Penulis: Mufliha Wijayati (Dosen IAIN Metro)
Meski bukan perjalanan pertama ke luar negeri, tapi kali ini perjalananku adalah rihlah ilmiah yang pertama ke negeri orang. Australia. Dulu sekali, Aku tidak pernah bermimpi untuk bisa ke Luar Negeri, jangankan mimpi, membayangkannya pun tidak. Satu-satunya keinginan ke luar negeri yang kuimpikan sejak dulu adalah untuk menunaikan ibadah haji. Lulus senior high school dan gagal masuk ke fakultas pilihan di kampus impian, membuat haluan berubah arah. Terbersit untuk memilih al-Azhar Cairo sebagai destinasi pendidikan. Tapi apalah aku, tak ada bekal cukup untuk mewujudkannya kala itu. Selain tak ada persiapan bahasa dan al Qur'an, mental pun belum kutawajjuhkan ke sana. Pupus impian sebelum sempat tertidur nyenyak. Karena bukan mimpi yang diinginkan, pupusnyapun tak meninggalkan lara.
Jogja adalah pilihan terbaikku untuk berproses selama hampir 20 tahun. Mimpi untuk bisa ke luar negeri, muncul agak malu-malu setelah lulus master, berkeluarga, dan menjadi gurunya para sarjana. Ada semacam tuntutan untuk up grade pengetahuan, skill, dan pengalaman agar para sarjana-sarjana yang kubersamai belajarnya menjadi lebih berkualitas. Mimpi itu pun makin menggelisahkan saat melihat teman-teman seperjuangan dulu, banyak yang wira-wiri kayak naik angkot ke beberapa negara untuk studi, riset, course, atau program-program lainnya. wuiiih, rasanya gemes-gemes kesel, "Kenapa sih aku ga study hard, keep struggle dan bisa seperti mereka". Namanya juga penyesalan selalu ada di belakang, kalau di awal namanya pendaftaran, kalau di tengah-tengah baru namanya selingan.
Mengingat usia tak muda lagi, rasanya sudah telat untuk memulai agar bisa 'kerren' seperti mereka. Tapi aku punya prinsip, "ma la yudraku kulluh, la tutraku kulluh" Apa yang yang tidak bisa sempurna kita capai, jangan kemudian membuat kita menyerah dan mengabaikannya. Mimpi yang malu-malu itu tetap kujaga, agar saat aku terjaga, mimpi itu bisa mewujud. Mudah-mudahan, kalaupun tidak untuk full study master atau Ph. D., suatu saat aku bisa rihlah ilmiah barang 2 mingguan atau 3 bulanan. Alhamdulillah 'ala kulli ni'am, PIES Program adalah jawaban atas mimpi malu-malu itu. Bersama lima Ph. D student dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di bawah naungan kementerian Agama, Kami diberangkatkan tanggal 13 Februari 2018 setelah 6 bulan tertunda karena satu dan lain hal.
Patnership Islamic Education Scholarship (PIES) adalah program pendampingan bagi dosen-dosen PTKI yang sedang menyelesaikan penulisan riset disertasi. Program yang berdurasi 10 bulan mondok di kampus Australian National University (ANU) Canberra ini, full didanai oleh Departement of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Pemerintah Australia. Greg Fealy, Sally white, dan Helen mc Martin adalah nama-nama orang hebat yang mendampingi PIES Students selama 'nyantri' di Canberra. Tentunya bersama profesor-profesor handal Corall Bell School of Asia Pasific Affairs-ANU yang memiliki minat terhadap kajian Islam dan Indonesia. Santri-santri PIES akan 'tirakat' dan 'ngangsu kaweruh' pada profesor pendamping dalam hal research skill, academic writing, dan making a good presentation. Para profesor pun akan belajar banyak dari santri PIES tentang kajian riset yang sedang dilakukannya. Inilah yang namanya patnership, saling memberi dan menerima.
Setelah tiga hari orientasi didampingi 'guide' super baik Ph. D student dari UIN Jakarta dan UGM, Haula nur-Bayu, dan satu orang Aussie Jennifer, di minggu kedua kami sudah mulai orientasi program selama 10 bulan. Kesan pertama saya, Penyelenggara program ini sangat well organized, dan mereka sangat berdedikasi terhadap pekerjaannya. Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya kita tunggu tayangan berikutnya.
Pesan Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Arskal Salim, saat melepas keberangkatan kami, menjadi motivasi untuk dapat memaksimalkan waktu emas di Canberra menimba pengalaman dan berjejaring dengan ilmuan di ANU dan Australia pada umumnya. Terimakasih untuk support dan doa keluarga, sahabat dan kolega. My two Zee-Zee, kk, mom n Dad, tenagai langkahku dengan doa dan keikhlasan.[]