Desa Basis Keluarga

bg dashboard HD

Dharma Setyawan, M.A. (Kaprodi Ekonomi
Syariah IAIN Metro)

Desa berasal
dari kata dhesi artinya tempat lahir. Jika mendengar kata keluarga, yang tidak
ada ikatan dengan kita biasa menyebutnya orang lain. Sedangkan keluarga berasal
dari kata kawula dan warga. Kawula artinya hamba, warga artinya anggota.
Keluarga bermakna anggota hamba atau warga saya. Ada kesatuan utuh, sebuah
bagian diri yang tidak terpisah. Saat terikat hubungan keluarga orang akan
memahami silsilah, hubungan darah, ikatan perkawinan atau pengangkatan. Jadi
menyebut keluarga melampaui sekadar kata saudara–dalam konteks umum.

Lalu bagaimana
hubungan keluarga didefinisikan sejak awal. Sebelum nalar kota membuat
interaksi semakin menyempit, keluarga ditata sedemikian rupa oleh Desa. Sejak
nabi Adam saya kira, komunitas atau entitas masyarakat terbentuk melalui
keluarga. Pun dengan kebijakan transmigrasi, satu desa dengan hubungan darah
berkait kelindan, dipindah karena ikatan keluarga bermimpi atau diberi mimpi
sebuah tempat yang baru. Jadi desa sebagai basis keluarga memberi banyak
perkembangan pada wilayah budaya, sosial, ekonomi dan politik.

Politik uang
yang ditularkan oleh kota, dalam tradisi desa cukup dengan nepotisme
saja–hubungan kekeluargaan. Bahkan belum bisa dikatakan nepotisme, banyak
pilkades dimenangkan oleh kandidat karena faktor keluarganya berjumlah banyak
dan memang karena mempertahankan ikatan tersebut. Saya dapati di Pilkades
Lamtim belum lama ini, banyak yang menang dengan modal gotong royong keluarga
besar.

Di desa, apa
yang disebut miskin juga absurd. Gaya hidup dan pudarnya budaya–pertanian
ditinggalkan, hutan ditebang, sungai dicemari kimia, dan sarjana-sarjana nir
organik–menjadi penyebab kemiskinan berubah menjadi komoditas. Leluhur masih
bisa mewariskan tanah dan sawah untuk anaknya. Itupun kemudian dijual oleh
keturunan yang tidak sudi  lagi mengolah
tanah. Sapardi Djoko Damono mengatakan,"kemiskinan adalah hantu yang setia
menjaga kebanyakan rumah di desa." Hari ini, Desa dan kemiskinan, menjadi
ingatan, jargon, gambaran, dan cara berpikir khalayak umum. Benarkah demikian
desa kondisinya?

Sajak desa,
nyanyian desa, dan ceritera desa mungkin berbeda tahun 80-an, jadi tidak
demikian sebagaimana hari ini. Istilah klasik makan nggak makan asal kumpul,
menandakan mungkin saja miskin tapi keluarga adalah kekayaan lain, keluarga
lebih kuat mengikat. Budaya anjangsana buka hanya lebaran, orang desa saat itu
belum mengenal online, maka harus silaturahim. Kemiskinan juga belum seperti
hari ini. Pertanian sekarat, tanah makin tak bertuah karena limbah, pestisida
dan juga iklim tak menentu. Akhirnya kekeluargaan menjadi renggang, uang
mengubah hubungan, kota menjadi dimensi lain tempat bergantung harapan. Desa
sebagai basis keluarga tidak ada lagi nyala.

"Belajarlah
kau baik-baik di sana. Kau seorang tani. Itu kau jangan lupa. Biar kau sudah
dibenarkan Bapa Tantripala untuk meninggalkan rumahnya, kau harus ingat: kau
seorang tani." Pram dalam Arok Dedes. Kata tani menjadi tidak bernilai.
Tani dianggap pekerjaan kurang pantas. Padahal di sana tempat segala bahan
makanan ditumbuhkan. Buruh kantoran dan buruh negara menjadi seolah lebih mulia
dari profesi tani. Persoalan terletak pada semakin hilangnya capital
desa–pemilikan tanah, rusaknya air, penebangan pohon, hilangnya kebudayaan.
Belum menghitung hilangnya modal sosial dan modal politik.

Bagaimana
menyelamatkan tatanan keluarga yang terkoyak? Bagaimana ikatan keluarga bukan
hanya karena perkawinan dan darah? Bagaimana jika keluarga didefinisikan ulang,
misal keluarga adalah mereka yang terus berpikir dan bekerja secara
bersama-sama? Pointnya begini, ada banyak ikatan keluarga tapi tidak bertemu
akal dan hatinya. Pada kondisi geografis yang sama, dalam iklim agraris misal.
Ada anggota keluarga yang entah dari mana basis berpikirnya, menghendaki tanah
warisan di jual begitu saja. Ada yang menghendaki batang pohon durian ratusan
tahun yang menghasilkan buah melimpah ditebang untuk membeli mobil. Ada budaya
beternak sapi atau kambing, ditinggalkan anak lakinya, karena ingin bekerja di
kota atau nafsu menjual karena menginginkan dibelikan motor balap. Keluarga di
atas terikat hubungan, tapi tidak terkait dengan visi kekeluargaan atau konsep
berpikir kolektif.

Romo Mangun
Wijaya mengakui selama bergerilya saat revolusi kemerdekaan, desa yang
membuatnya tetap hidup. "Yang menghidupi memberi makan, minum, penginapan,
melindungi dari musuh adalah penduduk desa." Bagaimana mungkin desa yang
menjadi penolong saat revolusi, kini dibiarkan sistem budayanya hancur karena
dirasuki individualisme kota. Penyebab utama adalah desa sudah mengalami
kerusakan sistem kekeluargaan. Kekeluargaan tidak menjadi ruang untuk menambah
pengetahuan, semua diserahkan pada sistem pendidikan sekolah dan mengejar
modernitas.

Desa sebagai
basis keluarga merupakan bagian penting dalam pembangunan desa. Perbaikan
sistem kekeluargaan, mengembalikan lagi ikatannya untuk meningkatkan
pengetahuan, menggali potensi keluarga dan menjadikan keluarga sebagai basis
penggerak. Tidak mudah memang mengembalikan hal ini dalam waktu dekat, tapi
desa bisa mengobati dirinya sendiri. Masih ada ruang sosial, tegur sapa,
pertemuan spiritual, obrolan para petani, ibu-ibu ngerumpi dan mengubah dari
sekadar gosip ke obrolan pengetahuan. Karena desa masih ada sapa, lalu di kota?

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.