Sebagai bangsa
yang lahir dari perjuangan panjang akibat imperialisme yang dilakukan bangsa
lain, tentu Indonesia mempunyai cukup pengalaman tentang bagaiamana bangsa imperialis
dapat bertahan lama menjajah Indonesia. Jika ada yang mengatakan bahwa bertahanya
para imperialis di Indonesia akibat dari rendahnya penguasaan teknologi militer
Indonesia dibandingkan dengan negara imperialis, itu benar namun tidak
sepenuhnya benar.
Lamanya imperialisme
bertahan di Nusantara ini juga dipengaruhi adanya penguasaan psikologis yang
dilakukan terhadap rakyat Indonesia. Penguasaan psikologis ini menyerang pola
pikir masyarakat Indonesia dengan selalu membuatnya percaya bahwa bangsa
berkulit putih (bangsa kolonialis) lebih baik sistem tatanan rumah tangganya
dibandingkan dengan pribumi.
Dilansir dari
berdikari online, bahwa bangsa imperialis kala itu selalu menanamkan pikiran
bahwa bangsanya lebih unggul dan lebih baik dibandingkan pribumi. Ternyata,
penguasaan psikologis semacam itu mampu mempengaruhi sebagian besar rakyat pribumi.
Bangsa imperialis
menggunakan politik pecah belah dan menguasai, kemudian membiarkan masyarakat
pribumi berada pada posisi dungu dan tidak berpengetahuan, dan melayangkan
gagasan bahwa bangsa kulit putih lebih unggul dibandingkan pribumi (menumbuhkan
mental inferior pada pribumi), dan politik asosiasi atau kolaborasi.
Empat macam
politik yang diterapkan bangsa imperialis dan dipercayai rakyat pribumi inilah
yang kemudian mendukung lamanya dia berada dinusantara. Walaupun demikian, Bung
Hatta yang juga merupakan bapak bangsa tidak kemudian berdiam diri. Untuk
menangkal empat politik yang diusung imperialis, Bung Hatta juga memiliki
strategi untuk mengatasi itu semua.
Untuk melawan
politik pecah belah dan menguasai, Bung Hatta gencar mempropagandakan
persatuan. Dengan organisasi Perhimpunan Indonesia (PI), melahirkan banyak
tenaga penting dalam hal mempropagandakan persatuan di Indonesia. Akibat
propaganda persatuan yang gencar dlakukan akhirnya memicu organisasi-organisasi
yang sifatnya kedaerahan meleburkan diri kedalam Indonesia Muda (IM) pada tahun
1930.
Bung Hatta
selalu menekankan bahwa penggerak persatuan jangan pernah lelah
mempropagandakan persatuan dan tidak lelah dalam menjahit persatuan bangsa
Indonesia.
Untuk melawan
kedunguan dan ketidaktahuan pribumi. Bung Hatta menyarankan adanya
pemberantasan buta aksara. Mengingat tanpa adanya kemampuan beraksara, maka
akan terkendala dalam menyerap semua ilmu pengetahuan. Oleh karenanya, Bung
Hatta mencetuskan adanya Sekolah-sekolah Tinggi Rakyat yang akan mengajarkan
tentang sejarah, ekonomi, politik dan lain-lain dengan metode pengajaran yang
mencerdaskan, membebaskan dan memerdekakan.
kemudian,
menurut Bung Hatta harus ada self
reliance (percaya kepada kekuatan sendiri) dan tidak merasa rendah diri di hadapan
bangsa lain. sikap ini sangat membantu dalam melawan penguasaan psikologis yang
dilakukan oleh bangsa imperialis. Mengingat pada waktu itu, bangsa imperialis
sangat gencar membuat keyakinan bahwa pribumi tidak memiliki kemampuan dalam memimpin
dan mengatur rumah tangga bangsanya sendiri. Dan banyak masyarakat pribumi yang
terpengaruh dengan hasutan semacam itu.
Atas kejadian tersebut,
Bung Hatta beranggapan bahwa perlu untuk disalurkan semangat self reliance dan self help. Di bidang politik melakukan tindakan non-kooperasi (tidak
bekerjasama dengan kolonial) dan di bidang ekonomi menciptakan koperasi
(ekonomi rakyat).
Self help ini dapat dicontohkan kepada
gerakan yang dilakukan oleh Mahatma Ghandi di India. Dimana ia mengajak
masyarakat Inda untuk menggunakan hasil produksi bangsanya sendiri. Sedangkan self help di Indonesia dapat dilakukan
dengan menciptakan koperasi-koperasi yang dirasa cocok untuk bangsa Indonesia
yang memiliki budaya gotong royong.
Selanjutnya, Bung Hatta menekankan
kepada kaum pergerakan untuk menolak politik asosiasi. Karena baginya, politik
asosiasi ini hanyalah rayuan semata, dimana mengalihkan dan mengganggu konsen
gerakan rakyat Indonesia untuk menuju cita-cita kemerdekaan. Karena, dalam
politik asosiasi tersebut dikatakan bahwa Indonesia dan Belanda tidak mengalami
pertentangan kepentingan, namun memiliki kepentingan bersama. Meski belum jelas
mana yang dimaksud dengan kepentingan bersama tersebut.
Apakah imperialis sudah berhenti
sejak Bung Karno dan Bung Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada
1945? Tentu tidak.
Saat ini, imperialis hadir dengan
wajah yang cukup manis dan sikap yang lebih santun, hingga mampu menyentuh hati
masyarakat pribumi. Imperialis modern bergerak bukan di wilayah fisik, namun di
wilayah hegemoni ekonomi dan hegemoni budaya. Itu yang saat ini sangat
menonjol.
Dimana ajaran-ajaran barat (kapitalis)
di bidang ekonomi jauh lebih dikembangkan dibandingkan dengan ajaran ekonomi
bangsa Indonesia yang bersikap koperasi. Sehingga, mampu menguasai psikologis
masyarakat bahwa produk supermarket dan minimarket lebih higenis dan lebih
bergengsi dibandingkan produk UMKM.
Hegemoni budaya asing juga masih
kerap kita jumpai melekat pada masyarakat pribumi. Dimana mereka masih ada yang
menganggap budaya asing lebih bergengsi dan lebih modern dibandingkan dengan
budaya bangsa sendiri.
Jangan sampai penguasaan terhadap
psikologis kembali terjadi seperti saat negara imperialis pertama datang ke
Indonesia pada waktu itu. (WEPO)