metrouniv.ac.id – Putri Swastika, Ph.D (Dosen
Program Pasacasarjana IAIN Metro)
Saya pun tidak
menyangka, Book Proposal yang
dipersiapkan akhirnya terbit juga. Awalnya, saya enggan untuk mengirimkan Book
Proposal ke Palgrave karena pernah ditolak. Ya, Book Proposal kami dengan topik yang sama ditolak oleh penerbit
lain di Eropa. Padahal PIC penerbit
tersebut kenal dengan co-author
naskah buku kami, Prof. Abbas Mirakhor, dan mempunyai reputasi tidak setenar
(tidak se-internasional) Palgrave. Jadi, kesimpulan saya setelah di-reject
pertama kali bahwa Book Proposal ini memang kurang layak. Saya pun menjadi
tidak percaya diri untuk mengirimkan Book Proposal ke penerbit lain.
Sampai ketika kami
mendapat informasi bahwa Palgrave
sedang membuka series Political Economy
of Islam. Setelah mempelajari naskah-naskah yang terbit sebelumnya, Prof.
Abbas Mirakhor meyakinkan saya bahwa naskah kami punya kualitas yang diinginkan
penerbit. Saya pun menyusun Book
Proposal tersebut. Dari website Palgrave, saya mendapatkan template book proposal dan kemudian penyusunannya
dimulai. Isi dari Book Proposal yang pertama adalah soal novelty. Menurut saya, novelty
pada sebuah buku sedikit berbeda dengan novelty
pada jurnal karena buku mengedepankan kebaharuan konsep atau pengembangan ilmu
pengetahuan, bukan metodologi, waktu atau kasus. Yang kedua, meski namanya
proposal, namun harus dapat memvisualisasikannya secara detil dan konkret.
Author harus mengisikan berapa halaman, berapa tabel dan gambar, berapa
referensi, dan apakah akan menggunakan referensi lain yang memerlukan izin dari pihak eksternal (copyright). Intinya, naskah buku harus
dipersiapkan dulu sebelum Book Proposal
disusun. Setelah beberapa kali berkonsultasi dengan Editor in Chief di Palgrave, kami diperkenankan untuk memasukkan Book Proposal tersebut. Waktu itu, kami
menerima kabar bahwa Book Proposal diterima sekitar 4-5 bulan setelah pengiriman Book Proposal.
Sekitar bulan Oktober
2020, Palgrave menawarkan kontrak penerbitan dan kesepakatan jadwal penerbitan
yang harus disepakati bersama. Setelah tanda tangan kontrak, seorang project coordinator ditugaskan mendampingi
kami dalam seluruh tahapan proses penerbitan. Project coordinator inilah yang terus mengatur author dan
berkorespondensi dengan tim lain seperti desainer
cover, marketing, dan tentunya production
staff. Proses publikasinya ada 7 tahapan; mulai dari Type Setting, Proof
Reading, Proof Sent, Proof Correction, Proof Feedback, Online
Production, dan Printed Book
Production. Jadwal selalu disepakati bersama dengan author, sehingga kami berupaya untuk tidak delay sebagai wujud komitmen
dan profesionalisme. Pada bulan Maret, kami masukkan naskah sesuai dengan
template dari Palgrave. Lalu bulan demi bulan, tahapan demi tahapan, kami
kerjakan sesuai dengan jadwal. Hingga, naskah kami terbit menjadi sebuah buku
tanggal 20 September yang lalu.
Alhamdulillah, buku kami “Applying Risk Sharing Finance for Economic
Development” saat ini sudah terbit dan tersedia secara online dan hardcopy
melalui pemesanan. Menerbitkan karya tulis ilmiah memang tidak bisa secara
instan dan membutuhkan perjuangan ekstra. Bekerja keras untuk memenuhi komitmen
sesuai jadwal dan kualitas yang ditentukan oleh penerbit membuat kami harus
menahan istirahat. Saya pun terpaksa mengajarkan anak-anak alfabet menggunakan keyboard laptop karena ibunya menyambi
mengerjakan naskah. Prosesnya panjang dan melelahkan, namun rewarding. Rewardnya bukan temporary saat buku itu terbit, tapi long lasting karena kehadiran buku tersebut mengemban suatu visi
pengembangan ilmu pengetahuan.
Dan, semoga
rekan-rekan sejawat di lembaga ini juga bersemangat untuk menulis demi
mengembangkan ilmu pengetahuan. Meski jalannya panjang dan medannya berat,
tidak serta merta itu menjadi alasan kita tidak ingin mencoba dan membuktikan
sendiri bahwa semua orang bisa menerbitkan naskah pada penerbit internasional.
Bukankah kehidupan itu hakikatnya sebuah perjalanan yang harus dilalui dengan
kerja-kerja keras, cerdas, dan ikhlas jika ingin berhasil sampai ke tujuan… Wallahua'lam.