metrouniv.ac.id – 20/03/2026 – 30 Ramadan 1447 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan/ Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)
“Everything in life has a price. Even the things you think are free have a cost. They cost you your time, your energy, or your peace of mind.”
Pagi itu, sebuah notifikasi masuk via email. Artikel bertajuk Developing culturally responsive ELT materials: evidence from Indonesian Islamic schools dijadwalkan terbit dalam waktu dekat. Menyenangkan. Karena publikasi kali ini terjadi di jurnal scopus yang gratis.
Kata gratis hampir selalu terdengar manis. Ia adalah definisi kabar baik karena berarti sesuatu yang terjangkau, hemat, dan ringan di kantong. Wabil khusus di jagat publikasi jurnal ilmiah, label ‘No APC’ alias bebas article processing charges, alias without publication fee, alias gratis, adalah semacam oase di padang tandus. Namun begitu, label gratis pada sebuah jurnal terindeks Scopus tidak berarti mudah dan sederhana. Ia menyimpan satu dimensi lain, rumit!
Scopus gratis cenderung rumit karena bukan sama sekali tanpa ongkos. Hanya saja, cost-nya tidak berbentuk uang. Ongkosnya adalah naskah yang solid, kepatuhan teknis yang presisi, dan ketahanan mental saat revisi. Gratis belum tentu manis. Murah belum tentu mudah. Ia, sekali lagi, berpotensi pahit dan rumit karena ragam tantangan dalam lintasan prosesnya.
Tantangan pertama terletak pada aspek substantif seperti bahasa, struktur, dan kontribusi. Sebuah artikel jurnal tidak cukup hanya ditulis dalam bahasa dan alur logika yang baik, kohesif dan koheren. Belum cukup dengan hanya disajikan dalam struktur IMRaD (Introduction, Method, Result, and Discussion). Artikel harus juga membawa kontribusi. Dalam hemat penulis, kontribusi adalah hasil perkawinan silang antara novelty dan originality. Kebaruan objek, cara baru dalam melihat objek, dan kemampuan untuk secara jernih menempatkan objek di tengah peta penelitian yang sudah ada, adalah kira-kira definisi kontribusi.
Artikel dengan aspek substantif yang solid, tampak belum cukup. Di sinilah, tantangan yang kedua, yaitu aspek teknis. Template jurnal, gaya sitasi, metadata, panjang teks, kelengkapan abstrak, penyajian kata kunci, dan uji similaritas. Aspek teknis adalah ujian kedisiplinan akademik yang paling konkret. Di mata editor, aspek teknis adalah cerminan keseriusan seorang penulis. Ide cemerlang yang ada dalam naskah, bisa kandas karena abai terhadap standar, konvensi, dan pedoman penulisan jurnal target. Di sini, penulisan ‘disini’ bisa menjadi indikator ketidakhormatan penulis terhadap ekosistem akademik yang hendak ia masuki.
Tantangan terberat bisa terjadi pada wilayah afektif. Publikasi di jurnal gratis yang kredibel, kerap merupakan proses yang panjang, melelahkan, dan menguji kesabaran. Penulis terlibat dalam lebih dari 40 korespondensi dengan pengelola jurnal, dalam kurun waktu 4 tahun, yang seluruhnya bermuara pada satu kata: revisi. Jumlah dan rentang yang tidak hanya membuat penulis bertanya-tanya, dalam hati, tentang nasib naskahnya, namun juga tentang keteguhan dirinya sendiri.
Catatan dari editor-in-chief, komentar associate editor, feedback dari reviewer, hingga kritik dari editorial board, tak jarang terasa tajam, menyengat, dan merontokkan semangat. Namun justru di situlah penulis belajar bahwa melalui proses itulah sebuah artikel ditempa. Penulis tidak bisa menyembunyikan sikap respect terhadap kesungguhan dan keikhlasan para pengeloa jurnal tersebut. Mereka menunjukkan bentuk konkret dari kata profesional dan dedikasi.
Kiranya, pelajaran penting lainnya adalah bahwa pandai saja tidaklah cukup dalam Scopus gratis. Bukan hanya pandai, tetapi harus tekun. Bukan hanya bisa memahami, tetapi juga perlu cepat memperbaiki. Sedikit keluar konteks, jika kita di rumah makan, dan sebuah gelas terjatuh, lalu pelayan menangkap gelas itu sebelum menyentuh lantai, ini disebut dengan immediate response. Ketika kita meminta tagihan, dan sang pelayan memberikannya dalam hitungan menit, itu termasuk quick response. Ketika kita meminta makanan tambahan, dan pelayan mengantarnya sedikit lebih cepat dari waktu normal, itu adalah fast response.
Akhir cerita, jurnal kredible yang gratis sejatinya menyajikan sebuah paradoks yang unik. Ia memang tidak meminta uang dari penulis, tetapi menuntut ketekunan dan ketelitian. Sehingga, penulis perlu belajar bekerja senyap, bersabar tanpa tepi, bertahan tanpa tepuk tangan, dan merevisi tanpa drama.
Di penghujung proses, penulis sepakat dengan kutipan anonim di awal tulisan. Bahwa dalam hidup, tak ada yang benar-benar gratis. Bahkan yang tampak gratis pun akhirnya akan meminta sesuatu. Sesuatu yang mungkin bukan uang, tetapi berupa waktu, tenaga, atau ketenangan batin. Sesuatu yang mungkin bukan sekedar response, tetapi immediate response. Upayakan, jangan sampai gelas itu pecah! Wallahu a’lam.