Antara Jaran Goyang dan Pemilu

16elfan

 “Apa salah dan dosa ku sayang, cinta suci ku kau buang-buang, lihat jurus
yang kan ku berikan jaran goyang jaran goyang” itu merupakan cuplikan lirik
pada lagu “Jaran Goyang”. Lagu yang dinyayikan oleh artis dangdut koplo asal
Jawa Timur yang sedang hits di dunia permusikan Indonesia. Artis yang beken
dengan nama Nella Kharisma itu merupakan artis yang mempopulerkan lagu-lagu
Jawa, tidak jarang kita temua lirik-lirik yang dibuat dengan melibatkan
perasaan sampai kejadian-kejadian
 real lapangan.

Tidak dapat dipungkiri, selain suaranya merdu dan sedap di untuk didengar
telinga, neng Nella mempunyai paras wajah yang cantik, manis, muda, gemesin,
pokoknya menawan hati. Video clip lagu jaran goyang saat ini telah sukses
membuatnya cukup terkenal dikalangan remaja abad 20, vidio tersebut diputar dan
mendapatkan viewer sebanyak 68.847.275
di
 media Youtube. Bahkan viewer nya terus
merangkak naik sampai batas yang tidak diketahui kapan bakal berhenti
lantaran Nellalovers yang jumlahnya semakin bertambah.

Saking ngehitsnya dan memang enak didengar sampai-sampai saya sendiri pun
tiap hari memutar video clip lagu jaran goyang bisa sampai lima kali. Padahal
saya pribadi bukanlah tipikal orang yang hobi mendengarkan musik, lalu
bagaimana dengan mereka yang hobi dengan musik, terlebih lagi musik dangdut
koplo, bagaimana dengan mereka yang mengakuNellalovers, boleh jadi
dalam keseharianya tidak luput dari dengdang hokya..hokya..hokya..”
dan durasi nonton video Nella pasti lebih dari simpatisan
koploisme yang sementara. 

Cobalah membayangkan Kalau per-orang menonton sebanyak lima kali saja dan
jika yang menonton lewat Youtube sebanyak 13.769.455 orang, maka jumlah
penayangannya dapat mencapai 68.847.275
kali, bagaimana jika mereka menonton sepuluh kali, bakal kaya mendadak pihak
manajemen neng Nella.

Dari hasil amatan saya terhadap sample kejadian
yang telah saya alami dan dalami sendiri. Maka saya sebagai pengamat otodidak
menyimpulkan jurus jaran goyang sangat ampuh untuk membuat orang suka, mampu
mengubah seratus delapan puluh derajad, yang awalnya sinis menjadi penggemar
setia, bahkan dari yang rasis jadi ra-rasis. Itu semua baru sebatas lagu sudah
mampu menarik perhatian dan membuat banyak orang dengan sendirinya mendukung
neng Nella dalam perlombaanya dengan kakak Via Vallen di The 
D’ank ndut coplo of competition
…”acara apaan tuh… he he.

Benar atau tidak nya fakta jaran goyang itu bisa anda
selidiki sendiri, tapi yang pasti dengansong the “jaran goyang”
dengan genre dangdut koplo itu neng Nella mampu mendapatkan penggemar setia
yang banyak nya melebihi pendukung vokalis ternama Andika kangen yo
ben,
atau hampir menyamai artis fenomena macam Awkarin atau repper hip hop
young lex, Jiaah Swag, hu huu.

Berbicara dukungan menjadi hal yang sangat krusial,
mengingat sebentar lagi pemilukada tinggal menghitung hari, negara yang
demokrasi tentu akan melaksanakan pemilihan umum, sebagai inteprestasi pesta
demokrasi. Pertanyaannya, sudah sejauh mana persiapan dari negara untuk
melaksanakan pesta demokrasi, yang kemudian itu adalah sebuah ajang penentuan
pemimpin baru sebuah daerah, kota, sampai negara yang katanya demos
kratos 
dengan asas pancasilaSudah seberapa jauh kesiapan
yang telah dilakukan Paslon. Kok jauh, eh maksudnya sudah berapa banyak dana
yang terkumpul dari cukong pilkada, atau berapa jumlah money politic yang
akan didistribusikan.

Pemilu atau pilkada, alih alih sebagai pesta demokrasi
bagi rakyat, ternyata banyak ditemuai moment yang penuh dengan kepentingan,
ajang yang penuh intrik tipu-tipu, dan DDS (diam diam suap) atau saling
menjatuhkan satu yang lain. Disadari atau tidak, praktek yang seperti ini sudah
bukan menjadi rahasia umum, dan saat ini praktek yang demikian banyak pihak
yang mengamininya (baca melakukanya). Seperti gambaran pemilu di negeri ini
karena sudah menjadi lazim untuk dilakukan, seperti halnya air yang mengalir
dari hulu sampai hilir, dari tingkat pemilihan lurah sampai pemilihan kepala
daerah, pasalnya tidak akan luput dari tindakan-tindakan kotor. Benarlah apa
yang dikatakan kang Soe Hok Gie “bagiku politik adalah barang yang
kotor, lumpur-lumpur yang kotor namun jika tak bisa menghindarinya maka
terjunlah”

Terlepas dari itu semua, yang terpenting adalah perlu
peran cendekiawan untuk terjun dan menyadarkan, bahwa untuk membersihkan lumpur
politik di dalam lubangnya pasti akan sulit, maka generasi post modern jangan
malah ikut merapat dalam barisan intelek-intelek yang mendukung dan
membentengin paslon-paslon yang culas dan mengamini perbuatan-perbuatan kotor.

