Penulis: Mufliha Wijayati (Dosen IAIN Metro, Penerima Program Beasiswa Partnership in Islamic Education Scholarships (PIES) 2018)
Dua minggu pertama di Canberra bagi kami adalah masa orientasi pengenalan lingkungan kampus ANU dan spot-spot penting untuk keberlangsunganhidup di 'kampung' Canberra. Istilah 'kampung' kupinjam dari guide kami, aussie tulen yang pernah beberapa bulan stay di Indonesia. Dia sebut kampung, karena sebagai Ibu Kota Negara Canberra terhitung sepi dan lengang, layaknya kampung di Indonesia. Dengan luas sekitar 815 Km-2, Canberra hanya dihuni sekitar 300.000 penduduk (sensus tahun kapan, ya??). Di pusat Canberra terdapat danau buatan Burley Griffin yang indah dan super bersih, membelah pusat Canberra menjadi bagian utara dan Selatan.
Kampus kami, ANU ada di bagian utara tak jauh dari sivic center sebagai daerah komersial dan pusat perbelanjaan utama di kota ini. Jalan kaki hanya sekitar 1,5 km, bisa naik bus gratis atau nggowes naik sepeda. Di pusat kota banyak taman, hutan kecil, pepohonan, dan semak yang membuat Canberra berudara segar dan bebas polusi. Pemukiman penduduk dan sekolah-sekolah adanya di pinggiran kota. Semua rumah tampak mirip, ukuran tak terlalu besar, minimalis dengan warna coklat susu tanpa ornamen dan propil ala-ala rumah milyarder.
Lepas masa orientasi, semua akan 'mumet' pada waktunya. Kolega saya menyebutnya sudah lewat masa bulan madu kita, saatnya perjuangan dimulai. Dengan target dan goal masing-masing kami berjuang bersama, dengan kesulitan dan kepayahan sebagai manusia baru di dunia akademik yang tentu berbeda dengan yang di 'kampung lama'. Kawan di Monash University menyemangatiku, bahwa doing Ph. D itu feeling lonely. Tapi jangan khawatir, supervisormu akan sangat friendly dan appresiatif atas apa yang kamu buat.
ANU tempat aku ‘nyantri’ saat ini, adalah riset university. Jumlah mahasiswanya tidak banyak, aku lupa berapa jumlah tepatnya, saat diospek mengenalkan ANU dan doing Ph. D at ANU. Yang jelas selama di sini, aku tak pernah melihat penampakan mahasiswa bergerombol yang menandakan besarnya kuantitas mahasiswa di sini. Tapi soal peneliti, ANU punya 7000 reseachers. Kerjaannya apa? Sepertinya mengahdap PC dengan 2 monitor tiap hari. Tapi waktunya field-work mereka ya bisa berbulan-bulan atau tahunan stay di lokasi penelitian. Mereka bekerja dengan totalitas, karena hasil riset mereka tidak hanya masuk kardus atau pajangan rak saja, temuannya akan menjadi basis kebijakan stake-holders termasuk pemerintah. Itu yang diceritakan seorang peneliti dari LIPI nya Australia, saat pengajian khataman hari ini tadi.
Kenapa student dan peneliti mencukupkan duduk di meja dengan 2 monitor? Tetapi ada beberapa profesor yang nulisnya sambil berdiri, sungguh. Jadi mereka menulis di PC mereka dalam posisi berdiri. Katanya sih lebih sehat untuk struktur tulang belakang dan tentunya akan lebih serius tanpa diselingi bersantai-santai dengan buka WA dan coment-coment di FB atau IG. Yang kadang itu menyita hampir separuh waktu kerja. Cukup menghadap pc karena berjuta resources bisa terakses dengan mudah dan Cepat. Entahlah aku tak bisa menggambarkannya dengan lebih renyah dan nyata.
Oiyaa satu lagi, aku baru mengunjungi 2 perpustakaan di Canberra. Di sivic-library untuk ikut conversation english course dan Meinzis Library yang koleksinya, ada banyak buku tentang Indonesia termasuk yang jadul dan rada-rada sulit dicari. Sempat mengabadikan jejeran buku Pram. Dan juga buku-buku NH dini yang saya kenal namanya dalam pelajaran bahasa Indonesia di SD dulu. Novel sahabat saya Aguk Irawan juga ada, ikut terhura dan bangga om aguk…..[]