ATEISME SAINS

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 21/02/2025 – 22 Sya’ban 1446 H

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

Beberapa waktu yang lalu Visiting Lecture IAIN Metro menghadirkan seorang akademisi dari Iran bernama Dr. Ghasem Muhammadi. Beliau berafiliasi dalam sebuah lembaga yang bernama The International Institut for Islamic Studies (IIIS), Qam Iran. Dalam diskusi bertajuk Islamic Philosophy and its Aplication in Higher Education, Ghasem menyampaikan tentang perlunya kembali mengakaji ulang studi Islam (Rethinking Islamic Studies). Kajian-kajian yang membahas tentang hubungan Islam dengan masalah politik, Islam dengan ekonomi, Islam dengan masalah sosial, Islam dengan sains, Islam dan filsafat, dan sebagainya perlu mendapatkan perhatian yang sangat serius dari para akademisi yang fokus pada kajian studi Islam.

Islam bukan agama yang berhubungan dengan ibadah semata (ibadah maghdhah), namun ajaran Islam juga harus diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan. Umat Islam perlu dan harus memahami ajaran Islam dengan baik hubungannya dengan berbagai aspek kehidupan. Berbagai lapangan kehidupan seperti politik, ekonomi, social budaya, filasafat, dan sains harus dapat dijelaskan dengan kacamata dan sudut pandang Islam. Sebagai agama yang memiliki pesan rahmat lil ‘alamin, segala aspek kehidupan tersebut harus dapat diberikan jawabannya oleh Islam. Dengan penuh keyakinan kandungan ajaran agama Islam ajarannya memiliki pembahasan dalam semua aspek lapangan kehidupan dimaksud. Hanya saja para ilmuwan muslim perlu  menjelaskan dan menarasikannya secara konseptual teoretik dan  argumentatif.

Salah satu yang secara khusus dibahas dalam diskusi tersebut misalnya soal hubungan Islam dengan Sains. Hubungan Islam dengan sains merupakan hubungan yang sangat dekat karena secara inhern ajaran Islam memiliki banyak pesan soal sains. Para saintis yang mempelajari Islam hubungannya dengan sains telah dengan meyakinkan membuktikan bahwa semua pesan-pesan Al-qur’an yang berhubungan dengan persoalan ilmu pengetahuan belakanga hari telah dapat dibuktikan, Misalnya pesan Al-Qur’an tentang tahap-tahap perkembangan janin sejak dibuahi hingga menjadi manusia sempurna dan siap dilahirkan, ternyata cocok dengan ilmu biologi modern (QS. Al- Mu’minun: 12-14).

Teori big bang (ledakan besar) yang menyatakan bahwa dahulu kala sekitar 13,8 Miliar tahun lalu, alam semesta ini merupakan satu  bintang besar yang satu utuh, namun kemudian meledak dan ledakannya kemudian melahirkan bintang-bintang dan planet-planet yang membentuk alam semesta seperti sekarang ini, maka jauh sebelum teori ini Al-Qur’an sudah menjelaskannya. (Lihat Al-Qur’an surat Al-Anbiya: 30). Penjelasan dalam Al-Qur’an bahwa ada bagian lautan yang terdiri dari air laut yang asin dan air tawar yang terpisah dan tidak bercampur ternyata secara kasat mata bisa dibuktikan adanya yaitu di Selat Gibraltar. “Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi” (QS.Al-Furqan: 53)

Satu sisi sains dapat memperkuat dan membawa kepada keyakinan tentang adanya Allah SWT, namun yang mengkhawatirkan sains juga bisa digunakan untuk membawa orang kepada anti Tuhan atau anti agama. Kekhawatiran itu sangat beralasan karena sekarang ini berkembang apa yang disebut dengan Ateisme Sains, yaitu  pandangan bahwa sains  dapat  digunakan untuk menolak keberadaan Tuhan dengan dasar-dasar argumentatifnya. Menurut penganut paham ini, keberadaan Tuhan adalah merupakan khayalan dan ilusi manusia karena Tuhan tidak dapat dibuktikan keberadaanya.

Sementara menurut para penganut ateisme sains, sains melakukan pengujian pada hal-hal yang diamatinya. Sains menjalankan pengujian  yang berarti kita bisa mendapatkan bukti keberadaan suatu benda. Bukti adalah contoh langsung yang dapat diamati mengenai keberadaan suatu benda. Mendapatkan contoh langsung yang dapat diamati mengenai eksistensi suatu benda lebih unggul daripada mempercayainya, sebab hal itu mengonfirmasi eksistensi benda tersebut, Karena itu, Atesime adalah pandangan dunia yang lebih baik (lebih cerdas, lebih rasional, lebih realistis), daripada agama.

Tidak mengherankan jika banyak ilmuwan yang kemudian mengamini pandangan ateisme sains tersebut. diantara mereka bukan orang-orang yang bodoh, namun terpelajar dan akademisi atau ilmuwan yang berpengaruh. Mereka sampai pada kesimpulan menihilkan Tuhan dan percaya bahwa alam semesta ini bisa lahir dari ketidakadaan (creatio ex nihilo) tanpa perlu ada kekuatan yang menciptakannya. Dengan pandangan ini sains digunakan untuk menguatkan pandangan bahwa alam semesta dan segala isinya ada dengan sendirinya tanpa ada campur tangan Tuhan. Dari sini kemudian  lahir para ateis.

Pada tataran inilah para akademisi muslim termasuk yang berada di pendidikan tinggi keagamaan perlu mengkaji ulang kembali hubungan Islam dengan sains. Mengintegrasikan Islam dengan sains sehingga sains dibingkai dan diilhami dengan nilai-nilai ilahiah. Sains yang dikembangkan adalah sains yang memperkuat keberadaan Allah SWT sebagai pencipta alam semesta. Sains yang semakin dapat mendekatkan manusia dengan penciptanya. Melahirkan ilmuwan yang setelah mengkaji dan meneliti, dengan kesadaran terdalamnya menyatakan “Ya Allah, sungguh Engkau tidak ciptakan segala sesuatu di alam semesta ini dengan sia-sia”. Wallahu a’lam bishawab.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.