EULOGI: Creator Ilmiah vs Creator “Tik Tok”

bg dashboard HD

Penulis: Buyung Syukron (Kepala LPM IAIN Metro)

“Kita tentu hanya berharap bahwa eulogi atas karya ilmiah dalam sebuah PTK/PTU akan lebih dihormati dan dinilai berharga ketimbang eulogi seseorang terhadap tiktok.”

Berawal dari obrolan kami di Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAIN Metro siang menjelang sore itu sambil menjalankan aktifitas dan rutinitas sebagai pengawal mutu secara kelembagaan judul di atas muncul. Tak sengaja penulis melihat-lihat google scholar salah seorang penulis yang dapat dikatakan produktif di IAIN Metro dalam menulis baik buku maupun artikel ilmiah yang diterbitkan dalam sebuah jurnal. Seketika penulis dibuat terkagum dengan banyaknya sitasi yang secara kuantitas terlihat pada setiap artikel si penulis.

Sedikit pembahasan kami juga menyinggung tentang terminologi atau makna sitasi yang tentu saja dikalangan akademisi sudah sangat memafhuminya. Bahkan obrolan itu menjurus pada domain atau wilayah yang lebih spesifik terkait urgensi sitasi pada sebuah artikel sorang penulis yang dikomparasikan dengan capaian akreditasi sebuah program studi, dimana kami dan kita semua yang bergelut didunia akademisi tentu saja sepakat bahwa sitasi seorang penulis artikel (baca: Dosen) tentu saja akan berimplikasi langsung dalam pencapaian akreditasi program studi dimana dosen tersebut ber-home base.

Kembali kepada si penulis artikel dengan produktifitas artikel dan sitasi yang dicapainya tersebut, maka obrolan kami beralih pada sebuah komparasi atau tepatnya sebuah Eulogi tidak saja atas karya artikel itu semata akan tetapi juga capaian sitasi sang penulis. Memang obrolan kami sedikit terjadi perdebatan atas kata Eulogi tersebut yang dimaknai sebagai sebuah penghormatan, hadiah, atau penilaian. Mengapa ada perdebatan? Karena salah seorang teman mengukur Eulogi adalah hal yang secara natural dan alamiah dalam konteks dan perspektif sitasi atas artikel seorang penulis termasuk dosen kami dimaksud. Karena lanjut teman tersebut, penghormatan, hadiah, atau nilai dari sebuah artikel adalah sitasi itu sendiri. Rasional memang jika parameternya adalah standar ideal bahkan pure seorang akademisi tulen. Akan tetapi teman disebelah menimpali obrolan ini menjadi verbal yang tidak rasional jika karya ilmiah seorang akademisi tepatnya Dosen hanya diukur Eulogi nya dari sitasi, karena seharusnya si penulis juga berhak atasi Eulogi berupa hadiah dalam bentuk materi. Meskipun si teman mengakui bahwa produktifitas seorang akademisi salah satunya diukur dari progresifitasnya dalam menulis, mengajar, dan meniliti bahkan melakukan pengabdian (isitilah ini dikenal dengan trdharma, bro) akan tetapi ada relevansi dan equivalensi kuat antara Eulogi yang penulis maksudkan tadi dalam mendongkrak “mangkraknya” progrisifitas seorang akademisi/Dosen dalam menulis karya ilmiah termasuk artikel, apalagi jika dikomparasikan dengan capaian akreditasi yang nilainya tidak bisa dikatakan dengan rupiah kalau sebuah program studi mencapai peringkat akreditasi unggul, ujarnya. “Temon munih cawa pusikam (benar juga kata teman)…”.

Dari obrolan yang secara totalitasi tidak mampu penulis rekam dalam ingatan tersebut (mungkin karena faktor lelah atau kurang kopi atau mungkin penulis menganggap obrolan tersebut high discussion, hehehehe), penulis melanjutkan aktifitas penulis kembali untuk mencari beberapa referensi terkait tulisan penulis. Tapi di sela-sela penulis mencoba fokus dengan tulisan yang sedang penulis buat, ada yang menggganjal dibenak penulis terkait dengan apa yang disampaikan oleh kedua teman ngobrol di atas, sehingga keluarlah kalimat dari penulis: “ternyata harga seorang akademisi/Dosen dengan berbagai karya ilmiah yang diakui dalam sitasi para penulis lain lebih murah dari harga yang dicapai oleh sorang pemain tiktok atau yang lazim dikenal dengan TikTokers”. Padahal (tabik bukhibu tabik warei) ternyata muatan ilmiahnya tidak ada sama sekali. Dan penggemarnya termasuk kalangan akademisi looch bro and sis. Dan (lagi-lagi tabik bukhibu tabik warei) ternyata content tiktok yang dibuat si creator yang digandrungi tersebut (termasuk dosen yeeee…) secara kuantitas lebih banyak ketimbang karya ilmiah yang dihasilkan si Dosen creator itu sendiri.  “Ikam” angkah berfikir (“hanah kidah bahasa Lampung luwotlocal wisdom bro and sis….”), maksudnya Penulis hanya berfikir apakah artikel kalah menarik dengan konten-konten Tiktok yang dibuat Dosen creator tersebut. Padahal tema atau judul yang yang akan dituangkan dalam sebuah artikel tidak pernah berbatas, bahkan sampai masuk ke kamar mandi sekalipun ide-ide untuk membuat sebuah artikel bisa muncul (kecuali kebelet ya?? Ikam mak janji karena konteks dan fokusnya jelas akan terbagi pada satu dimensi saja, hahahahahaha).

