metrouniv.ac.id – 14/03/2026 – 24 Ramadan 1447 H
Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA. (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Puasa dalam Islam tidak hanya mengandung dimensi ibadah ritual, tetapi juga sarat dengan nilai pendidikan moral dan psikologis. Di antara sunnah yang dianjurkan dalam ibadah puasa adalah menyegerakan berbuka ketika waktu magrib telah tiba dan menunda makan sahur hingga mendekati waktu fajar. Sunnah ini tampak sederhana, namun di dalamnya terkandung pelajaran mendalam tentang keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam kehidupan manusia. Rasulullah ﷺ bersabda: “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”(HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadis lain disebutkan bahwa “Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dari perspektif psikologi spiritual, sunnah ini mengajarkan bahwa manusia perlu memahami kapan harus memenuhi hak dirinya, dan kapan harus menjalankan tanggung jawabnya. Nilai keseimbangan ini relevan dalam berbagai relasi kehidupan seperti hubungan suami-istri, orang tua dan anak, guru dan murid, dosen dan mahasiswa maupun relasi lainnya.
Hikmah Psikologis Menyegerakan Berbuka
Menyegerakan berbuka setelah menahan lapar dan dahaga sepanjang hari menunjukkan bahwa Islam mengajarkan pengakuan terhadap hak-hak manusia, termasuk hak tubuh untuk mendapatkan makanan dan energi kembali. Dalam psikologi, pemenuhan kebutuhan dasar manusia merupakan bagian penting dari keseimbangan emosional dan kesehatan mental. Menunda pemenuhan kebutuhan yang telah dihalalkan waktunya dapat menimbulkan tekanan psikologis yang tidak perlu. Karena itu, sunnah menyegerakan berbuka mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh menzalimi dirinya sendiri dengan menunda sesuatu yang telah menjadi haknya. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat ini memberi pesan bahwa menjaga diri dan memenuhi kebutuhan yang halal juga merupakan bagian dari tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri.
Hikmah Psikologis Menunda Sahur
Sebaliknya, menunda sahur hingga mendekati waktu subuh mengajarkan nilai kedisiplinan dan kesiapan menjalankan kewajiban. Sahur bukan hanya sekadar makan, tetapi juga menjadi bentuk persiapan fisik dan mental untuk menjalani ibadah puasa sepanjang hari. Dari perspektif psikologi perilaku, kebiasaan ini melatih seseorang untuk mengelola waktu, mengendalikan keinginan, dan mempersiapkan diri menghadapi tanggung jawab. Rasulullah ﷺ bersabda: “Perbedaan antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur.”
(HR. Muslim). Sunnah ini mengajarkan bahwa dalam menjalankan kewajiban, manusia perlu melakukan persiapan yang baik agar mampu menjalankannya dengan optimal.
Keseimbangan Hak dan Kewajiban dalam Kehidupan Keluarga
Nilai keseimbangan antara hak dan tanggung jawab yang tercermin dalam sunnah berbuka dan sahur juga sangat relevan dalam kehidupan keluarga. Dalam hubungan suami dan istri, Islam menegaskan bahwa keduanya memiliki hak dan kewajiban yang harus dipenuhi secara adil. Allah SWT berfirman: “Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.”(QS. Al-Baqarah: 228). Secara psikologis, hubungan yang sehat dalam keluarga akan terbentuk ketika masing-masing pihak memahami bahwa memberikan hak kepada pasangan sama pentingnya dengan menjalankan kewajiban terhadapnya. Ketika keseimbangan ini terjaga, hubungan keluarga akan diliputi rasa saling menghargai dan ketenangan batin.
Pendidikan Tanggung Jawab dalam Hubungan Orang Tua dan Anak
Hubungan antara orang tua dan anak juga mengandung prinsip keseimbangan yang sama. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, membimbing, dan memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Di sisi lain, anak juga memiliki kewajiban untuk menghormati dan berbakti kepada orang tua. Dalam psikologi perkembangan, hubungan yang dilandasi kasih sayang dan tanggung jawab akan membentuk kepribadian anak yang lebih stabil dan matang secara emosional. Dengan demikian, seperti halnya keseimbangan antara berbuka dan sahur, hubungan orang tua dan anak juga memerlukan keseimbangan antara hak yang diberikan dan tanggung jawab yang dijalankan.
Etika Relasi Sosial: Atasan-Bawahan, Guru-Murid, Dosen-Mahasiswa.
Nilai keseimbangan hak dan kewajiban juga penting dalam lingkungan sosial dan profesional, seperti hubungan antara atasan dan bawahan, guru dan siswa, atau dosen dan mahasiswa. Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa setiap posisi dalam kehidupan mengandung tanggung jawab moral. Seorang pemimpin memiliki kewajiban berlaku adil kepada bawahannya, sementara bawahan memiliki tanggung jawab menjalankan tugas dengan amanah. Dalam dunia pendidikan, guru dan dosen berkewajiban membimbing dan memberikan ilmu dengan penuh tanggung jawab, sedangkan siswa dan mahasiswa berkewajiban menghormati serta bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.
Filosofi Puasa sebagai Pendidikan Psikologis
Puasa bukan hanya ibadah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengajarkan bagaimana manusia mengelola dirinya dan hubungannya dengan orang lain. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Dari perspektif psikologi spiritual, ketakwaan yang dihasilkan dari puasa akan membentuk pribadi yang lebih sadar akan tanggung jawab, lebih menghargai hak orang lain, serta mampu menjaga keseimbangan dalam kehidupan sosial.
Akhirnya, mari kita mafhumi bahwa sunnah menyegerakan berbuka dan menunda sahur mengandung pelajaran yang sangat mendalam tentang filosofi kehidupan. Dari dua praktik sederhana ini, manusia belajar tentang pentingnya keseimbangan antara hak dan tanggung jawab. Sebagaimana tubuh memiliki hak untuk dipenuhi kebutuhannya ketika berbuka, manusia juga memiliki kewajiban untuk mempersiapkan diri menjalankan tugasnya sebagaimana ketika menunda sahur. Nilai ini dapat diterapkan dalam berbagai hubungan kehidupan dalam keluarga, pendidikan, maupun dunia kerja. Dengan memahami hikmah tersebut, puasa tidak hanya menjadi ibadah ritual tahunan, tetapi juga menjadi pendidikan psikologis dan spiritual yang membentuk manusia agar lebih adil, bijaksana, dan bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَادِلِينَ فِي أَدَاءِ الْوَاجِبَاتِ وَإِعْطَاءِ الْحُقُوقِ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الظَّالِمِينَ الَّذِينَ يُقَصِّرُونَ فِي حُقُوقِ غَيْرِهِمْ، وَاهْدِنَا لِلصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ.
Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang adil dalam menunaikan kewajiban dan memberikan hak-hak orang lain. Janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang zalim yang mengabaikan hak sesama, dan tunjukilah kami jalan yang lurus.” Amien ya Allah ya rabbal alamien.