Bersiap Menjalani Penempaan Diri (5) Puasa dan Pengawasan Internal

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 07/04/2022 _05 Ramadhan 1443 H

Dr. Siti Nurjanah, M.Ag. (Rektor IAIN Metro Lampung)

Hari kelima puasa Ramadhan 1443 H semakin terasa betapa syukur atas nikmatNya yang telah diberikan kepada kita dengan diberikan umur dan kesempatan menghirup udara segar menjalani ibadah yang mulia ini. Sedikit demi sedikit sudah mulai terbiasa dengan suasana tidak makan dan tidak minum di siang hari, meski tetap harus bekerja sesuai profesi kita sehari-hari. Masih dengan melaksanakan aktifitas di 10 hari pertama bulan Ramdhan yang penuh rahmat, kita terus harus bersyukur bahwa energi puasa membawa kita untuk terus semangat menapaki kehidupan. Kebiasaan baru pasca pandemi yang sudah melandai kita hadapi Bersama.

Syukur yang sangat nyata harus kita wujudkan adalah, bahwa Ramadhan tahun ini kita sudah  dengan longgarnya melaksanakan ibadah di area terbuka, karena kita sudah bisa shalat berjamaah di masjid, mushalla dengan leluasa, kita juga diberikan kelonggaran untuk melakukan aktifitas Bersama dengan tetap menerapkan protokol Kesehatan sesuai aturan yang berlaku. Apalagi baru saja Bapak Presiden Jokowi resmi mengumumkan cuti hari raya idhul fitri  1443 H dan cuti Bersama (Pidato Presiden, Rabu, 6 April 2022). Sebuah prestasi yang luar biasa bagi bangsa Indonesia yang mampu melawan lajunya Covid 19 dengan melaksanakan vaksinasi secara massiv yang berdampak positif kepada keleluasaan untuk Kembali ke situasi new normal yang semakin kondusif.

Muara puasa adalah taqwa. Semantara taqwa dan akhlak al-karimah adalah media untuk mendapatkan ridho Allah mencapai surgaNya. Untuk itu, kita mesti harus berlomba-lomba melakukan kebaikan dalam rangka meraih taqwa kepada Allah SWT. Maka puasa di bulan Ramadhan ini adalah menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepadaNya. Ini merupakan motivasi bagi kita untuk memperoleh keberkahan mencapai derajat taqwa, yang menjadi tujuan pelaksanaan puasa.

Betapa tidak, puasa dilaksanakan secara pribadi, dan menjadi prestasi yang langsung dinilai oleh Allah tanpa perantara, sebagaimana dalam salah satu hadis qudsi dinyatakan bahwa, “al-shaumu lii wa Ana ajzi bih”, artinya : “puasa hanyalah untukKu dan aku yang akan memberikan ganjarannya”. Dari hadis qudsi ini, dapat dapat dipahami, bahwa, pertama, melatih keikhlasan. Orang yang berpuasa akan ditantang untuk berbuat ikhlas, sebab orang yang berpuasa dengan yang tidak berpuasa itu, yakni sama-sama terlihat tidak makan dan minum. Kedua, bahwa puasa adalah untuk Allah itu dapat dimaknai bahwa orang yang berpuasa hendaknya meniru sifat-sifat Tuhan, seperti tidak butuh makan minum, tidak butuh hubungan sex pada siang hari, sifat ilmu yang artinya harus selalu belajar, dan sifat-sifat lainnya (M. Quraish Shihab dalam 5thAKURAT.co, 26 April 2021).

Memahami penjelasan di atas, memberikan pengertian kepada kita, bahwa dalam melaksanakan puasa itu kita adalah pelaku tunggal yang langsung mendapat nilai dari Allah SWT dan akan diberikan ganjaran langsung dariNya. Bahkan dapat diibaratkan dalam kehidupan dunia, tidak ada polisi yang mengawasi kita, kalau di kantor pemerintahan tidak ada inspektorat, di perguruan tinggi atau di perusahaan tidak ada Satuan Pengawas Internal (SPI) yang bertugas mengaudit kita. Karena kita langsung menjadi penilai diri sendiri dan kemudian pertanggungjawabannya langsung kepada Allah SWT. Maka momentum puasa ini harus kita jadikan sebagai titik balik melakukan kebaikan-kebaikan yang dituntun dalam agama.

Puasa sebagai latihan dan proses pembiasaan, yang di kalangan sufi disebut dengan riyadhah. Dalam hal ini, jiwa manusia dipandang memiliki kecenderunganyang jelek “ inna al-nasfa la ammaratun bi al-ssu’”, artinya : Sesungguhnya nafsu yang memerintahkan untuk berbuat jelek (QS. Yusuf : 53). Layaknya Nabi Yusuf AS mendakwahkan kepada Zulaikha, bahwa jiwa itu senantiasa memerintahkan kepada hal-hal yang buruk. Namun dia dapat dilatih untuk cenderung kepada hal-hal yang baik. Yakni dengan senantiasa mengingat akan keMahaKuasaan Allah. Maha Mengetahui nya Allah dengan pelaksanaan puasa ini menjadi modal kita untuk senantiasa takut kepadaNya akan perbuatan-perbuatan tercela. Puasa menjadi perisai bagi kita untuk mengendalikan nafsu, mengendalikan emosi, dan mengendalikan hal-hal lain yang cenderung mengarahkan kita berbuat tidak baik. Agar kita tidak terjerumus dalam jurang kerusakan dan kehancuran.

Semoga hari kelima ini dapat kita lalui dengan lancar sampai sore hari nanti saat adzan maghrib berkumandang dan kita menikmati hidangan berbuka puasa Bersama keluarga, atau handai taulan, dan atau moment pertemuan dengan berbagai event kegiatan Bersama kolega. Rasa syukur terus kita lantunkan atas semua nikmat dariNya dengan mengimplementasikan dalam sikap dan perilaku kita sehari-hari. Taat kepadaNya dimanapun kita berada, agar kita terhindar dari kemurkaanNya. Terus semangat memperbaiki diri, sibuk dengan melakukan perbaikan diri sendiri , agar tidak sempat melihat keburukan orang lain yang justru akan melemahkan semangat hidup kita.

Puasa sebagai upaya pengendalian nafsu untuk terus berbuat kebaikan menuju derajat taqwa kepada Allah SWT. Puasa juga sebagai upaya melakukan pengawasan internal terhadap diri sendiri untuk selalu takut hanya kepada Allah SWT. Maka puasa dan pengawasan internal terhadap diri sendiri adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ibadah puasa yang kita lakukan akan menjadi perisai kehidupan di dunia dan bekal menuju akhirat, karena semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.