MTQ di Tulang Bawang Barat menggunakan ornamen bambu. Setelah gelaran, dapat digunakan untuk event lain. Inilah yang saya sebut sustainable (keberlanjutan) dalam program. Bagaimana pemerintah perlu menimbang kembali pemborosan anggaran dan dimanfaatkan untuk seni kreatif berbahan lokal. Jika menyewa tarub, maka sama-sama buang anggaran, tapi tidak ada nilai keberlanjutan. Jika membuat panggung bambu, maka komunitas lain bisa menggunakan.
Tulang Bawang Barat sudah memulai dan menginspirasi kita semua. Gelaran-gelaran pemerintah juga tidak harus di tengah kota, karena menimbulkan kemacetan. Memulai dari pinggir, dan memberdayakan kreatifitas lokal juga penting diperhatikan. Metro misalnya, seharusnya sudah menghentikan proyek buang-buang anggaran ke Lapangan Samber. Sudah saatnya memulai dari pinggir dan memberi ruang kreatif. Sebagaimana Djohan Wakil Walikota dalam kampanyenya dulu mengatakan membangun dari pinggir.
Perguruan Tinggi juga harus memulai dengan memberi ruang bagi karya seni kreatif mahasiswa. Ada yang bisa buat patung gajah, melukis wajah, clothing lokal, lukisan vektor, karya berbahan kayu, produk kuliner dan lainnya. Kampus juga harus memberi ruang gelaran produk ekonomi kreatif mahasiswa. Jurusan PAI, KPI dan ESy sudah memulai dengan mengajak mahasiswa membuat pasar takjil. Semangat ini yang harus dibangun secara gotong royong dalam mewujudkan socio-ecotechno-preneurship. Sejatinya benar makna lagu Band Efek Rumah Kaca,"Pasar Bisa Diciptakan."
Dharma Setyawan
Kajur ESy IAIN Metro dan Penggerak Payungi