metrouniv.ac.id – 01/04/2022
Dr. Sakirman, M.S.I (Dosen IAIN Metro. Pegiat Komunitas 3600)
Taqwim hijriah standar Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) menetapkan hari Jumat, 1 April 2022 bertepatan dengan 29 Syakban 1443 H. Dengan demikian, setelah matahari terbenam akan dilaksanakan pengamatan hilal di 101 lokasi yang tersebar di wilayah Indonesia. Hilal adalah bagian dari salah satu fase bulan berupa sabit tipis yang terbentuk pasca konjungsi sebelum matahari terbenam pada hari yang sama. Keberhasilan dalam mengamati hilal pada hari ke-29 tersebut menjadi tanda berakhirnya bulan hijriah yang sedang berjalan untuk berganti menjadi bulan yang baru. Atau justru menggenapkan bulan Syakban menjadi 30 hari, jika tidak terdapat laporan keberhasilan dalam mengamati hilal.
Peristiwa konjungsi terjadi pada Jumat, 1 April 2022 pukul 13:24 WIB. Meskipun posisi hilal masih berada di atas ufuk setelah matahari terbenam di wilayah Indonesia, ternyata jeda waktu antara terbenamnya matahari dan bulan tidak memberikan kesempatan bagi pengamat untuk dapat mengamati hilal. Melalui grafik yang diperoleh dengan memanfaatkan pendekatan fisis model matematis Kastner (1976) menunjukkan bahwa terlihat atau tidaknya hilal adalah hasil dari pertarungan antara kecerahan cahaya senja dengan kecerahan bulan. Setelah matahari terbenam yang ditandai dengan hilangnya piringan matahari di dekat ufuk, kondisi langit di bagian barat tidak langsung menjadi gelap seketika. Peristiwa hamburan cahaya matahari oleh partikel-partikel yang terkandung dalam atmosfer menjadikan langit dekat ufuk masih cukup terang sehingga mengalahkan kecerahan hilal. Pada saat yang sama, hilal sebagai salah satu dari fase bulan adalah objek yang redup dan tipis. Untuk dapat mengamati hilal, posisi bulan harus cukup tinggi di atas ufuk yang akan menempatkannya di bagian langit sore yang relatif gelap, karena jauh dari hamburan cahaya senja yang berlebih.

Gambar 1. Kondisi kecerahan langit senja dan bulan
Gambar 1 di atas memperlihatkan pertarungan anatara kecerahan cahaya senja dengan kecerahan bulan. Kecerahan bulan di Merauke (kurva merah), Sabang (kurva kuning) dan langit senja (kurva biru) dinyatakan dalam satuan magnitudo per detik busur kuadrat. Menggunakan bantuan perangkat lunak MoonCalc versi 6.0 dapat diketahui momentum matahari terbenam pada Jumat, 1 April 2022 di Merauke terjadi lebih awal yaitu pukul 17:43 WIT sedangkan di Sabang terjadi lebih akhir yaitu pukul 18:48 WIB. Terbanamnya matahari bertepatan dengan kedalaman pusat piringan matahari sekitar 10 di bawah ufuk arah barat. Momentum ini, hingga saat pusat piringan matahari berada di kedalaman 60, akan terjadi senja sipil yang ditandai dengan aktivitas di luar rumah masih dapat dilakukan tanpa bantuan sumber cahaya buatan karena kondisi di luar masih cukup terang akibat pencahayaan alamiah, kemudian akan berlanjut dengan senja nautikal, senja ini berakhir ketika pertemuan antara ufuk dan langit saat membedakan batas tepi laut tidak dapat dikesani lagi. Hilal akan menyusul terbenamnya matahari pada pukul 17:49 WIT di Merauke dan pukul 18:58 WIB di Sabang. Hal ini berarti bahwa tersedia jendela waktu pengamatan selama 6 menit di Merauke dan 10 menit di Sabang yang dapat dimanfaatkan oleh para pengamat untuk berkesempatan mengamati hilal sebagai penentu awal Ramadan 1443 H.
