Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur PascasarjanaIAIN Metro)
Istilah Gigantisme,
awalnya digunakan untuk menyebut suatu penyakit yang disebabkan oleh kelebihan
hormon pertumbuhan. Anak-anak yang terkena penyakit ini akan mengalami
pertumbuhan fisik yang tidak normal karena ia akan tumbuh sangat tinggi dan
besar, sehingga terlihat seperti raksasa. Gigantisme bisa dikenali
tanda-tandanya secara fisik, misalnya ukuran badan anak lebih tinggi dan besar secara
tidak normal dibandingkan anak seumurannya, beberapa bagian tubuhnya terlihat
tidak proporsional dengan bagian tubuh lainnya seperti pertumbuhan pada kaki,
tangan dan penebalan pada jari-jari. Gejala lainnya adalah rahang dan dahi yang
menonjol, serta hidung yang datar. Singkatnya, ini adalah sebuah penyakit yang
berdampak pada pertumbuhan yang tidak normal pada fisik seseorang. Meskipun
seseorang itu terlihat tinggi dan besar, namun sesungguhnya fisiknya sakit,
keropos dan tidak sehat.
Gigantisme
kemudian dipergunakan untuk menyebut beberapa gejala sosial yang lain dalam konteks
yang berbeda-beda. Ada istilah gigantisme kota, yaitu suatu kota besar yang memiliki ciri-ciri sebagai kota yang tidak
terstruktur dengan fasilitas yang lengkap dan memadai sehingga membuat warganya
merasa tidak nyaman dan betah tinggal di dalamnya. Menurut para ahli ilmu
sosial, umumnya kota-kota besar di Indonesia mengidap gigantisme. Sebuah kota
besar yang keropos dan tidak nyaman untuk ditinggali karena berbagai persoalan
seperti tata ruang yang buruk, kemacetan lalu lintas yang akut, fasilitas umum
yang buruk dan ruang terbuka hijau yang kurang dan sangat terbatas. Ada yang
menyebut, Jakarta bukanlah sebuah kota, tetapi the big village atau
hanya sebuah kampung besar. Jakarta dan kota-kota besar lainnya mengidap gejala
gigantisme.
Gigantisme
juga bisa digunakan untuk menyebut sebuah lembaga atau organisasi yang besar
dan kompleks namun tidak produktif dan efisien. Banyak lembaga yang memiliki struktur organisasi yang
besar, diisi oleh orang yang hebat-hebat dan berpendidikan tinggi, dengan
sumber daya dan sumber dana yang melimpah namun lembaganya tidak berkembang
dengan baik. Birokrasinya rumit dan
mengular sangat panjang, tidak produktif bahkan penuh intrik dan konflik.
Lembaga atau organisasi seperti ini sedang terkena penyakit gigantisme. Sebab
itu dalam ilmu manajeman ada istilah Small is Beautiful (Kecil itu Indah)..
Istilah ini pertama kali dikemukan oleh
E.F.Schumacer dalam bukunya Small
is Beautiful : A Study of Economics as if People Mattered pada tahun 1973.
Dalam bukunya ini ia mengatakan bahwa organisasi raksasa hampir pasti akan
menghasilkan birokarsi yang melemahkan dan ketidaksehatan. Schumacer memiliki
prasangka yang kuat dalam hal yang kecil, seperti yang ia katakan dalam frasa
paling ringkas ‘manusia itu kecil, dan karenanya, kecil itu indah’.
Gigantisme
dapat pula melanda organisasi sosial kemasyarakatan, organisasi politik,
organisasi keagamaan, bahkan masyarakat atau umat. Rasulullah SAW pernah
mengingatkan tentang kondisi umat Islam di akhir jaman yang jumhlahnya banyak namun
lemah dan tidak berdaya di tengah-tengah
pergumulan sosial. Jumlah umat Islam dikatakan Beliau saat itu banyak
namun seperti buih di lautan. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah
SAW :
“Nyaris
orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang
yang menyerbu makanan di atas piring. Seseorang berkata, “Apakah sedikitnya
kami waktu itu?” Beliau bersabda, “ bahkan kalian waktu itu banyak sekali,
tetapi kalian seperti buih di atas air. Dan Allah akan mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian
serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit Wahn”. Seseorang bertanya “ Apakah
Wahn itu?” Beliau Menjawab “Cinta dunia dan takut mati.” (HR.Ahmad, Al-Baihaqi dan Abu Dawud).
Umat yang
menderita gigantisme adalah umat yang sebenarnya jumlahnya banyak, namun mereka
tidak berkualitas. Karena tidak berkualitas, maka mereka menjadi umat yang
tertinggal, terbelakang dan hanya menjadi obyek serta tersubdordinasi oleh
kelompok lain yang boleh jadi jumlahnya lebih sedikit. Ada sinyelemen bahwa
organisasi keagamaan seperti Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah, kalau tidah
hati-hati bisa juga menderita gigantisme. Kelihatannya besar, pengikutnya
banyak, akan tetapi tidak menentukan dalam kehidupan umat Islam, bahkan
diintervensi dan tersubordinasi oleh banyak kelompok kepentingan, terutama
kepentingan politik dan kepentingan pragmatis. Semoga saja tidak demikian.
