metrouniv.ac.id – 06/04/2022 _04 Ramadhan 1443 H
Dr. Siti Nurjanah, M.Ag. (Rektor IAIN Metro Lampung)
Ibarat proses terbentuknya seekor kupu-kupu, maka hari keempat puasa Ramadhan ini adalah proses pengendalian nafsu bukan mematikan nafsu. Kupu-kupu terbentuk dari wujudnya kepompong, yang mengalami metamorfosa sedemikian rupa. Di mulai dari upaya kupu-kupu dewasa menetaskan telur telurnya di atas daun dengan proses 3 sampai 5 hari. Dari telu-telur yang bisa dikeluarkan hingga ratus butir, ternyata tidak semua bisa menetas menjadi ulat. Telur yang sudah menjadi ulat itu mencari makanan sebanyak-banyaknya untuk melindungi dirinya agar dapat bertahan hidup, bahkan Sebagian ulat kulitnya sendiri dimakannya sebagai cara pertama yang ia lakukan. Setelah ulat merasa cukup untuk makan, makai a segera mencari tempat untuk menjadi sebuah kepompong. Pada fase menjadi kepompong ini berlangsung selama seminggu dan bahkan hingga bertahun-tahun sesuai dengan spesies kupu-kupunya. Dari kepompong menjadi seekor kupu-kupu indah yang menghiasi taman di sekeliling manusia dan menjadi pemandangan menarik karena rupanya yang berwarna warni.
Pelajaran yang dapat diambil dari proses berwujudnya seekor kupu-kupu adalah, bahwa untuk menjadi seorang hamba yang beriman dan bertaqwa kepada Allah itu harus mengikuti proses atau tahapan yang sistematis, bukan langsung jadi alias instan. Layaknya melaksanakan puasa di hari keempat ini adalah proses penempaan diri, mamaknai puasa dengan sesungguhnya, bukan hanya sekedar rutinitas yang tidak bermakna. Puasa Ramadhan ini adalah proses pengendalian nafsu bukan mematikannya. Artinya bahwa akal dan jiwa kita diajak untuk bisa menyeimbangkan antara fikir dan rasa. Menahan makan dan minum serta perbuatan yang dapat membatalkan puasa di siang hari dibutuhkan pengendalian nafsu maksimal, agar memperoleh esensi puasa itu sendiri. Ini adalah proses yang tidak ringan bagi seorang muslim yang masih menjalani puasa dalam kategori orang awam. Gangguan seringkali datang baik dari dalam diri kita maupuan dari luar.
Tahapan untuk mencapai derajat taqwa sebagaimana yang menjadi tujuan akhir pelaksanaan puasa adalah sebuah keniscayaan yang harus kita lalui. Oleh sebab ibu, tugas kita sebagai makhluk adalah melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larang-laranganNya. Semua ketentuan yang ditetapkan dalam pelaksanaan puasa harus kita jalankan sebagai proses mencapai tujuan puasa tersebut. Ada tiga (3) fase yang dilalui dalam bulan Ramdhan ini, yakni 10 hari pertama sebagai fase rahmat. Hari keempat ini masuk pada masa 10 hari dalam proses yang penuh rahmat, merupakan hari-hari penyesuaian lantaran dibutuhkan adaptasi. Peralihan dari kebiasaan pola makan normal menjadi harus menahan lapar dan haus mulai dari terbitnya matahari sampai terbenamnya matahari.
Hari keempat ini mulai kita rasakan perubahan dalam diri kita, yakni sudah mulai menikmati keadaan dengan sudah mulai terbiasa tidak makan dan minum di siang hari. Namun masih terasa berat, karena masih melakukan proses pengendalian nafsu dalam diri kita. Nafsu itu dikendalikan bukan dibunuh, karena manusia tetap membutuhkannya. Sebagai contoh, jika kita malas makan, maka dibutuhkan nafsu makan. Atau jika negara kita terancam oleh penyerangan dari luar, maka dibutuhkan nafsu amarah untuk menghadapi musuh tersebut. maka puasa sebagai kunci pengendalian nafsu, dan sebagai proses memberikan pelajaran kepada tubuh kita untuk menormalkan organ yang ada agar sirkulasi kehidupan dalam tubuh dapat terkontrol. Kita harus berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan di 10 hari pertama ini. Sebagaimana termaktub dalam firman Allah SWT pada QS Al-Zalzalah ayat 7 dengan terjemahnya “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”.
Makna yang terkandung dalam ayat tersebut, bahwa semua amal sekecil apa pun akan dilihat/diketahui dan dipertanggungjawabkan di hari kemudian. Oleh karena itu, sebaiknya kita selalu melakukan kebaikan dan berbuat amal baik sekecil apapun perbuatan baik itu. Sebalikya, jangan merasa aman jika melakukan perbuatan buruk atau amal buruk sekecil apapun karena tetap akan diketahui dan dipertanggung jawabkan (M. Quraish Shihab, Lentera Hati, 2021: 714). Ketika ayai ini kita sandingkan dengan pelaksanaan puasa di 10 hari pertama termasuk di hari keempat ini, maka meberikan pesan kepada kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan maksimal agar kita mendapatkan maksimal pula, karena sekecil apapun kebaikan pasti diketahui oleh Allah. Sebaliknya, sekecil apapun keburukan yang kita lakukan juga pasti diketahui oleh Allah SWT, meski kita ada di tempat tersembunyi sekalipun.
Memperhatikan hal-hal tersebut di atas, maka di hari keempat ini menjadi momentum penting untuk kelanjutan pelaksanaan puasa di hari hari berikutnya. Paling tidak 10 hari pertama sebagai fase penuh rahmat ini bisa kita laksanakan dengan baik sebagai bekal memasuki fase berikutnya yang akan penulis sampaikan pada pembahasan berikutnya. Semoga kita dapat melaksanakan puasa dengan baik sesuai dengan aturan yang ada. Ujian kesabaran dalam berbagai situasi dapat kita lalui dengan lancer dan sukses tanpa hambatan yang berarti. Puasa adalah menahan diri agar jiwa dapat tertata, meski terasa berat dan sulit itu pasti namun dapat dilalui dengan lapang dada. Waktu yang ada tidak mungkin kembali, maka kita harus bersiap melatih diri dengan seksama. Tunaikan tugas sesuai aturan, agar kita selamat sampai tujuan. Semangat menyelesaikan puasa hari keempat dengan optimis menggapai 10 hari pertama yang penuh rahmat.