GELAR AKADEMIK DAN PERUBAHAN SOSIAL

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 29/06/2022 _ 29 Dzulqo’dah 1443 H

Buyung Syukron, S.Ag. SS, MA (Dosen IAIN Metro)

Tulisan singkat ini berawal dari share video yang dikirimkan oleh salah satu Dosen IAIN Metro yang bisa dikatakan produktif sebagai penggiat ekonomi dan sosial masyarakat di Kota Metro ini. Video tersebut berisi percakapan dengan seorang Dosen Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta/Solo yang diawali percakapan mengatakan bahwa: “sudah 21 tahun beliau tidak naik pangkat sebagai seorang akademisi (Dosen)”. Padahal tulisan berkelas internasional dan terindeks scopus beliau terbilang banyak. Belum lagi keikutsertaan dalam forum ilmiah internasional sebagai pembicara/peneliti/narasumber tidak terhitung jumlahnya, Beliau juga menjadi dosen terbang pada salah satu universitas di Prancis. Bahkan beliau dipercaya menjadi penulis biografy dari presiden ke-3 RI. Dan masih banyak catatan-catatan ilmiah berkelas internasional lainnya yang dilakukan beliau. Siapakah beliau? Beliau adalah alumni dari Universite Bordeux Prancis 2001. Beliau Dosen Matematika di UNS. Tapi hidup dan focus beliau tidak hanya berkutat pada science sebagai konsentrasi beliau menjalani dan menikmati perjalanan hidup ini, lebih dari itu beliau mengabdikan hampir separuh umur beliau untuk kemajuan pertanian dalam meningkatkan taraf sosial bahkan ekonomi masyarakat. Ya, Beliau adalah Dr. Sutanto Sastraredja, MA, atau lebih familiar dengan sapaan pak Tanto. Lalu kalau Pak Tanto memiliki segudang kapasitas ilmiah, apa yang menyebabkan beliau tidak naik pangkat selama hampir 21 tahun seperti yang penulis sampaikan di atas? Jawabannya singkat: beliau hanya ingin berkiprah sebagai seorang akademisi melebihi kapasitas yang telah dan layak disandangnya saat ini. Beliau tidak ingin dikenal karena teori, tapi beliau ingin dikenal karena kebermanfaatan diri beliau bagi masyarakat dengan status/predikat beliau sebagai seorang Dosen. Inilah yang menarik untuk penulis sampaikan dalam tulisan yang singkat ini.

Pak Tanto lebih banyak dan merasa comfort apabila keilmuan yang dimilikinya sebagai seorang akademisi mampu memberikan perubahan signifikasn terhadap taraf hidup social masyarakat. Bahkan beliau telah membuktikan hal tersebut tidak hanya dalam ruang lingkup Solo tapi sudah merambah level Nasional. Berbagai penelitian dan kerja nyata Pak Tanto dibuktikan dengan keterlibatan langsung beliau dalam upaya mengangkat taraf hidup para petani di lereng gunung Lawu. Beliau takjub sekali dengan banyaknya tanaman stevia yang merupakan bahan baku utama pemanis herbal di daerah tersebut. Semakin mempelajari
tanaman ini, beliau semakin kagum dengan kekayaan alam Indonesia. Tanaman stevia hanya bisa hidup di daerah tertentu. Untuk mendapatkan kualitas terbaik, dan pasar terbesar ada di luar negeri yang siap memproses bahan baku stevia menjadi pemanis buatan yang aman. Melalui tangan dingin pak Tanto, akhirnya berhasil memasarkan tanaman tersebut dan membantu para petani, Pak Tanto semakin aktif mencari hasil pertanian potensial lainnya guna meningkatkan taraf hidup para petani Indonesia.

Contoh nyata lainnya sebagai komitmen beliau dalam melakukan perubahan sosial di masyarakat dibuktikan juga dengan didirikannya perpustakaan pribadi bernama Librairie yang terintegrasi dengan café. Perpustakaan dan café ini dapat diakses oleh siapapun dan kapan pun dengan kondisi dan sistuasi yang nyaman untuk belajar. Panel Surya yang terpasang dirumahnya menunjukkan bahwa banyak sumber alam yang tersedia di Indonesia ini dapat di eksplore dalam meningkatkan nilai ekonomis masyarakat.

