metrouniv.ac.id – 30/09/2024 – 26 Robiul Awal 1446 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Dekan 3 FUAD/Guru Besar Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di IAIN Metro)
Jalaluddin Rumi memang gampang mengundang kagum. Tak terkecuali melalui ceritanya yang bertajuk The Philosopher and the Skipper, Sang Filsuf dan Nahkoda. Sebuah cerita yang singkat, dengan diksi yang cermat, dan memiliki pesan yang memikat. Membacanya seperti mengupas bawang yang memiliki kulit berlapis. Lapisan pertamanya (the outer layer) menyuguhkan sebuah cerita dengan alur yang lengkap; lapisan kedua (the middle layer) memancarkan pesan (i’tibar, life lesson) yang menawan; dan lapisan terdalam (the core) mengungkap simbol-simbol dari sebuah perjalanan spiritual seorang pencari Tuhan (salik). Dan, simbol-simbol yang terdapat di dalam cerita, adalah mutiara yang mensyaratkan pembaca menyelam hingga ke dasar terdalam.
Pada lapisan pertama, The Philosopher and the Skipper berkisah tentang seorang filsuf cerdas-nan-masyhur bernama ‘Ali. Namun, kecerdasan tampaknya telah membuat ‘Ali tinggi hati. Beruntung, ‘Ali punya Sam, seorang sahabat yang peduli dengan kesehatan ruhaninya. Sam lalu mengatur sebuah perlayaran-laut (sea voyage) untuk ‘Ali. Di sanalah, di atas kapal pada lautan lepas, ‘Ali menceramahi awak kapal tentang pentingnya Ilmu Filsafat. Ia ceritakan tentang ide-ide besar dalam sejarah manusia. Di ujung ceramah, tak lupa ia kritik mereka yang tidak mengetahui ide-ide besar itu. ‘Ali mengkritik sang nahkoda yang menurutnya tak paham filsafat dan gagasan besar. Berhari-hari di lautan lepas, ‘Ali tidak mencoba bertanya tentang kehidupan pelaut, juga tidak belajar cara berenang. Hingga, tiba waktu di mana ombak dan angin dahsyat membuat kapal yang mereka tumpangi terjungkal. ‘Ali yang tidak bisa berenang, beruntung bisa diselamatkan oleh nahkoda dan awak kapal. Ia diselamatkan oleh mereka yang sebelumnya ia kritik. Syahdan, pengalaman itu telah membuka mata ‘Ali dan membuatnya kini rendah hati. Beberapa tahun sejak peristiwa itu, ‘Ali menghadiahkan sebuah lukisan kapal yang diterjang badai, kepada sang nahkoda. Tak lupa, ia bubuhi bait-bait indah di bawah lukisan tersebut.
Pada lapisan kedua, cerita Sang Filsuf dan Nahkoda, menyiratkan sebuah pesan kuat untuk pembaca: bahwa pintar saja tidak pernah cukup! Kepintaran saja telah membuat seorang filsuf menjadi ahli ceramah dan tukang kritik. Kepintaran mesti dipadukan dengan kerendahan hati dan keterampilan praktis yang dimiliki oleh seorang nahkoda. Dan, barangkali saja, kepintaran dan kerendahan hati itu bisa dilihat terang melalui perbuatan dan perkataan seseorang. Seperti perbuatan ‘Ali yang merefleksi peristiwa dan memberi hadiah pada yang berjasa. Juga seperti perkataan ‘Ali yang ia tuangkan melalui bait-bait reflektif nan indah, tepat di bawah lukisan kapal yang karam.
Pada lapisan inti, cerita dari Jalaluddin Rumi itu, menyajikan simbol-simbol yang terkait dengan empat tahapan perjalanan spiritual dalam tradisi Sufi: syari’at (kapal), tarikat (kemampuan berenang), ma’rifat (lautan), dan hakikat (mutiara hikmah). ‘Ali adalah simbol seorang salik yang dibimbing oleh seorang mursyid (Sam) untuk melakukan suluk berupa pelayaran di lautan. Di bawah pengawasan seorang khalifah (sang nahkoda), ‘Ali menyelami lautan ma’rifat dan memetik mutiara hakikat di dasarnya. Di ujung cerita, ‘Ali membagikan kepingan mutiara itu melalui bait-bait indah yang dipatrikannya tepat di bawah lukisan kapal yang dihadiahkannya kepada sang nahkoda. Di sana tertulis: “Benda-benda yang kosong, tidak bermuatan, akan mengapung di atas air. Kosongkan dirimu dari pujian manusia, agar engkau tidak tenggelam di samudera kehidupan ciptaan-Nya.” Wallahu a’lam.
Teks cerita The Philosopher and the Skipper dapat diakses di laman: https://www.thenewleam.com/the-philosopher-and-the-skipper atau pada buku Tales from the land of the Sufis karya Bayat dan Jamnia (1994). Ulasan akademis tentang kajian simbol pada cerita tersebut akan segera terbit pada sebuah jurnal ilmiah dengan judul Reading the symbols in Rumi’s The Philosopher and the Skipper.