Dharma Setyawan, M.A. (Kaprodi Ekonomi
Syariah IAIN Metro)
Asian
Development Bank (ADB) bersama International Food Policy Research Institute
(IFPRI) menyatakan,"Pada 2016-2018, sekitar 22,0 juta orang di Indonesia
menderita kelaparan." Untuk mewujudkan dunia tanpa kelaparan pada tahun
2030, ditetapkan target diantaranya menghilangkan kelaparan dan kekurangan
gizi, menggandakan produktivitas pertanian, menjamin pertanian pangan
berkelanjutan, mengelola keragaman genetik, dan meningkatkan kapasitas
produktif pertanian.
Sosialisasi yang
dilakukan pemerintah dalam penanggulangan kelaparan, belum terintegrasi dengan
pola transformasi kebudayaan pertanian pada generasi muda. Data-data
menunjukkan jumlah petani semakin menurun, dan ini sangat berkolerasi pada
jumlah produktivitas hasil pertanian. Sisi lain berkurangnya jumlah petani
karena disebabkan berbagai hal diantaranya berkurangnya lahan pertanian
produktif, iklim pertanian yang tidak menjanjikan kesejahteraan, gempuran asing
dalam industri besar menyingkirkan petani kecil, dan dukungan negara yang lemah
terhadap dunia pertanian.
Petani sebagai
Budaya
Banyak orang tua
yang tidak menginginkan anaknya jadi petani. Pola pendidikan mengubah kenyataan
besar bahwa menjadi pegawai adalah impian semua orang tua, meskipun akhir-akhir
ini banyak yang bicara tentang enterprenurship. Namun kenyataan hidup adalah
soal pangan, dan perang terhadap kebutuhan pangan dilakukan sejak manusia
lahir. Pangan sebagai kebutuhan dasar tidak boleh diabaikan, bahwa sumbernya
dipinggirkan oleh struktur masyarakat itu sendiri.
Menjadi petani
adalah pekerjaan mulia, jika terjadi marginalisasi terhadap profesi petani
berarti ada yang salah dengan arah kompas bangsa. Padahal semua orang hidup
harus punya kewajiban menanam. Anak-anak muda harus punya mimpi untuk melihat
pertanian dan budaya menanam sebagai wujud nasionalisme. Petani dalam dimensi
kebudayaan dapat diwujudkan dengan gotong royong pengetahuan dan
implementasinya.
Desa dan Lumbung
Pangan
Pandemi covid-19
mengajarkan banyak hal arti penting pangan bagi kelangsungan bangsa. Data 22
juta orang kelaparan tidak masuk logika negara agraris. Semua orang butuh
makan, dan apa yang dimakan adalah dari hasil apa yang ditanam. Jika pertanian
dianggap tidak menjanjikan dalam kesejahteraan hidup, pasti ada yang salah
dengan konsep dan integrasinya dengan gerakan ekonomi lainnya. Menanam adalah
melawan, itu jargon yang harus dimunculkan atas kebijakan impor produk luar
negeri yang diputuskan oleh pemangku kebijakan.
Desa dalam
kebudayaan masa depan melihat pertanian adalah mata rantai nilai. Sebuah
lifestyle yang harus dijaga dan diperbaharui agar digitalisasi tidak menjebak
kita semua sebagai buruh-buruh Milenial. Konsep pertanian jelas tidak dapat
dikerjakan dengan system monokultur, gagasan Permakultur adalah pilihan wajib
agar petani tidak bergantung pada satu hasil tanaman. Selain itu integrasi juga
harus dilakukan agar ekosistem organik terpenuhi, diantaranya peternakan,
perikanan dan keanekaragaman hayati yang wajib dijawa menumbuhkan kembali
siklus rantai makanan.
Masalah
kelaparan akan menjadi masalah penting di era modern. Bahwa teknologi informasi
seharusnya menjadi jembatan produk pangan dapat dipasarkan secara baik dna
menguntungkan petani itu sendiri. Asimetris information dapat diminimalisir
sehingga petani mendapat harga yang pantas. Perguruan Tinggi juga penting
melihat masalah pangan sebagai persoalan serius. Anak-anak muda yang kuliah
mengenyam bangku perguruan tinggi bahkan dijurusan pertanian tidak menjamin
akan lahir para petani-petani muda yang cerdas dan survive dalam sustainable
gerakan.
Dana Desa harus
memberi stimulus bagi tumbuhnya lumbung pangan desa. Kebijakan desa terhadap
pertanian bukan lagi pada support pupuk kimia yang selama ini meracuni desa.
Perlu ada pengetahuan alternatif dalam gerakan organik untuk memaksimalkan
potensi yang ada pada pupuk organik, pestisida hayati dan rantai makanan dari
hubungan flora dan fauna. Tantangan utama ada pada narasi petani desa yang ditransformasikan
ke pemuda.