Bagi beliau predikat akademik yang dibuktikan dengan embel-embel gelar tidak memiliki makna dan nilai apa-apa kalau hanya digunakan sebagai tuntutan adminsitratif dan akademik semata, tapi kosong dari nilai-nilai implementatif. Akademisi (Dosen) itu menurut beliau adalah panggilan (calling), terminologi panggilan (calling) ini menurut pak tanto, Dosen harus mampu menjadikan profesi yang mampu menyelesaikan masalah kesulitan masyarakat, berkarya dalam menyelesaikan berbagai problematika hidup yang dihadapinya. Disini menurut
pak Tanto keterlibatan jiwa (soul) sangat mendominasi. Dosen (akademisi) menurut beliau juga adalah Kuasa. Kuasa menurut pak Tanto, Seorang akademisi memiliki kekuatan yang mampu menjadi solusi atas tercerabutnya permasalahan yang dihadapi masayarakat dari akar masalah yang sebenarnya. Isi kepala seorang akademisi tidak hanya berisi tentang teori tapi berisi tentang terjemahan nyata sebagai jalan keluar atas masalah yang dihadapi masyarakat. Selanjutnya Dosen adalah courier. Menurut Pak Tanto, sebagai seorang akademisi, Dosen tidak diterjemahkan sebagai seorang “tukang suruh” yang hanya memiliki kewajiban menghantarkan ilmu dengan sekedar “menggugurkan” kewajiban semata. Otoritas keilmuan seorang dosen harus diwujudkan secara nyata dengan menciptakan tradisi akademik sebagai upaya mewujudkan dimensi sosial dan ekonomi yang mapan. Pak Tanto dikenal sebagai akademisi. Latar belakang pendidikannya sebagai Doktor (strata-3) Matematika Terapan dan Pengembangan Ekonomi, mampu menggabungkan sisi bisnis dan pendidikan dengan baik. Pak Tanto juga banyak membagikan ilmu kewirausahaan pada mahasiswa melalui seminar, melakukan riset ilmiah dan menulis buku untuk berbagi ilmu.

Bagi Pak Tanto, Dosen harus mampu menciptakan proses kerja akademik di atas secara nyata, kita tidak boleh lagi disibukkan dengan urusan akademik hanya untuk mengurusi persoalanpersoalan administratif seputar kenaikan pangkat, mengisi berbagai aplikasi yang tidak memiliki atau kurang menyentuh sisi-sisi kehidupan dan kebermaknaan sosial masyarakat. Beliau bukan tidak setuju dengan capaian gelar akademik, tapi yang terpenting gelar akademik harus mampu me-suggest seorang akademisi (Dosen) untuk benar-benar menunjukkan kelasnya dalam meningkatkan tarah hidup sosial masyarakat, bukan karena trend atau tuntutan regulasi. Minimal menurut pak Tanto, Akademisi (Dosen) harus bisa merubah orientasi dan cara kita dalam dalam berfikir. Misalnya, kita tidak boleh lagi menjadikan mahasiswa sebagai obyek, mereka harus menjadi subyek dari proses akademik yang kita lakukan. Mereka harus banyak diarahkan dan dilibatkan dalam kegiatan nyata (praktik). Sehingga kelak mahasiswa benar-benar menjadi solutor atas kesulitan yang dihadapi masyarakat kita. Akademisi (Dosen) harus berani mengatakan dan membuktikan bahwa: “Anda datang ke kampus bukan hanya untuk menyelesaikan ujian tengah semester dan ujian akhir semester, tapi anda harus mampu menyelesaikan ujian hidup yang akan lebih berat ke depannya”. Inilah yang dimaksud secara  implisit dengan Kampus Merdeka, pungkas beliau.

Akhirnya, terjawab sudah walaupun secara singkat, mengapa Dr. Sutanto Sastraredja, MA  tidak naik pangkat selama hampir 21 tahun, dan belaiu tidak risau ataupun risih. Beliau tidak terlalu tertarik untuk mengurusi hal-hal seputar aspek adminsitratif sebagai seorang Dosen (misalnya: Pangkat). Bagi beliau, parameter akademisi yang sebenarnya adalah capaian maksimal atas pengabdian, bukan capaian gelar atau pangkat.

Terimakasih Pak Tanto atas pencerahannya dan semoga bisa hadir kembali di IAIN Metro.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.