BEBAN LULUSAN PENDIDIKAN TINGGI

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 24/02/2025 – 25 Sya’ban 1446 H

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

Pagi kemarin waktu di Yogya, saya dan istri mencari sarapan pagi. Pada suatu tenda di trotoar kaki lima nampak ramai datang silih berganti  orang-orang yang sarapan. Apa menunya? Di tenda lusuhnya tertulis Soto Pak Min. Sarapan soto berkuah segar di pagi hari adalah pilihan yang menggugah selera. Sayapun kesana dan memesan dua mangkok soto untuk kami berdua. Soto segar hangat di pagi hari ditambah gorengan tempe dan  sate jeroan serta usus goreng, plus segelas teh manis hangat. Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan. Enak sekali, pantas warung soto tenda ini sangat ramai sekali. Kata orang Yogya, kuliner di Yogya itu rasanya Cuma dua: Enak dan Enak Sekali.

Nah, di sela-sela menikmati soto itulah, lamat-lamat terdengar obrolan sana-sini di bawah tenda soto. Sambil menyeruput kuah soto, saya menyimak dan mendengar apa yang mereka bicarakan. “Nguping” bahasa lainnya. Tiga orang meriung soto, dua laki-laki dan satu perempuan. Melihat raut mukanya sudah dewasa dan lulus sarjana, berbicara soal keresahan hidup mencari pekerjaan dan usaha menciptakan lapangan kerja yang tidak kunjung berhasil. Kalau sudah berhasil mungkin mereka tidak lagi ngobrol di tenda kaki lima, tetapi di café yang sejuk full wifi atau di restoran hotel.

Menarik apa yang mereka resahkan dan bicarakan. Sampai pada satu kalimat yang mereka ungkapkan, kalau orang hanya lulus SMA, SMP atau SD atau tidak punya ijazah, akan lebih ringan dalam mencari kerja dan memilih pekerjaan.  Mereka tidak akan memilih-milih pekerjaan mana yang akan dilakukan. Beban psikologis dan sosialnya lebih ringan. Sementara kita yang lulus sarjana atau bahkan magister memiliki beban psikologis dan sosial yang lebih berat dalam mencari kerja. Apalagi kalau sarjana dan magister itu luntang-lantung menjadi pengangguran.  Berat sekali beban itu ditanggung para alumni S1 dan S2. Itulah problem pendidikan kita di Indonesia ini.

Mungkin yang dimaksud dengan problem pendidikan di Indonesia dari para “nara sumber” di bawah tenda soto dimaksud adalah pendidikan tidak selalu menjamin lulusannya dengan mudah mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidang keilmuannya. Pendidikan tinggi tidak menjamin suatu kehidupan yang lebih layak. Apakah keresahan mereka di kaki lima ini adalah keresahan yang dialami oleh banyak lulusan pendidikan tinggi ?. Tentu saja ini perlu diverifikasi. Satu sampel rasanya belum cukup mewakili. Namun karena ini faktual, tentu saja juga tidak boleh diabaikan begitu saja. Jangan-jangan keresahan ini adalah umum terjadi diantara para lulusan pendidikan tinggi.

Kita bisa memahami betapa berat beban mental dan sosial yang diarasakan oleh para sarjana dan magister yang telah lulus studi namun belum juga memperolah pekerjaan yang sepadan dengan ijazah yang dimilikinya. Mungkin benar juga penilaian mereka bahwa lebih enak lulusan SD atau SMP yang tidak perlu menyepadankan bidang pekerjaannya dengan ijazahnya, sehingga pekerjaan apapun, halus atau kasar dapat dilakukan. Namun, apa juga salah jika lulusan sarjana atau magister ikut berjibaku di bidang pekerjaan yang hanya memerlukan otot dan tenaga? Diskusinya bisa menjadi panjang dan tanpa kesimpulan. Karena ini mengenai beban rasa dan psikologis , citra sosial dan tuntutan kebudayaan masyarakat yang tidak sederhana. Pengangguran Berdasi, terngiang-ngiang di telinga.

Obrolan ringan di warung soto itu untuk mengingatkan kita semua bahwa keterhubungan pendidikan dengan dunia kerja adalah keniscayaan. Kurikulum pendidikan , khususnya pendidikan tinggi harus didesain untuk bisa menjawab kebutuhan dunia kerja. Lebih dari itu semua, pemerintah memiliki tanggungjawab untuk menyediakan lapangan pekerjaan sehingga terjadi keseimbangan antara jumlah lulusan dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Mendorong lulusan untuk berwirausaha mandiri supaya mereka bisa menciptakan lapangan pekerjaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak ada salahnya.  Namun kenyataannya, hanya sebagian kecil lulusan yang mentas berwirausaha. Tetap saja, sebagian besarnya berharap mendapatkan pekerjaan yang diidam-idamkan. Jika itu tidak, maka para lulusan ini akan mengalami penderitaan psikologis dan sosiologis seperti yang mereka rasakan saat ini.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.