Siapa yang tidak kenal dengan tokoh yang satu ini? Ya,
rasanya memang semua sudah mengenal atau bahkan memiliki hubungan baik dengan
tokoh yang belum jelas apakah dia protagonis atau justru antagonis ini. Malas. Namun
bagi kebanyakan orang, malas berperan penting terhadap aktivitas kehidupan
sehari untuk tidak melakukan apa-apa.
Malas sebenarnya merupakan permasalahan yang serius,
apabila terus-menerus dibiarkan maka tingkat kemalasan akan meningkat seiring
berjalannya waktu dan hal tersebut tentu saja menjadi salah satu faktor
penghambat mandeknya aktivitas dalam
rangka menciptakan sesuatu.
Kenapa rasa malas muncul dengan tawaran yang
menggiurkan hingga akhirnya membuat siapapun gandrung dengannya? Kenapa juga hubungan baik dengan rasa malas
senantiasa terjalin hingga enggan melepaskan jabatan tangan dengan kemalasan
itu sendiri?
Ya, jawabannya adalah karena asal-muasal rasa malas itu
sendiri. Berdassarkan informasi dari peneliti Live Science, rasa malas muncul karena terjadinya gangguan otak. Pemindaian
otak dengan Magnetic Resonance Imaging menunjukkan
bahwa ketika orang memtuskan untuk melakukan sesuatu, korteks pra-motor akan
menyala sebelum titik lain di otak menjadi aktif untuk menentukan gerak.
Akan tetapi hasil sken orang yang malas, korteks
pra-motor tersebut tidak menyala sama sekali karena koneksinya terputus. Hal inilah
yang dijadikan dasar asumsi para peneliti atas munculnya rasa malas untuk do something bagi seseorang. Studi lain
dalam Jurnal Cerebral Cortex tahun
2012 menjelaskan bahwa tingkat
kemalasan seseorang dipengaruhi oleh kadar dopamin di otak.
Sampel dari seorang pekerja keras ternyata menunjukkan
jumlah dopamin yang tinggi di dua area otak yang memainkan peran penting dalam
motivasi dan penghargaan.
Tips
melepas jabatan tangan dengan kemalasan
Rasa malas sebenarnya sama sekali tidak boleh
dibiarkan. Semakin lama proses pembiaran itu terjadi maka akan berdampak buruk
bagi tingkat produktivitas serta terbengkalainya banyak aktivitas. Berikut merupakan
beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa
malas.
Tanyakan
apa yang salah
Biasanya rasa malas muncul ketika kita diharuskan
melakukan sesuatu yang tidak kita sukai. Tanyakan apa yang salah pada diri kita
sehingga tidak menyukai hal tersebut, bandingkan dengan orang lain yang
menyukai dan bisa melakukan hal tersebut. Apa yang ingin saya lakukan? Apa yang
salah dalam diri saya sihingga tidak menyukai hal ini?
Tanya
kenapa?
Mungkin hal ini sepele akan tetapi tanya kenapa? Merupakan
salah satu cara untuk memproduksi dopamin dalam otak. Maksudnya seperti ini,
ketika kita sedang bergumul dengan kemalasan, tanyalah “Kenapa?” kepada diri
kita sendiri. Kenapa kita malas? Kenapa kita harus menyelesaikan skripsi? Kenapa
saya harus belajar ini? Kenapa saya dulu memilih bekerja disini?
Gaungkan pertanyaan-pertanyaan tersebut pada diri kita
sendiri. Otak akan bekerja secara otomatis untuk menemukan jawaban dari segenap
pertanyaan tersebut. Hal tersebut tentu akan meningkatkan kadar motivasi diri
untuk senantiasa melaukan sesuatu.
Apa
yang harus saya lakukan?
Setelah otak secara otomatis memberikan gambaran dari
jawaban atas pertanyaan “Kenapa?” maka selanjutnya yang muncul adalah “Apa yang
harus saya lakukan?” apabila demikian berarti korteks pra-motor sudah mulai
menyala dalam otak. Dan otak akan secara otomatis pula mencarikan jalan keluar
untuk mecari jawaban dari pertanyaan “Apa yang harus saya lakukan?”
Mungkin mulai melakukan hal-hal yang ringan seperti
merapikan ruangan, bangun tepat waktu, berolahraga dan lain sebagainya yang sedikit-banyak
akan mempengaruhi motivasi diri untuk melakukan hal-hal baru menuju sebuah
perubahan.
Jika tidak demikian, berdiamlah. Maka kau akan berjabat
tangan dengan kemalasan. Selamanya!!!
Penulis: Julianto Nugroho