Berdasarkan perhitungan model matematis Kastner, selama jendela waktu tersebut kecerahan bulan selalu bernilai lebih besar daripada kecerahan langit senja. Dalam astronomi, semakin besar nilai numerik dari besaran fotometri seperti kecerahan, semakin redup sumber tersebut. Artinya, selama jendela waktu yang tersedia bulan kalah terang dari langit senjanya. Hal ini berimplikasi pada prediksi bahwa hilal tidak akan dapat diamati menggunakan mata telanjang setelah matahari terbenam pada Jumat, 1 April 2022. Akan timbul pertanyaan, bagaimana jika para pengamat berbekal alat bantu optik seperti binokular maupun teleskop? Berdasarkan perhitungan model matematis Kastner, dengan mensimulasikan penggunaan teleskop pembias berdiameter objektif 66 mm yang tersusun atas 3 lensa (6 permukaan) dengan kondisi transmisivitas yang baik (0,95) diasumsikan lensa teleskop bersih dari debu dan jamur serta menghasilkan perbesaran sudut sebesar 50x. Tepat pada saat matahari terbenam, nilai visibilitas dengan berbantuan teleskop bernilai +1,5 di Merauke dan +2,0 di Sabang. Hal ini menunjukkan bahwa hilal berada di atas ufuk namun tergolong sulit untuk dapat diamati oleh pengamat. Terlebih jika kondisi cuaca tidak bersahabat; tertutup awan, mendung, hujan, dan topografi di lokasi pengamat tidak memadai. Penggunaan teleskop dengan perbesaran sudut tertentu sebagai alat bantu memang akan memperbesar bayangan hilal, namun karena hilal adalah objek yang redup dan tipis serta berlebihnya distribusi cahaya senja, maka dapat menjadikan cahaya hilal semakin redup. Konsekuensinya adalah kecerahan hilal yang kecil tersebut akan disebarkan ke bayangan yang berukuran menjadi lebih besar daripada semula. Imbasnya, kecerahan akhir hilal tetap kalah dibandingkan langit senja. Apakah prediksi model matematis Kastner yang dihasilkan ini sejalan dengan prediksi model lain?

Gambar 2. Prediksi visibilitas hilal model Odeh
Gambar 2 memperlihatkan peta visibilitas hilal di seluruh dunia pada Jumat, 1 April 2022, dengan rentang nilai lintang geografis 600 LU hingga 600 LS, yang diperoleh menggunakan perangkat lunak Accurate Times. Pada gambar tersebut terlihat bahwa di seluruh wilayah Indonesia bersama dengan Australia, seluruh Asia dan Eropa berada di kawasan berwarna putih yang menandai bahwa wilayah tersebut tidak dimungkinkan untuk dapat melihat hilal, baik dengan bantuan alat terlebih lagi bila hanya mengandalkan modus pengamatan mata telanjang. Kawasan yang dimungkinkan untuk dapat mengamati hilal hanya dengan bantuan teleskop adalah yang diarsir dengan warna biru, yang meliputi sebagian Afrika, sebagian Amerika Utara dan Amerika Selatan. Kawasan berwarna magenta untuk mereka yang dapat mengamati hilal dengan mata telanjang hanya jika kondisi atmosfer sangat bagus, sedangkan warna hijau untuk kawasan yang dapat dengan mudah mengamati hilal menggunakan mata telanjang. Dengan demikian, prediksi yang dihasilkan menggunakan model matematis Kastner bersesuaian dengan prediksi model Odeh. Menurut model Shaukat yang dibangun dengan memanfaatkan laporan keberhasilan dan ketidakberhasilan mengamati hilal juga memberikan kesimpulan yang sama.

