socio
echo
techno
preneurship

MeTROUNIV Article

Fab City & Fab Village?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

metrouniv.ac.id – 10/09/2022 _ 14 Safar 1444 H

Dharma Setyawan, M.A. (Kaprodi Ekonomi Syariah IAIN Metro)

Intinya mendorong wilayah untuk mandiri, semaksimal mungkin memproduksi kebutuhan mengurangi ketergantungan (Umar Ahmad)

11 Juli yang lalu Umar Ahmad Tubaba ngobrol tentang Fab City dengan Ilham Habibie di Pendopo Habibie & Ainun. Kenapa Umar Ahmad? Tentu ada alasan kuat bagi seorang Ilham untuk mengajak Bupati muda yang memimpin kabupaten baru berumur 13 Tahun. Fab City secara garis besarnya seperti yang Umar sampaikan ke saya yaitu sebuah gambaran wilayah yang berjuang mandiri dan mengurangi ketergantungan dengan wilayah lainnnya. Meskipun itu sulit, tapi narasi ini sebagai pemahaman menciptakan keberagaman dan siklus ekosistem yang saling menopang satu sama lain. Apakah ini menjadi hal yang penting menjadi bahan diskusi para pemimpin daerah?

Fabulous City kota yang menakjubkan, sebuah gambaran yang tidak sederhana. Pendidikan menjadi faktor utama, pendidikan dalam arti esensi kesadaran lokal, produk kebudayaan yang mandiri, terus berinovasi, dan penggerak yang terus belajar dan belajar. Fab City apakah mungkin disederhanakan lagi menjadi Fab Village. Sebuah project kecil, contoh ekosistem desa yang mengesankan, menyenangkan dan mandiri menemukan potensi untuk dapat menghidupi semua ekosistem yang ada. Manusia dan alamnya tidak saling menegasikan.

77 tahun yang lalu bahkan jauh sebelum negara ini merdeka, desa dengan keasrian nya, memiliki banyak sekali bahan makanan. Sungai yang masih jernih dengan ikan yang berlimpah, hutan yang masih perawan dengan potensi keberagaman hayati dan desa-desa di Jawa yang masih belum banyak medernitas yang merusak lingkungan. Proyek kolonisasi Metro 1936/1937 oleh Belanda juga melihat kekayaan alam daerah transmigran dengan penataan yang terukur dan terarah.

Irigasi, bedengan rumah, kantor Pos, alun-alun, jalan besar dibangun dengan perencanaan yang sungguh-sungguh. Pedestrian hari ini semakin sempit, Jakarta baru hari ini mulai sadar memperlebar pedestrian. Semakin teknologi mesin ditemukan, kota tidak ramah bagi kolektifitas, yang terjadi konsep hidup individualitas. Ketika negeri Belanda sampai saat ini masih asyik dengan banyaknya sepeda, negara berkembang dengan teknologi inovasi Jepang, mengkonsumsi kendaraan mesin dengan brutal. Kemacetan, polusi, ruang pejalan kaki, ruang terbuka hijau, pesepeda di rebut total oleh kendaraan mesin.

Kalau kita masuk ke Tubaba, dari Uluan Nughik menuju Las Sengoq kita menyusuri konsep jalan besar yang juga menyediakan pedestrian lebar. Sebuah konsep kota masa depan yang oleh Umar Ahmad tidak sembarang dibangun. Para arsitek, perencanaan tata kota, seniman, dan berbagai ahli dibidangnya bukan orang-orang sembarangan. Tentu perencanaan ini butuh waktu untuk menjadikan Tubaba benar-benar pulang ke masa depan. Energi pemberdayaan ke SDM Tubaba juga tidak boleh ketinggalan, ini bukan hanya transfer pengetahuan, tapi pendampingan, gerakan dan tidak cukup dikerjakan oleh birokrasi model rapat satu ke rapat lain.

Umar Ahmad memang serius dalam bekerja, memastikan setiap gagasan dan gerakan dengan detail. Kita bisa lihat bangunan-bangunan yang dikerjakan punya ciri khas, seni, estetika dan konsep membaur dengan alam yang tidak ditemukan di tempat-tempat lain. Produk kebudayaan yang memberi energi baru bagi Nilai Tubaba. Sedangkan kami dari komunitas kecil Payungi punya mimpi menyokong kemandirian desa. Gagasan tentang Fab Village konsep desa yang juga memiliki produk kebudayaan (tari, musik, rupa, kriya, kain), kemandirian pangan, pasar, wisata, edukasi dan tentu semua hal yang dikerjakan dengan kesungguhan menjadi marketing value bagi desa-desa yang bergerak kreatif dan inovatif. (penulis : DS, Posting : SS_Humas)

Artikel Terkait

Anak Muda & Demokrasi Desa?

metrouniv.ac.id – 09/09/2022 _ 13 Safar 1444 H Dharma Setyawan, M.A. (Kaprodi Ekonomi Syariah IAIN Metro) Ketika mendengar demokrasi desa,

Tridarma Transformatif?

Hasil forum APSESI (Asosiasi Program Studi Ekonomi Syariah Indonesia) di IAIN Metro Lampung 26-28 Agustus 2022 ada point penting yang

KUNCI KEBERHASILAN HIDUP

metrouniv.ac.id – 01/09/2022 _ 05 Safar 1444 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro) Al-qur’an sebagai dasar utama

Prodi Segalanya?

Prodi Segalanya? metrouniv.ac.id – 25/08/2022 _ 27 Muharam 1444 H Dharma Setyawan, M.A. (Kaprodi Ekonomi Syariah IAIN Metro) Kalau kita

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.