metrouniv.ac.id – Kamis 12/05/2022 – 11 Syawal 1443 H
Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Metro)
Tugu Moderasi. Perpustakaan Bait Al Hikmah (The house of wisdom). Metro, Pemberitaan mudik di media. Alunan Syiir topo weton. Sebuah ruang imagi yang menghadirkan lintasan dua kolega senior. Senior pertama kerap mengingatkan penulis tentang tugas utama seorang dosen: tridharma. Tugas lain, katanya, adalah tambahan, kompelementer, supporting. Senior kedua, dosen-asesor, tak jemu berseru agar dosen dengan tugas tambahan (DT) tetap mengisi kinerja penelitian dan pengabdian untuk laporan beban kinerja dosen (LBKD). Penulis, yang junior, tidak pernah bertanya lanjut mengapa demikian. Para senior pastilah miliki mozaik pengalaman yang kaya, sudut pandang bijak, daya pandang progresif-futuristik, dan nasehat esensial bertabur hikmah.
Claud Field, seorang penulis literatur ke-Islaman, menggunakan diksi ‘esensial’ sebagai pembanding kata aksidensial. Ketika menerjemahkan Kimiya al-Sa’adah karya al-Ghazali, terbitan J Murray London, 2001, Field menulis: “Some of thy attributes are those of animals, some of devils, and some of angels, and thou hast to find out which of these attributes are accidental and which essential.” Manusia memiliki dimensi hewani, setani, dan malaikat. Ada syahwat, amarah, dan kesucian. Kesucian mesti menjadi sifat dominan, yang esensial, sedang syahwat dan amarah cukup menjadi aksidental. Manusia memerlukan yang esensial sekaligus aksidental. Namun tak baik jika yang aksidental lebih dominan daripada yang esensial.
Konsep esensial-aksidental mudah ditemui. Ia, misalnya, terlihat pada kaulut tarbiyah, adagium pendidikan, yang digaungkan oleh K.H. Syukri Zarkasyi. At-thoriqotu ahammu minal maddah wal mudarrisu ahammu minat thoriqoh wa ruhul mudarrisu ahammu minal mudarris”. Di mana metode pengajaran lebih penting dari bahan ajar; guru lebih penting daripada metode; dan ruh (jiwa) sang guru lebih penting dari guru itu sendiri. Yang aksidental adalah bahan ajar dan metode pengajaran. Yang esensial adalah guru dan ruh (jiwa) sang guru. Kembali ke Calud Field. Ia menerjemahkan ibarat dari al-Ghazali: The body may be compared to a steed and the soul to its rider. Tubuh adalah ibarat kuda dan ruh/jiwa adalah penunggangnya. Tidaklah bijak, lalu, membiarkan kuda menguasai sang penunggang. Tidaklah baik bila penerapan materi ajar dan metode belajar tertentu, dilakukan secara kaku hingga menutup ruang improvisasi dan kreativitas sang guru. Karena penunggang dan kreativitas, yang lahir dari ruh/jiwa, adalah esensial.
Juga, konsep esensial-aksidental membantu menerangkan banyak hal. Termasuk tentang mudik. Sekedar kembali ke tempat asal, adalah dimensi aksidental dari ritual mudik. Yang esensial dari mudik, menurut Emha Ainun Najib, adalah bertemunya pemudik dengan nasab dan nuansa kultural yang membesarkannya di waktu kecil. Dimensi esensial inilah yang membuat mudik selalu diperjuangkan. Meski kerap tidak mudah juga. Demikian, esensial bisa bermakna kerinduan untuk selalu kembali kepada sebuah titik awal. Untuk berjalan melingkar ke alasan pertama, tugas utama, lapisan terdalam, khittah, atau fitrah.
Syahdan, di minggu nan fitri ini, wejangan para senior tadi itu menemukan resonansinya. Bahwa tridharma adalah esensial bagi dosen. Dan bahwa dosen-dosen yang karena tugas tambahannya yang aksidental itu pastilah menyimpan kerinduan untuk kembali bergelut dengan pengajaran, penelitian, publikasi, dan pengabdian. Semakin lama bekerja di perantauan-aksidental, semakin tebal keinginan untuk mudik ke kampung-esensial. Akan selalu ada kerinduan, yang teramat sukar ditampik, untuk kembali berkutat dalam perbincangan diskursus, pembacaan jurnal, kegiatan recharging, persuaan di ruang kelas, dan hal-hal esensial lainnya bagi seorang dosen.
Akhirnya, esensial, merujuk para arif bijaksana, tak boleh dilampui oleh aksidental. Aksidental tak bisa dihilangkan dan tak boleh lebih dominan dari yang esensial. Konsep esensial-aksidental sangat mungkin ditemukan dalam ragam teks, pitutur, rutinitas, monumen dan bangunan. Ia bahkan terlihat dalam closing lagu Syiir Tanpo Waton. Di ujung lagu akan kita dengar: Hadaanalloh waiyyakum wal ‘afwa minkum. Closing itu tidak ditemukan dalam situs-situs penyedia lirik lagu. Namun, ia esensial karena sarat makna. Yaitu agar Allah swt pertama-tama memberi hidayah bagi diri kita dan lalu bagi orang lain. Agar para komunikator (penulis, pembicara) tidak lupa memohon maaf kepada komunikan-nya (audience, pembaca, pendengar) atas tutur yang tak teratur serta kata yang tak tertata. Agar tidak lupa berterima kasih.
Terima kasih para senior atas wejangan, tugu, perpustakaan, kegiatan, dan segala kebijakan yang esensial. Hadaaniyalloh wa iyyaakum. Eid Mubarok.