Jika saat kita masih menghendaki politik yang tidak
sehat, itu sama halnya kita melakukan jurus jaran goyang, yang dalam agama
sangat dilarang dan mendapat dosa.  Kemudian pratek pemilu yang harus nya
jadi perayaan demokrasi, maka harus dilakukan dengan benar, jika praktek kotor
tersebut banyak diamini semua paslon maka itu hanya sampul, dan bagiku pemilu
adalah candu jika tak mampu menghantarkan pada perubahan dan kemajuan.

Sementara itu bicara soal kejujuran dalam kancah
perpolitikan di negeri itu seperti ungkapan komika berambut kriting dari Medan
“SuudaahHH LAH..!” tandas Babe. Secara tersurat uangkapan itu mengandung maksud
sudah terlanjur kotor perpolitikan di negeri pertiwi atau secara tersirat
maksudnya sudahilah praktek politik yang demikan buruknya itu.

Kalau toh ada dua penafsiran dari ungkapan Babe Cabita
tak ubahnya dengan pemahaman yang sudah berkembang dikalangan masyarakat negeri
ini. Pihak kanan atau saya menyebutnya kelompok apatis berkata kalau politik di
negeri ini tidak akan bisa lepas dari politik kotor. Sebab prilaku KKN sudah
menjadi sistem yang begitu komplek dan menyeluruh sejak ranah pedesaan sampai
perkotaan bahkan sudah internasional. Kalau politik itu tidak bisa lepas dari
tindakan mencurangi dan dicurangi kebanyakan hanya dusta guna mendapatkan
keuntungan sendiri.

Sedangkan, pihak kiri atau kelompok optimis beropini
dan meyakini bahwa dunia perpolitikan di negeri ini mampu untuk berubah menjadi
politik yang bersih dan mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan
kelompok, golongan atau pribadi. Mereka terus berkoar-koar tidak lelah mengajak
serta menyadarkan lingkungannya baik dalam tulisan, lisan maupun perbuatan.

Dari dua paradigma yang berkembang, saya sebenarnya
lebih condong dengan pemikiran pihak kiri sebab akan mendorong pembangunan
negara ke arah yang lebih baik dan menyenangkan. Dari pada pemikiran pihak
kanan yang menyerah, kalau Wong Jowo ngomong “Maju ajur, Mundur Lebur” seolah
tidak ada pilihan. Namun hidup masih terus berjalan dan pasti akan ada masa
dimana “Habis Gelap Terbitlah Terang”, ini yang dituliskan dalam
sebuah buku karangan R.A Kartni pahlawan Emansipasi Wanita Indonesia.

Kendati demikian, saya tidak bisa menyalahkan pihak
kanan pasalnya memang secara realitas, dunia perpolitikan negeri ini berantakan
dan carut-marut, diperparah lagi dengan tindakan KKN yang terjadi dimana-mana.
Kalau di masyarakat pedesaan untuk pemilihan lurah saja, masing-masing paslon
memiliki team sukses yang bertugas membagikan money
politic
 dengan kedok undangan jamuan makan yang pulangnya diberi
pesangon berupa amplop atau beberapa bungkus rokok. Dan jeleknya lagi dalam
acara tersebut ada pembicaraan yang di sana bertujuan untuk menjelek-jelekan
paslon lawan. Seperti ini yang saya ingat “wes to pilih wonge dewe ae, seng
cedek seng penak, ketimbang wong liyo”.

Dalam cakupan yang lebih luas atau skala
nasional, money politic menjelma menjadi beragam bentuk dan
sebutan antara lain serangan fajar, serangan gula, serangan sembako, serangan
sapi, lima ratus ribu per KK, dan masih banyak lainya. Perihal inilah yang
telah menggurita dan membudaya dalam masyarakat sehingga tidak bisa disalahkan
para pihak apatis terhadap bersihnya dunia perpolitikan di negeri ini.

Namun tidak bisa di nafikan, jika ada beberapa orang
yang memiliki pandangan berbeda, meyakini bahwasannya dunia perpolitikan di
negeri ini akan bersih dari segala tindakan KKN dan sejenisnya. Karena semua
orang sah-sah saja dalam berargumen dan memiliki perbedaan pendapat.

Yang terpenting alam pemikiran jangan sampai teracuni,
meski lingkungan nya terlampau kotor. Menyambut pemilu yang akan datang kita
harus menggunakan pisau analisa syariah, yaitu pertama mana
yang banyak membawa maslahah dan kedua mana yang sedikit
mudharatnya. Itu yang harus di jadikan pilihan. Berusahalah jadi pencoblos yang
bijak dalam perkataan apalagi dalam perbuatan.

Penulis: Elvan Firmansyah

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.