ETIKA DIGITAL

bg dashboard HD

 

metrouniv.ac.id – Dr.
Dedi Irwansyah, M.Hum
(Ketua Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Metro)

 

Kevin Bankston, seorang pengacara senior AS, menandai
perubahan dunia digital saat ini dengan sebuah kutipan unik: “Google mungkin
lebih mengenal Anda daripada Ibu Anda.” Ini bukan tanpa dasar. Konon, manusia
modern menghabiskan rata-rata 8 jam sehari untuk berinteraksi dengan internet, sebuah
durasi waktu yang lebih panjang daripada yang dihabiskan manusia setiap harinya
bersama sang ibu. Cukup beralasan bukan?

Bankston ternyata tidak sendiri, seorang kolumnis
bernama Jon Evans bahkan berani berkata: "I
think it's fair to say, Facebook almost certainly knows you best."
Facebook
lebih mengenal Anda dan saya. Mungkin karena Facebook, dan media sosial
(medsos) lainnya, adalah pendengar setia dan penyimpan memori yang handal. Tidak
hanya merekam, medsos itu juga mengolah informasi itu dengan sangat akurat.
Mereka tahu, kota-kota mana saja yang Anda kunjungi satu tahun terakhir; di
hotel mana saja Anda pernah menginap; dan bahkan apa saja yang Anda posting tahun lalu. Begitu setia dan
handalnya medsos, sehingga banyak orang nyaman untuk curhat kepadanya (meski medsos sudah pasti tidak bisa menyimpan
rahasia). Di titik inilah, medsos
menjadi sangat dekat dan mengenal kita.

Medsos sejatinya bersifat netral. Ia bisa menjadi
anugerah dan bisa mengundang bencana. Betapa banyak yang tenar karena cuitannya
di Twitter. Sebanyak orang yang mendulang ‘cuan’ karena unggahannya di YouTube.
Sebaliknya, ada yang reputasinya ambyar karena
video konyol yang diunggahnya. Ada yang dimeja-hijaukan karena postingannya
dianggap merugikan pihak lain. Medsos menjelma anugerah di tangan kreatif yang
memahami etika digital dan memiliki kemampuan berkolaborasi (dan meyakini the survival of the most collaborative) .
Dan menjadi bencana bagi yang menafikan etika berinteraksi di dunia digital.
Sekali etika terdegradasi, tak nanti orang lain sudi berkolaborasi, baik di
dunia digital maupun di dunia nyata.

Etika di medsos, dunia maya, dan di dunia nyata
tidaklah jauh berbeda. Lihat saja, konfigurasi ‘etika’ yang dimiliki oleh salah
satu inovator jenius dunia digital, Jack Dorsey si penemu Twitter. Dorsey
menyusun sepuluh tips-nilai: (1) don’t be
a jerk
. Jangan belagu, sok sip,
ngomong-komentar seenaknya, merasa paling hebat; (2) don’t take anyone for granted. Jangan perlakukan orang lain (baca:
bawahan) seolah-olah mereka tidak memiliki privasi dan tidak memerlukan
pengakuan dan apresiasi. Jika jadi ‘atasan’ mbok
ya
sering-sering berucap ‘maaf, tolong, dan terima kasih’; (3) enjoy the moment. Nikmati momen. Saat
rapat bisnis, nikmati dinamika yang berkembang. Jangan malah sok sibuk masygul sendiri di depan laptop atau device; (4) be honest, always. Jujurlah; (5) be humble. Miliki sikap rendah hati, bukan rendah diri. Hati yang
rendah membawa orang ke maqam yang
tinggi;  (6) be kind. Bersikap baik dengan tidak mempermasalahkan afiliasi
politik; (7) respect people’s wishes.
Dengarkan pendapat, harapan, keinginan, atau mimpi orang lain. Mendengar
berarti menghargai. Tidak mendengar, tidak mungkin mampu mengapresiasi; (8) Allow endings. Semua akan berakhir.
Persiapkan sebuah akhir yang menginspirasi, sebuah ending yang menjadi ‘buah-tutur’ yang baik bagi generasi penerus;
(9)  fail
openly
. Gagal menyadari bahwa manusia bisa gagal, adalah sebuah kegagalan. Jika
kelak nanti kegagalan menghampiri, terimalah dengan lapang dada. Petik
pelajaran (hikmah, wisdom) untuk
melompat lebih tinggi; dan (10)  have an amazing haircut. Perhatikan
penampilan Anda. Penampilan yang menarik adalah sebuah keuntungan. Jelas,
kesepuluh serpihan etika itu akan sangat membantu tidak hanya di dunia digital,
namun juga di dunia nyata.

  Memegang erat
etika digital tidak berarti boleh menafikan etika dunia nyata. Dunia digital
memanglah legit dan bisa membuat citra-diri melangit. Hingga tak jarang,
keasyikan di dunia digital mengerdilkan aspek kemanusiaan. Fenomena phubbing adalah contoh betapa manusia
modern kerap ‘sendiri’ saat bersama dan sering bersama dalam ‘kesendirian’
karena ‘larut-tenggelam’ dalam dunia mayanya masing-masing. Mereka yang masih
main hape ketika rapat, melakukan phubbing.
Yang terlihat bermain hape saat upacara sakral seperti wisuda, juga
melakukan phubbing. Yang merespon
percakapan dengan wajah dan mata menatap layar hape, alih-alih ke lawan
bicaranya, juga mempraktikkan phubbing. Boleh
jadi, phubbing itu adalah ‘hak’
setiap individu. Namun dalam banyak hal, phubbing
 bisa merusak komunikasi sosial di
dunia nyata.  

Tetapi, phubbing
itu memang mengasyikkan. Membayangkan diri sedang menghadiri rapat disambi menikmati foto-diri saat bertugas
di Raja Ampat itu menyenangkan; membayangkan diri sedang menghadiri ceramah
keagamaan disambi chatting dengan
group alumni SMA, itu mungkin multitasking;
membayangkan diri sedang menguji skripsi seraya sesekali mengecek klasemen Liga
Inggris, itu menghibur; membayangkan tiba-tiba Jack Dorsey si penemu Twitter
itu tiba-tiba berdiri di depan saya, itu sesuatu yang lain.

Mungkin Jack Dorsey akan berkata: Don’t be a jerk! Enjoy the moment! Mungkin pimpinan rapat, ustad-penceramah,
dan mahasiswa akan berucap: Stop phubbing please!

 

*Sebagian besar dari tulisan ini adalah materi yang
disampaikan pada kegiatan Webinar Kominfo, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi
Lampung pada 22 September 2021.

 

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.