Ekonomi Islam itu adalah nilai

49WhatsApp-Image-2018-08-30-at-16.28.26

Ekonomi Islam jangan dibaca sebagai lembaga. Mestinya
ia menjadi ruh: menjelma sebagai nilai yang menggairahkan untuk dijuangkan.
Tapi bentuk ideal dari konsepsi ekonomi Islam hanya hidup di ruang-ruang yang
enggan menyentuh masyarakat umum.

Padahal, saat hidup di keterasingan itu, ia diyakini
sebagai pemutus gab antara si kaya dan yang miskin. Dengan kata lain, para
ekonom, pegiat ekonomi Islam haruslah adil sejak pikirannya, akhlak dan
moralitas yang pada kesempatannya mengerucut pada terciptanya pendistribusian
kekayaan.
 

Ekonomi Islam adalah nilai. M Emer Capra menyatakan
dalam kalimat panjang,  ekonomi Islam
merupakan pengetahuan yang membantu upaya realisasi kebahagiaan manusia yang
berada dalam koridor yang mengacu pada pengajaran Islam tanpa memberikan
kebebasan individu atau tanpa perilaku makro ekonomi yang berkesinambungan dan
tanpa ketidakseimbangan lingkungan.
 

Di situ, ekonomi Islam terdengar senada dengan apa yang
dikatakan Asghar Ali Engineer; ekonomi Islam tidak untuk dimaknai sebatas
membuat bank tanpa bunga, sedangkan praktek-praktek eksploitasi lainnya masih
terus berlangsung.
 

Kita kembali ingat krisis tahun 1998. Dan bisa
menandainya sebagai naiknya pamor ekonomi Islam yang diusung Bank Muamalat
Indonesia (BMI). Bank syariah menjadi icon.

Jaman berjalan dengan cepat. Manusia kurang cermat
terhadap sejarah yang melekat itu. Kini ekonomi Islam dibaca sebatas lembaga
dalam bentuk bank, Baitul Maal wa Tamwil (BMT) atau lainnya yang mencatut label
syariah.

Dan citra bank syariah mulai jadi pertanyaan belakangan
ini. Khususnya apa yang terjadi dalam masyarakat Kota Metro Lampung. Pemaknaan
bank konvensional dan bank syariah tidak ada beda, "hanya ganti
jubah". Hal itu terjadi bukan karena tanpa sebab. Karena yaling mungkin
menetapkan sebuah citra adalah subjek. Maka, kita akan berhenti pada
pertanyaan: sampai di mana usaha sebuah bank syariah menjaga citranya?

Tapi kesalahpahaman terjadi.

Bank syariah enggan menjaga citranya. Atau memang tidak
mengambil peduli atas pertanyaan-pertanyaan masyarakat awam yang resah:
"mengapa angsuran pembiayaan di bank syariah harus ditetapkan di awal
akad?"

Di situ ekonomi Islam berhenti dan jauh dari apa yang
idealnya dijuangkan.
 

Padahal ekonomi Islam juga harus hidup lebih dari
sekedar institusi. Ia; semangat berkeadilan dalam bingkai aktifitas ekonomi itu
mestinya hadir dalam balutan pariwisata, teknologi, segala macam profesi, serta
berbagai macam perekonomian rakyat. Ekonomi Islam harus bebas, tidak mendapat
kungkungan definisi untuk hidup di berbagai aspek pemenuhan kebutuhan hidup.

Mestinya seperti itu. Seperti apa yang diulang-ulang
buku mata kuliah bahwa ekonomi Islam merupakan sistem ekonomi yang mengacu pada
al-Qur'an dan hadis. Tapi boleh jadi, ini teramat pagi untuk memilih ekonomi Islam
sebagai jalan yang kita tempuh.

 

 Oleh: Afriyan Arya Saputra

(Mahasiswa tingkat injuri time)

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.