metrouniv.ac.id – 26/09/2023 – 11 Robiul Awal 1445 H
Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)
Iman merupakan pondasi dasar beragama. Semua konsekuensi dari keberagamaaan bersumber dari iman. Dari iman itulah dapat dipahami mengapa seseorang menyembah dan mengabdi kepada Tuhan. Jika ia seorang muslim, maka iman itu yang mendorong orang tersebut untuk mendirikan shalat, berpuasa, berzakat, beramal shaleh, dan memiliki akhlak yang mulia. Pendek kata, iman akan melahirkan semua kebaikan-kebaikan dan amal shaleh.
Al-Qur’an dalam beberapa surat dan ayat menjelaskan ciri dan indikator orang yang beriman. Misalnya dalam surat al-Anfal ayat 2-3, dijelaskan ciri orang yang beriman itu adalah jika disebut nama Allah, maka gemetar hatinya. Kemudian jika dibacakan ayat-ayat Allah, maka bertambah kuat imannya; kepada Allah mereka bertawakkal; yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagai rezeki yang dianugerahkan.
Kemudian dalam surat al-Mukminun ayat 1-11, ciri orang beriman itu adalah orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya; orang yang meninggalkan perkataan yang tidak berguna; orang yang menunaikan zakat; orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri dan hamba sahaya yang dimiliki; orang yang memelihara amanat dan janji; dan yang memelihara shalat.
Beberapa ayat yang lain banyak juga menjelaskan ciri orang yang beriman, yaitu mereka yang selalu bertaubat dari segala kesalahan (QS.An-Nur: 31), yang senantiasa beribadah kepada Allah dengan memperbanyak ruku’ dan sujud serta berbuat kebajikan (QS.Al-Hajj: 77). Kemudian mereka yang senantiasa berdzikir atau memuji Allah SWT (QS. Al-Ahzab: 41), yang menjadikan shalat dan sabar sebagai penolong (QS. Al-Baqarah: 153), yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat (QS. Al-Baqarah: 152).
Membaca ciri-ciri orang beriman sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an dapat dipahami bahwa orang beriman itu adalah mereka yang senantiasa mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT dengan segenap jiwa dan raga. Bentuk pengabdian itu dengan memperbanyak shalat, berdzikir, memiliki sikap yang sabar, banyak bersyukur, bertawakkal, berinfak, dan lain sebagainya. Intinya, orang beriman adalah yang banyak mendekatkan diri kepada Allah dan menjalin hubungan kepada Allah (hablum minallah) secara intens, khusyu’ dan tawadhu’.
Namun apakah dengan demikian itu sudah cukup untuk menggambarkan indikator iman? Ternyata belum. Dalam beberapa hadits, Nabi SAW banyak menyebutkan bahwa ‘manusia itu belum beriman’, atau dengan kalimat ‘tidak beriman seseorang’, atau dengan kalimat ‘tidak akan masuk surga’ orang yang begini dan begitu. Nabi menjelaskan bahwa wujud iman itu tidak hanya cukup dengan shalat, dzikir, puasa, haji atau infak saja, akan tetapi masih ada ciri lainnya terutama yang berkaitan dengan hubungan pada sesama manusia (hablum minannas).
Demi Allah engkau tidak beriman kata Nabi, sebagaimana dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Sahabat bertanya: “Siapa Wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yang tetangganya tidak aman dari keburukannya.” (HR.Bukhari). Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda: “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits lain Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakam tamunya. Barang siapa yang beriaman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang benar atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jika dalam Al-Qur’an ciri-ciri orang beriman banyak dihubungkan antara ikatan manusia dengan Allah SWT sebagai hamba yang punya kewajiban untuk mengabdi dan menyembah kepada-Nya, maka dalam hadits-hadits Nabi ciri-ciri orang beriman itu dihubungkan antara ikatan manusia dengan sesama manusia lainnya. Berbuat baik dengan tetangga, dengan tamu, berbicara dengan kalimat dan kata yang baik, mengendalikan hawa nafsu dan lain sebagainya.
Dalam berbagai haditsnya, Nabi seolah mengatakan bahwa kalian semua belum beriman atau tidak beriman dengan sempurna jika hanya menjalankan shalat, membaca al-Qur’an dan berdzikir saja. Kalian belum beriman kalau hanya menjalin hubungan secara vertikal kepada Allah SWT semata namun melupakan atau mengabaikan hubungan baik dengan sesama manusia. Dengan demikian, iman harus diimplementasikan dan diwujudkan dalam bentuk hubungan yang baik secara vertikal kepada Allah SWT serta hubungan yang baik pula secara ghorizontal kepada sesama manusia.
Seorang muslim dinyatakan belum beriman jika hanya asik dengan kehidupan spiritualitasnya kepada Allah namun abai dan lupa dengan berbuat baik kepada sesamanya. Demikianlah kesempurnaan iman seseorang itu terletak secara proporsional pada jalinan dan pengabdian serta penyembahan yang tulus ikhlas kepada Allah SWT. Disamping itu juga terletak pada jalinan dengan sesama manusia secara humanis dan manusiawi.
Iman yang seperti itulah yang akan melahirkan kebijaksanaan. Sebagaimana sabda Nabi: “Kalau kalian melihat orang beriman yang lebih memilih diam (bersikap proporsional) dan berpembawaan tenang, dekatilah karena ia telah dianugerahkan kebijaksanaan”. (HR.Ibnu Majah). Wallahu a’lam bishawab. (mh.26.09.23).