berontak dari orangtua kecuali jika orangtuanya telah MENABUNG kredibilitas, kepercayaan terhadap itikad baik dan ketulusan di mata anak anaknya.

Karena itu ayah bunda semuanya, mari kita  evaluasi kembali,  seberapa banyak TABUNGAN kita selama ini pada anak anak?

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.