Kenapa hal di atas Penulis katakan seperti ini? Mungkin tidak saja dalam konteks dan skala IAIN Metro akan tetapi dalam ruang lingkup PTK/PTU wabah tik tok ini bukan hal yang aneh lagi bahkan mungkin sudah menjadi aktifiitas lazim dan lumrah bahkan sekelas akademisi sekalipun. Karena biasanya aktifitas apapun yang dilakukan seseorang (baik laki-laki terutama kaum perempuan baik yang gadis maupun bersuami) biasanya mereka unggah dalam sebuah kreasi dalam format content berjoget, melambaikan tangan, merubah mimik dan raut wajah. Ketawa-ketiwi dan lain sebagainya yang menurut asumsi penulis (“ngapunten nek salah nggeh…”) ingin mendapatkan Eulogi atau hanya kerjaan iseng semata sambil mengisi kekosongan. Kalau claim nya hanya iseng dan mengisi kekosongan semata, maka “tamatlah” misi besar sebuah Perguruan Tinggi untuk menciptakan anak Bangsa yang “berkarakter”. Loh kq iso? Yo iyolah, bagaimana anak bangsa mau berkarakter kalau melihat akademisi/Dosennya lebih sibuk upload tiktok ketimbang upload capaian ilmiah mereka seperti artikel seperti pembahasan kami di atas. Dan “asemnya” ini juga ditonton oleh mahasiswa dan sivitas akademika lainnya. Atau berfikir ekstrimnya seperti ini: “kalau content tiktoknya” berupa Discovery page nya atau flexingnya diminati oleh banyak penonton bahkan dengan jumlah yang besar, maka si tiktokers/creators dapat fulus doooong. Lah kalau upload artikel siapa yang mau ngasih penghormatan bro atau Eulogi tadi, paling-paling si “kutu buku” dan “kutu busuk” yang mengakui dan hanya mengatakan: dengan emoji Jempol atau paling tinggi dengan kalimat: “sampeyan pancen ngeten” dengan emoji jempol atau kalimat haturnuhun sudah nambah referensi.  “Hueeef…. dunia pendidikan tinggi sudah terbalik rasanya”.  Tapi mohon maaf, Kalau tik tokan bisa buat kulit akan lebih awet muda tapi kalau artikel buat kulit lebih kisut seperti baju tidak disetrika.

Penulis mengatakan hal di atas bukan karena Penulis resisten dengan para dosen yang merangkap creator/tiktokers atau Penulis ingin mengklaim saat ini terjadi keprihatinan/degradasi atas nilai-nilai keilmiahan sebuah PTK/PTU, akan tetapi penulis hanya membandingkan sebuah fenomena dan dinamika yang tidak lazim yang dipertontonkan oleh kalangan akademisi dalam hal ini Dosen. Atau benar apa yang dikatakan teman di atas tadi kalau saat ini Perguruan Tinggi tidak memiliki keberpihakan lebih dalam bentuk apresiasi materi ataupun non materi terhadap dosen yang menjadi Creator artikel? Fenomena dan dinamika ini secara kondisi akhirnya memicu lemahnya Adrenalin pada otak seorang Dosen untuk membuat karya yang lebih berorientasi pada ekspketasi mutu pribadi atau institusi semisal artikel ketimbang hanya mengencangkan kualitas tubuh dan wajah melalui hobby yang value-nya jauh dari ilmiah bahkan dimensi etika dan estetika. Padahal harusnya seorang akademisi/dosen menjunjung tinggi prinsip-prinsip yang penulis katakan ini. Tapi “hagow nyow” (baca: mau apalagi) kita tentu hanya berharap bahwa eulogi atas karya ilmiah dalam sebuah PTK/PTU akan lebih dihormati dan dinilai berharga ketimbang eulogi seseorang terhadap tiktok. Dan tulisan ini hanya sebuah contoh kecil terhadap tinggi dan besarnya = banyaknya berbagai masalah dalam dunia pendidikan tinggi atas kecilnya nilai-nilai eulogi bagi para dosen yang progresif dalam melahirkan karya-karya ilmiah ketimbang eulogi orang lain terhadap akademisi yang lebih “doyan” menjadi creator tiktok. Bisakah “perangai” ini dirubah? Jawabnya pasti bisa. Caranya? Minimal ada eulogi terhadap karya-karya ilmiah seorang Dosen, seperti penulis ceritakan di awal tulisan ini. Semoga (BS/03/23).

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.