Oleh: Mufliha Wijayati (Dosen IAIN Metro, Penerima Program Beasiswa Partnership in Islamic Education Scholarships (PIES) 2018)
Kembali aku membuat sebuah catatan lesson-learn dari perjalanan ke negeri orang. Betapapun, Australia adalah negara multiculture yang sangat toleran dan egalitar, menjadi minoritas tentunya akan menyisakan beberapa persoalan dalam hal pemenuhan kebutuhan pelaksanaan ajaran Islam. Sungguh ini adalah pengalaman pribadi yang sangat subyektif, belum tentu orang lain mengalami 'kepayahan' yang saya alami. Ini lebih karena persoalan psikologis 'kegagapan' saya menghadapi budaya baru. Tapi, dari kesulitan-kesulitan itulah kita bisa belajar menjadi 'engga gagap'.
Jika diinventarisir, tentu ada banyak 'kepayahan' yang mungkin dihadapi muslim saat menjadi minoritas di negeri orang, menyentuh banyak aspek dalam Islam. Saya hanya akan share pada persoalan ibadah (mahdhah) yang bagi saya ini penting untuk dimaklumi. Persoalan thaharah, salat (ibadah), juga puasa. Jauh sebelum keberangkatan, saat mengikuti kursus pre-departure, didatangkan alumni untuk sharing pengalaman dan salah satunya menjelaskan hal-hal yang bersifat pribadi berkaitan dengan pelaksanaan ajaran Islam. Yeaaa namanya belum kepentok persoalan secara faktual, jadi saat itu pun pikiran saya, fine-fine saja.
Pertama adalah soal thaharah. Di sebagaian besar negara (bertadisi) barat, toiletnya adalah toilet duduk dengan 1 tombol untuk flushing, tanpa kran dan hanya ada tisu untuk membersihkan. Toilet tidak diperbolehkan dalam kondisi basah, harus kering-ring. Karena basah bisa membuat orang lain terpeleset, terbanting, kebentur tembok dan cidera. Wastafel berada di luar yang berfungsi untuk cuci tangan, tidak untuk cuci kaki. Di Indonesia, sudah banyak ditemukan toilet-toilet di public-area model begini, hanya masih tersedia kran yang memungkinkan untuk bebersih dengan air. Tentu tidak mudah untuk merubah kebiasaan dan mind-set bersuci dengan air melimpah menjadi minimalis hanya dengan tissu saja. Meskipun sejak kecil kita sudah dikenalkan model-model bersuci alternatif dalam fikih thaharah seperti tayammum, istinja, dan istijmar, tapi konsep fikih tersebut bagi saya sebagai orang yang tidak pernah mimpi ke negeri barat adalah sebuah wacana teks, dan tidak membatin karena kebiasaan yang dilakukan bersuci dengan air (melimpah). Tentu secara psikologis yang terekam sebagai bersuci yang sempurna adalah bersuci dengan air yang memadai. Kali ini, saya harus melakukannya, harus! Di sinilah semakin saya merasa bahwa Islam sangat kaya wacana. Shalih li kulli zaman wa makan. Asalkan hati dan pikiran harus terbuka untuk memaklumi perbedaan dan memahami keragaman. Sama halnya dengan kasus bermukena saat salat, dalam tulisan saya sebelumnya, kita seperti harus 'mengeryitkan dahi' saat melihat orang lain shalat 'hanya' dengan pakaian yang dikenakan dengan bagian mata kaki terbuka. Padahal mereka melakukannya dengan dalil dan argumentasi.
Kedua, persoalan shalat lima waktu dan shalat Jumat. Suatu ketika kolega dari Indonesia bertanya, "win, azan magrib jam berapa di sana?". Dengan emoticon menangis saya jawab, "Di sini ga pernah denger azan lah, kita pake aplikasi untuk mengingatkan waktu salat". Termasuk juga arah kiblat, dengan bantuan aplikasi kami mencoba menemukan ke mana wajah kami arahkan saat berdialog dengan Sang Khaliq. Pernah satu ketika, aplikasi error, matahari tak tampak, waktu salat sudah mepet, bismillah… kutawajjuhkan saja mukaku sesuai kata hati. Setelah dicek keesokan harinya, ternyataku sedikit kurang serong. Jadi wajahku agak 'melengos' dari arah kiblat. Begitu indah perjuangan untuk bisa berdialog dengan-Nya. Untuk salat Jumat, meski tersedia beberapa Masjid tapi butuh perjuangan untuk menuju lokasi. Tidak seperti di kampung halaman yang setiap gang ada masjid, meskipun jamaahnya hanya imam dan muadzinnya. Pun kadang-kadang imam harus rangkap jabatan menjadi muadzin, makmumnya para malaikat.
