CERAMAH DAN JURNAL

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – Selasa 25/01/2022

Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Metro)

 

Hari itu 21 Desember 2021. Dalam teduh atmosfir gedung serba guna IAIN Metro, seorang profesor, a prolific writer, penulis buku dan jurnal produktif, berbagi wawasan terkait dunia tulis-menulis. Sang profesor tampak sangat memahami kondisi peserta yang mayoritas akrab dengan dunia ceramah dan jurnal ilmiah. Sehingga beliau mengetengahkan perbedaan subtil antara ceramah dan jurnal. Berceramah berbeda dari menulis jurnal, meski keduanya miliki irisan dan titik singgung.

Berceramah relatif lebih fleksibel karena bisa dimulai dari banyak titik-masuk. Ceramah bisa dimulai dengan dalil lalu diikuti penjelasan; bisa dibuka dengan cerita lalu dibaluri moral agama; atau bisa diawali dengan joke lalu dibungkus nilai-nilai teologis. Pendek kata, ceramah atau kultum, boleh dimulai dari ragam penjuru asal sajian utama, konten bersumber al-Qur’an dan hadits, tetap menjadi konten utama.

Menulis jurnal tidak sebebas menyajikan ceramah. Penulis jurnal harus mengemas sajiannya dalam struktur universal (the universally-accepted structure) yang disebut IMRAD (introduction, method, result, and discussion). Selain mengikuti IMRAD, penulis jurnal juga harus mempelajari hal-hal khusus yang mungkin termaktub dalam author guidelines dan template agar naskahnya accepted oleh jurnal target. Singkat kata, alur penyajian dan ketentuan penyajian sebuah jurnal bersifat strict dan ketat adanya.

Masih ada perbedaan lain, terkait nada sajian (tone). Nada, di sini, merujuk pada sikap penulis terhadap pembaca dan terhadap pesan yang ingin disampaikannya. Penceramah cenderung membawa nada yang berbeda dibanding penulis jurnal.  Dibaluri keimanan, penceramah cenderung berbicara tentang haq dan bathil (what people should do and should not); tentang iman dan kufur (what people should believe); dan cara islami atay syar’i dalam melakukan sesuatu (how things should work). Nada utama sebuah ceramah lebih pada ‘bagaimana sesuatu itu harus dilakukan’.

Penulis jurnal, di sisi lain, mengusung nada ‘bagaimana sesuatu itu dilakukan’. Ia mendeskripsikan sebuah proses (how things work); memerikan apa yang diyakini populasi atau komunitas (what people do); menarasikan apa yang dilakukan partisipan atau sampel dalam merespon fenomena atau variabel (how people practice). Penulis jurnal hanya perlu menjelaskan sesuatu, bukan mempromosikan, mengadvokasi, atau menunjukkan apa yang harus dilakukan oleh para pembaca.

Meski keduanya berbahan baku bahasa, ceramah dan jurnal jelas beda. Meski keduanya bersandar pada linguistic intelligence,  menyajikan ceramah tidak sama dengan mempresentasikan jurnal. Namun, berbeda tidak selalu saling menafikan. Seperti kue lapis, perbedaan warna bisa bersatu dalam entitas yang sama. Tak ada halangan bagi penceramah handal untuk menjadi penulis jurnal yang produktif, or vice versa. Seperti yang terbukti melalui diri sang profesor yang berkunjung ke IAIN Metro itu.

Wallahu a’lam.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.