Gambar 3. Prediksi visibilitas hilal model Shaukat
Jika prediksi yang disampaikan di atas benar, apakah umat Islam Indonesia akan menggenapkan bulan Syakban menjadi 30 hari dan baru akan melaksanakan ibadah puasa pada hari pertama di bulan Ramadan 1443 H bertepatan pada hari Minggu, 3 April 2022? Menurut perhitungan matematis model Kastner, untuk lokasi pengamatan hilal pada saat matahari terbenam di Merauke hilal berada pada ketinggian 1,20 dari batas ufuk dengan elongasi 2,80. Sedangkan di Sabang hilal berada pada ketinggian 2,20 dengan elongasi 3,40. Nilai-nilai tersebut belum melampaui syarat minimum kriteria baru MABIMS yang diimplementasikan mulai 22 Februari 2022 melalui surat edaran Dirjen Bimas Islam. Kriteria baru MABIMS tersebut telah disepakati oleh forum menteri agama lintas negara yaitu Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura yang mensyaratkan ketinggian hilal minimal 30 dan elongasi 6,40.
Pusat piringan bulan dari ufuk pada Jumat petang, 1 April 2022 ketika matahari terbenam di Indonesia merentang pada ketinggian 1,50 – 2,20 diawali dari Merauke kawasan timur Indonesia yang berkesempatan mengamati hilal paling awal dan diakhiri di Sabang kawasan barat Indonesia yang berkesempatan mengamati hilal paling akhir. Sedangkan nilai elongasinya merentang mulai 2,90 – 3,50. Ketinggian hilal di Indoensia telah memenuhi syarat untuk kriteria Wujudul Hilal yang digunakan oleh Muhammadiyah. Kriteria Wujudul Hilal mensyaratkan; telah terjadi konjungsi sebelum matahari terbenam dan posisi bulan berada di atas ufuk (hilal sudah wujud), maka ketinggian hilal telah memenuhi kriteria bulan baru. Dengan demikian menurut kriteria Wujudul Hilal, ibadah puasa hari pertama akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 2 April 2022.
Bagaimana dengan kriteria Imkan Rukyah yang digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU)? Berdasarkan Surat Keputusan Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, kriteria Imkan Rukyah NU mulai diterapkan pada awal Ramadan 1443 H yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 30 dan elongasi 6,40. Kriteria Imkan Rukyah NU digunakan sebagai dasar verifikasi keberhasilan rukyatul hilal. Jika menurut perhitungan posisi hilal tidak dapat dirukyat maka hasil rukyat pun ditolak. Hasil Muktamar NU ke-34 di Lampung, merumuskan tiga kategori posisi hilal yang dijadikan pijakan kaum nahdliyin, yaitu istihalah ru’yah (hilal sudah wujud namun tidak bisa dilihat), imkan al-ru’yah (hilal sudah wujud dan memungkinkan bisa dilihat), qathiy al-ru’yah (hilal sudah wujud dan dipastikan bisa dilihat). Tujuan utama rukyatul hilal adalah memastikan terlihatnya hilal. Jika menurut perhitungan posisi hilal dipastikan tidak mungkin terlihat, maka bulan berjalan digenapkan 30 hari.
Potensi keberhasilan melihat hilal pada Jumat petang, 1 April 2022 sangat kecil bahkan mustahil hilal dapat dilihat. Berdasarkan perhitungan posisi hilal masuk pada kategori istihalah ru’yah, hilal tidak bisa dirukyat meskipun posisinya masih berada di atas ufuk setelah matahari terbenam. Jika terdapat laporan kesaksian melihat hilal dari salah satu titik lokasi pengamatan di wilayah Indonesia, sangat dimungkinkan kesaksian pengamat yang telah bersaksi melihat hilal akan ditolak pada sidang isbat. Jika dikaitkan dengan potensi keberhasilan rukyatul hilal yang dipedomani NU melalui kriteria Imkan Rukyah dengan mengacu syarat minimum kriteria baru MABIMS, maka bulan Syakban 1443 H akan digenapkan menjadi 30 hari. Dengan demikian awal Ramadan 1443 H menurut kriteria Imkan Rukyah NU dan kriteria baru MABIMS bertepatan pada hari Minggu, 3 April 2022. Ini hanya sebuah prediksi, awal Ramadan 1443 H Sabtu atau Minggu akan ditetapkan melalui sidang isbat yang dipimpin langsung oleh Menteri Agama sebagai pemegang otoritas tunggal. Tabik!