Ketiga, persoalan puasa. Australia berada di bawah garis khatulistiwa. Di musim summer seperti ini, siangnya lebih panjang. Subuh sekitar jam 5 dan magribnya jam 8 malem. Yeaaa kalau puasa, bisa hampir 15 jam. Ramadhan tahun ini akan tiba di bulan Mei, bertepatan dengan datangnya sie winter yang 'menggigit'. Saya belum tanya detil pada senior yang sudah terlebih dulu tinggal di Canberra, berapa lama waktu siang di musim dingin. Tapi tentu, suasana puasa kami akan berbeda di tahun ini.
Selain tiga hal di atas, persoalan makanan tak kalah penting. Kita tau fiqih sangat tegas dan detil dalam persoalan halal-haramnya. Meskipun di sini sangat transparant dalam hal mencantumkan komposisi dan ingredients dalam bungkus makanan dan minuman, tapi minimnya pengetahuan tentang istilah-istilah unsur turunan dari yang diharamkan membuatku harus bersabar untuk beli makanan-makanan 'asing' dan sembelihan. Hingga hari ini yang aku beli baru cabe, terong, jamur, dan beberapa jenis buah. Sementara beralih dari pemakan segala menjadi herbivora dulu. Untung di asrama mahasiswa, ada yang kreatif produksi tempe. Jadi, bisalah kita mengobati rindu dengan gurihnya tempe garit Indonesia di Canberra.
Jawaban dari beberapa persoalan di atas mengingatkanku pada wacana fiqih minoritas. Jabir Thaha al-'Alwani dan Yusuf Qaradhawi adalah dua tokoh yang menggagas fikih progresif bagi Muslim saat menjadi minoritas. Al-Alwani menulis buku Toward a Fiqih for Minorities dan Yusuf Qaradhawi menyampaikan gagasannya dalam Fiqih Aqalliyat. Saya beberapa kali mendengar konsep fikih minoritas ini dan membaca hanya dengan kerlingan mata sehingga menangkap gagasannya pada ide besarnya saja, tidak secara aplikatif. Tak membayangkan bahwa saya pada suatu masa akan menghadapinya.
Abdul Muqsid Ghazali memberikan sedikit catatan pada penerapan fiqih minoritas untuk aktifitas sehari-hari, yang kemudian coba saya gunakan sebagai dasar 'ijtihad' untuk pribadi saya. Beberapa kaidah fikih digunakan untuk mengatasi kebuntuan, keraguan, dan kepayahan. Misalnya, al-masyaqqatu tajlibut-taisir (kesulitan dapat mendatangkan kemudahan), Dar'ul mafasid muqaddamu ala jalbil masalih (menghindari kemafsadatan lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan), Ad-daruratu tubihul mahdurat (kemudharatan bisa menghalalkan yang terlarang). Kalau tak ada air, maka tisu pun bisa jadi media bersuci. Mau makan enak icip-icip daging kualitas tinggi di Oz tunda dulu, sampai benar-benar yakin bisa mendapatkan jaminan produknya halal. Perjalanan masih panjang, Live your every enjoyable-moment in your life. Meskipun pada prakteknya, buat saya, merubah mindset 'yang tidak biasa menjadi biasa' itu berat, seberat menahan rindu. Tapi, saya yakin ini hanya soal waktu.
Lesson-learn nya, jangan pernah sepelekan gagasan baru hanya karena kita merasa tak berkepentingan. Kita tak pernah tau perjalanan hidup ini akan kemana. Sama halnya, jangan pernah sepelekan hitungan zakat emas yang berbatang-batang, hanya karena kebiasaan kita ngitung konversi harga beras untuk zakat fitrah. Mana tau tiba-tiba ada sekarung emas batangan di temukan di bawah tempat tidur kita. Kalau yang ini, "mimpi di siang bolong." Tapi sekali lagi, mana tau.