Secara
individual gigantisme juga bisa menjangkiti seseorang, dimana ia merasa besar
dan paling hebat namun sejatinya ia tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Ibarat
kata pepatah ‘tong kosong nyaring bunyinya’. Ia seolah-olah nampak sebagai
orang yang berpengetahuan luas, paling berwawasan, paling baik, dan paling
bermoral, padahal sesungguhnya orang lain menilai ia hanya seperti merak yang
memamerkan keindahan bulunya. Setelah bulu itu tertelungkup hilanglah
keindahannya. Gigantisme moral seperti ini dalam perspektif akhlak Islam
disebut dengan sikap sombong atau takabur. Padahal Rasulullah SAW mengingatkan
bahwa siapa saja yang dalam hatinya memiliki sikap takabur meskipun hanya
sebesar dzarah (atom), maka ia akan masuk neraka.
Kecil (Sedikit) Yang Menentukan
Sejarah
manusia diukir tidak oleh banyak orang, namun
oleh sedikit orang saja. Mereka itu adalah para pemikir dan ilmuwan,
filosof, para penguasa dan politisi, kaum agamawan dan ulama, seniman, serta
olahragawan. Jumlah mereka tidaklah banyak, namun bisa dihitung dengan jari,
setidaknya bila dibandingkan dengan seluruh jumlah manusia di muka bumi ini.
Mereka yang mampu mengubah dunia bukanlah sekelompok besar masyarakat dari
suatu negara atau seklompok umat manusia di bumi ini, tetapi hanya beberapa
orang yang merupakan bagian dari masyarakat yang banyak tersebut.
Kuantitas
tidak selalu bisa menentukan hitam dan putih kehidupan ini. Karena itu jangan
bangga dengan jumlah yang banyak, pengikut yang banyak, anggota yang banyak
atau segala kebesaran yang kita miliki. Hal ini tidak berarti bahwa jumlah yang
banyak tidak penting atau bisa diabaikan saja. Jumlah tetap penting, namun
jumlah yang banyak tetapi lemah tidak lebih baik dari yang sedikit namun kuat
dan berpengaruh. Berapa banyak peristiwa sejarah memberikan i’tibar kepada kita
dimana ada kelompok kecil bisa mengalahkan kelompok yang besar. Al-Qur’an
mengingatkan hal itu kepada kita di dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 249 :
….?
??? ????? ????? ???? ????? ???? ?? ?? ???
????? ???? ??? ????? ???? ???? ????? ??
???????
…Mereka
yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, "Betapa banyak
kelompok kecil dapat mengalahkan kelompok besar dengan ijin Allah". Dan
Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS.Al-Baqarah (2) : 249).
Perang Badar
adalah perang yang pertama kali terjadi dalam sejarah Islam antara kaum
muslimin dan kafir Qurais. Saat itu pasukan muslim hanya sekitar 300 orang saja
sementara dari pasukan kaum Qurais ada sekitar 1000 pasukan. Jumlah pasukam
Islam tiga kali lipat lebih sedikit dibandingkan pasukan Qurais, namun sejarah
mencatat perang ini dimenangkan secara gemilang oleh kaum muslimin yang jumlahnya
lebih sedikit. Konon orang-orang eropa, baik itu bangsa Portugis, Spanyol,
maupun Belanda, yang pertama kali datang
ke bumi nusantara jumlahnya hanya beberapa ratusa saja. Akan tetapi lihat,
mereka, terutama Belanda bisa menjajah Indonesia yang jumlah penduduknya
puluhan juta selama hampir kurang lebih 3,5 abad. Mari lihat saudara kita etnis
Tionghoa, jumlahnya tidak sampai lima persen, namun berkat kegigihannya mereka
bisa menguasai ekonomi secara nasional. Dalam setiap rilis tahunan daftar orang
terkaya di Indonesia, peringkat 10 besar selalu berasal dari kelompok etnis ini
dan hanya satu saja yang betul-betul asli pribumi.
Itulah
contoh-contoh nyata betapa kelompok yang kecil, yang jumlahnya sedikit, namun
bisa mengalahkan dan menguasai kelompok yang jumlahnya lebih besar. Mari
belajar apa dan dimana rahasia kelompok
kecil itu sehingga bisa unggul dan menang melawan yang lebi besar. Tidak perlu
iri kepada mereka yang jumlahnya sedikit tetapi sukses dengan menyalahkan
mereka sebagai penyebab kemunduran dan kekalahan kita. Namun belajarlah menarik
pelajaran dan memahami kunci kesuksesan mereka. Jadilah kecil yang menentukan
daripada besar namun ketinggalan terus. Lebih baik lagi, jadilah besar dan
menentukan. (mh.240621)