Diam adalah emas?

12. Cover Artikel Diam Itu Emas_24072025 Dedi I

metrouniv.ac.id – 24/07/2025 –  28 Muharam 1447 H

Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Jurai Siwo Lampung)

Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,
Fal yaqul khairan au liyasmut
[H.R. Bukhari]

Dialog imajiner. Benjamin Disraeli, mantan Perdana Menteri Britania Raya itu, hadir di ruang imaji. Ia menggaungkan mahfuzhot lamanya: never complain, never explain! Jangan pernah mengeluh, jangan pernah menjelaskan.

Kami berkata kepadanya, please elaborate!

Benjamin terdengar seperti menjawab: Jangan pernah mengeluh! Terlalu banyak mengeluh akan membentuk kebiasaan buruk. Kebiasaan untuk menyalahkan pihak lain. Kebiasaan untuk menempatkan diri sebagai korban yang terzolimi. Kebiasaan yang membuat diri lemah dan terlihat lemah. Meskipun mengeluh itu wajar, jangan jadikan ia sebagai habit atau citra diri. Agar ‘mengeluh’ tidak menjelma kebiasaan dan citra: never complain!

Jadi Benjamin, sampai pada batas tertentu mengeluh adalah wajar. Karena mengeluh adalah reaksi spontan manusia ketika merasa gagal, kalah, terdesak, dan tak nyaman. Mengeluh adalah ventilasi emosi yang perlu ada. Tapi iya,  mengeluh yang terus-menerus akan justru mempersempit ruang pertumbuhan. Seperti hubungan antara protest dan progress. Semakin banyak protes, semakin sedikit progres. Keluhan dan protes berlebih, hanya membantu kami melihat masalah tanpa usaha maksimal mencari jalan keluar. Bagaimana jika begitu, Benjamin?

Silahkan saja. Namun patut di-underline, keluhan yang berlebihan akan menimbulkan persepsi negatif. Di mata orang lain, seseorang yang terus mengeluh akan tampak lemah, bukan karena ia mengalami kesulitan, tetapi karena ia gagal menampilkan ketahanan, resilience. Dunia tidak selalu memberi simpati yang panjang. Perlahan, simpati bisa berubah menjadi penilaian. Sesekali mengeluh, bisa mengundang simpati. Namun, jika setiap kali mengeluh, akan muncul penilaian dalam bentuk persepsi negatif.

Alright, meski kami tidak sepenuhnya happy dengan penjelasan never complain, bagaimana dengan never explain? Apa yang tidak perlu dijelaskan?

Menjelaskan pada dasarnya adalah usaha agar dipahami. Namun jika dilakukan secara berlebihan, itu bisa mencerminkan kegamangan batin. Penjelasan yang terlalu intens justru menandakan kurangnya kepercayaan pada pilihan dan prinsip sendiri. Tidak semua orang perlu tahu alasan di balik setiap langkah, dan tidak semua orang akan benar-benar mendengar untuk mengerti. Cermatlah, memberi penjelasan lewat media sosial. The less the better! Semakin singkat semakin baik.

Jadi, penjelasan yang proporsional itu tetap penting. Lalu mengapa bersaran untuk never complain, never explain?

Pertama, agar dapat diketahui perbedaan antara reaktif dan reflektif. Sikap reaktif muncul dari dorongan emosional yang tidak terkendali. Mereka yang reaktif cenderung cepat merespons: mengeluh, membela diri, menyalahkan. Ia merasa harus segera bicara, segera menjelaskan, segera menunjukkan reaksi. Padahal, tidak semua situasi membutuhkan respons instan. Sebaliknya, sikap reflektif lahir dari ketenangan batin. Seseorang yang reflektif tidak terburu-buru menanggapi. Ia memberi ruang pada dirinya untuk memahami, menimbang, dan meresapi makna di balik peristiwa.

Okay, itu yang pertama. Apa yang kedua?

Agar orang lebih memahami bahwa diam itu adalah kekuatan. Bukan kelemahan seperti banyak yang diasumsikan orang. Mereka yang reflektif, mengetahui sikap diam bukan kelemahan, melainkan kebijaksanaan.  Karena dalam diam itu, mereka  bisa mengamati lebih jernih, merespons lebih tepat, dan bertindak dengan keyakinan. Diam mereka adalah strategis dan berisi. Diam yang bukan pasrah, bukan bentuk pelarian diri. Diam untuk memilih bertindak daripada berdebat. Diam yang bermuara pada solusi daripada pembelaan. Dalam diam mereka bekerja keras tanpa mengeluh, memegang prinsip tanpa menjelaskan, berbuat baik meski disalahpahami. Saat itu semua terjadi, saat itu never complain, never explain menemukan makna holistiknya.

Thank you, Benjamin. Dialog kita menyegarkan ingatan kami pada dua hal. Pertama pada sabda sayyidinaa Muhammad saw: Fal yaqul khairan au liyasmut. Anjuran untuk diam, manakala tak mampu berkata baik. Yang kedua, pada wejangan leluhur bahwa diam itu emas. Wallahu a’lam.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.