Oleh
Mukhtar Hadi
Bayangkan cara ilmuwan generasi masa lalu dalam mengkaji dan mempelajari ilmu pengetahuan. Flash back cara generasi kita belajar. Mereka mendengarkan penjelasan, mencerna dan menginternalisasikan apa-apa yang dipelajari dan kemudian menjadi pengetahuan yang terpatri kuat dalam hati dan akal fikiran. Mereka membaca buku dan kitab, mencerna dengan kehadiran hati, pikiran dan perasaan. Lalu mereka kuasai ilmu pengetahuan itu sehingga menjadi bagian dalam kecendekiaan dan kearifan hidup.
Proses penyerapan pengetahuan sebagaimana di atas, kemudian dilanjutkan dengan proses trasmisi pengetahuan lewat tulisan. Lewat kitab dan buku-buku yang ditulis dengan tangan dan gaya bahasa penuturan yang unik dan khas. Masing-masing ilmuwan punya gaya tulisnya masing-masing. Buku-buku itu ditulis dengan perenungan yang dalam, tafakkur dan tadzakkur. Sarat dengan kearifan hidup dan hikmah yang tiada terkira. Tidak ada yang instan. Semuanya melalui proses yang panjang dan bertungus-tungus mereguk ilmu pengetahuan yang dalam dan tiada batas.
Bandingkan dengan cara belajar generasi digital era ini. Era kecerdasan buatan, generasi Artificial Intelligence (AI). Mereka tidak perlu membaca buku, tinggal ketik apa yang diinginkan dalam mesin pencari. Mesin pencari bekerja, mengolah input dalam sekejap lalu muncullah out put yang diinginkan. Out put yang didapat tidak semuanya benar, terkadang belum tentu benar. Namun semuanya diterima dengan apa adanya tanpa sikap kritis.
Kecerdasan buatan memang memudahkan. Bahkan sebagian orang menilai sebagai anugerah yang diberikan Tuhan lewat tangan-tangan manusia yang bergelut dengan teknologi digital. Bodoh kalau tidak digunakan, ketinggalan jaman jika tidak bisa memanfaatkan. Apapun yang diinginkan, AI akan memberikan jawaban. Anda ingin membuat makalah ilmiah, masukkan saja ide dasar dan judul yang diinginkan dalam ChatGPT, maka dalam hitungan detik ia akan bekerja dan jadilah makalah ilmiah yang anda harapkan.
Anda akan membuat buku, bingung apa yang harus diisikan dalam rencana buku anda, tanyalah pada teknologi AI, input gagasannya, maka dalam waktu sekejap akan muncul out line buku yang diharapkan, terdiri dalam beberapa bab yang sangat lengkap. Selanjutnya inputkan judul-judul sub bab buku, maka dalam.sekejap narasi dan deskripsi isi buku telah lengkap tersedia. Draf buku dalam ratusan halaman itu telah selesai, tinggal dicetak atau dipublikasikan. Tidak lupa nama anda dicantumkan sebagai penulisnya. Sangat mudah dan menyenangkan. Buku baru hadir hanya dengan berkomunikasi dengan teknologi AI.
Pertanyaannya, siapa penulis sah buku itu? Anda sebagai penulisnya atau ChatGPT? Anda secara sah bisa mengklaim.bahwa itu adalah karya anda. Tidak usah khawatir karena mesin pendeteksi kesamaan atau kemiripan tidak akan membaca produk dari teknologi AI. Tapi dari lubuk hati yang paling dalam mari kita bertanya. Benarkah kita pemilik karya yang dihasilkan dari mesin AI? Menjadi agak rumit menjawabnya.
AI memang sangat memudahkan dalam memfasilitasi kebutuhan akademik baik untuk kepentingan belajar ataupun memproduksi pengetahuan. AI mampu mengolah informasi, menganalisa, memberikan kesimpulan bahkan memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan yang ditanyakan. Namun tetap saja ia adalah sebuah mesin, bukan manusia. AI tetap saja tidak memiliki rasa sebagaimana manusia. Pengetahuan yang didapat dari AI bersifat instan. Pembelajar hanya mendapatkan hasil tanpa harus bersusah payah melewati prosesnya. Mari kita renungkan. (MH. 06.08.25).