metrouniv.ac.id – Rabu 29/06/2022 _ 29 Dzulqo’dah 1443 H
Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Metro)
“Nothing is, everything is becoming.” (Heraclitus)
Pembelajaran bahasa Inggris di Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) bukan hanya sebuah perjalanan intelektual (intellectual journey), namun juga sebuah perjalanan spiritual (spiritual journey). Untuk mengarungi perjalanan intelektual, TBI memiliki referensi melimpah yang bisa diadopsi atau diadaptasi. Terlebih, ilmu pengajaran, bahasa Inggris masih didominasi alam pikir Barat. Sebuah alam pikir yang memiliki akar kuat pada filsafat rasional, empiris, dan kritis. Untuk mengkonkretkan intellectual journey ke dalam profil lulusan, capaian pembelajaran (learning outcomes) dan struktur mata kuliah, TBI bisa melihat banyak best practices di luar sana.
Tantangan besar datang dari upaya memasukkan aspek spiritual ke dalam rancang-bangun TBI. Muatan spiritual journey hendak dijadikan distingsi. Sebuah penciri yang membedakan TBI dan Prodi serupa di kampus lain. Sebuah muatan yang harus dilacak akarnya hingga ke al-Qur’an dan Sunnah. Sehingga kira-kira didapatkanlah Surah al-Hujarat (49: 13) dan Ar-Rum (30:22), sebagai pijakan. Lalu, sebagai landasan lain, ditemukan kisah dimana Zaid ibn Thabit diminta Nabi untuk mendalami bahasa asing semacam Persia, Yunani, Ibrani dan lainnya. Inilah landasan-landasan itu. Dan di atas landasan itu pula TBI boleh mendeklarasi: English learning is an intellectual and spiritual journey! Hei, pembelajaran bahasa Inggris yang melulu berorientasi pada aspek intelektual tanpa dimensi spiritual, ibarat pegawai yang kerja dari pagi hingga petang tapi lupa melakukan absensi.
Kini bila distingsi, dan jargon yang menunjukkan distingsi itu, sudah ada, tinggal dielaborasi. Tinggal diturunkan, diejawantahkan, ditransformasikan, atau apalah istilahnya, ke dalam ragam lapisan turunan. Di antaranya ke dalam profil lulusan, capaian pembelajaran (learning outcomes), struktur mata kuliah, capaian pembelajaran mata kuliah (course learning outcomes), dan sub-pembelajaran mata kuliah (lesson learning outcomes). Namun patut dicermati, di dalam kamar masih ada bilik-bilik kecil. Di dalam kamar ‘capaian pembelajaran’, misalnya ada bilik Sikap, bilik Pengetahuan, dan bilik Keterampilan. Nah, terhadap kamar-kamar dan bilik-bilik itulah, distingsi yang telah disusun itu diproyeksikan.
Mengetahui arah proyeksi itu good, dan bila juga mengetahui skema proyeksi itu better. Untuk poin yang disebut terakhir, at least ada tiga kemungkinan skema: afirmasi, insersi, dan integrasi. Skema afirmasi diwujudkan melalui penyusunan mata kuliah yang menautkan Islam dan bahasa Inggris, semisal Islamic English dan Islamic Linguistics. Lalu, skema insersi bisa dilakukan dengan memasukkan konten ke-Islaman ke dalam teks-teks pembelajaran bahasa Inggris. Misal, sebagai reading materials, digunakan teks Ashabul Kahfi (The Seven Sleepers) sebagai penyeimbang teks Sleeping Beauty. Then, skema integrasi mungkin dilakukan dengan menyusupkan nilai-nilai spiritualitas ke-Islaman ke dalam learning environment, unit, lessons, activities, dan lain sebagainya. Misal, materi bacaan yang digunakan adalah Sleeping Beauty, namun tinjauannya dari sudut pandang ke-Islaman.
Ah, uraian di atas hanya imajinasi penulis, sebagai dosen TBI, tentang body of knowledge (BOK). Layaknya imajinasi, BOK itu belum tentu benar sepenuhnya. Yang sudah pasti benar adalah: (1) BOK terdiri dari dua lapisan: makro dan mikro. Lapis makro bersifat teoritis-konseptual, sedang mikro lebih teknis, praktis, dan konkret, (2) BOK adalah kompetensi utama (core competencies) dan tuntutan keterampilan (required skills) untuk bisa bekerja di bidang tertentu, misalnya bidang pendidikan, (3) BOK merupakan konfigurasi (atau daftar) keterampilan, sikap, dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang profesional, misalnya untuk menjadi guru bahasa Inggris tersertifikasi, dan last but certainly not the least (4) BOK sebaiknya disusun dengan melibatkan asosiasi profesi atau masyarakat pengguna. Berbahagialah para Kaprodi yang merasa akan berjuang sendiri!
Syahdan, pengetahuan, regulasi, dan tuntutan zaman akan selalu bergerak dinamis. Pun demikian dengan body of knowledge. Pergerakan ke depan selalu berarti perubahan. Heraclitus tampak benar: pengetahuan tidak diam di tempat, tapi bergerak maju. Mungkin juga Heraclitus tahu bahwa pergerakan maju itu berimplikasi pekerjaan agung yang cenderung melelahkan.