Gus Dur: Islamku, Islam Anda, Islam Kita

74habibatul-fauziyah

Penulis: Habibatul Fauziah (Mahasiswa Bidikmisi Angkatan Tahun 2016)

Abdurrahman Wahid atau yang akrab dikenal Gus Dur
merupakan salah seorang tokoh Muslim Indonesia dan merupakan presiden ke empat
Indonesia. Dalam buku yang berjudul tentang Islamku, Islam Anda, Islam
Kita (Agama Masyarakat Negara Demokrasi) 
yang membahas tentang Islamku,
Islam Anda, Islam Kita
, Gus Dur mendapati pandangan sendiri tentang Islam
yang tengah mengalami perubahan perubahan besar. Semula Gus Dur mengikuti jalan
pemikiran ekstrim yang menganggap Islam sebagai alternatif terhadap pola
pemikiran Barat.  

Kemudian setelah mengikuti Ikhwanul
Muslimin, 
di Jombang Gusdur menyebutkan dua hal sekaligus: di satu
pihak, pengalaman Gus Dur yang tidak akan pernah dirasakan oleh orang lain, dan
sekaligus kesamaan pengalaman dengan orang lain yang mengalami pengembaraan
mereka sendiri. Menurut  Gus Dur pengalaman pribadi orang tidak akan
pernah sama dengan pengalaman orang lain. Dengan begitu menurut beliau kita
harus bangga dengan pemikiran pemikiran sendiri yang berbeda dari pemikiran
orang lain. Tapi kenyataan pada sekarang ini banyak orang yang tidak percaya
tentang hasil pemikirannya sendiri dan menganggap bahwa pemikiranya jauh
tertinggal dari orang lain, bahkan dalam penulisan makalah saja para mahasiswa
tidak berani menuangkan hasil pendapatnya dalam makalah tersebut.

Maka dari situlah Gus Dur  berkesimpulan bahwa Islam
yang dipikirkan dan dialaminya adalah sesuatu yang khas, yang dapat disebut
sebagai ’Islamku’, sehingga yang demikian itu watak yang seperti itu harus
dipahami sebagai pengalaman pribadi yang patut diketahui orang lain tanpa
melalui paksaan.

Gus Dur menganggap bahwa pandangan yang dikemukakan
adalah yang paling benar diantara yang lain tidaklah rasional walaupun isinya
sangat rasional. Sebaliknya pandangan spiritual yang irrasional dapat diterima
oleh orang lain tanpa paksaan melalui bukti hal hal yang irrasional itu benar
benar terjadi dalam kehidupan nyata. Jadi pandanagan yang rasional adalah
pandangan yang dibuktikan melalui kahidupan nyata dan sudah terbukti
kebenaranya.

Dalam tradisionalisme agama dalam buku Gus Dur
disebutkan bahwa ‘Islam Anda’ seperti terjadinya haul atau peringatan Sunan
Bonang di Tuban dalam setiap tahunya, tanpa diumumkan banyak orang berduyun
duyun datang ke alun alun Tuban membawa tikar dan koran serta minuman sendiri
untuk mendengarkan urain para pemceramah tentang diri Sunan Bonang. Disini
pihak panitia hanya mengundang pihak penceramah dan hanya menyediakan meja
kursi ala kadarnya demi sopan santunya kepada para tamu undangan. Tidak penting
benar, adakah Sunan Bonang pernah hidup, dalam pikiran pengunjung demikian, dan
itulah adanya kenyataan yang ada dalam pandangan mereka, tidak terbantahkan.
Jadi menurut Gus Dur ‘Islam anda’ adalah keyakinan/kepercayaan yang sudah
tertanam dalam pikiran orang banyak dan entah apakah kepercayaan itu benar atau
tidak.

Gus Dur mengatakan dalam bukunya bahwa kesantrian
dalam pelaksanaan ajaran Islam oleh seseorang tidak menentukan kebaikan. Banyak
muslim yang tidak diberi predikat ‘muslim yang baik’ karena tidak pernah
memikirkan masa depan Islam. Sedangkan santri yang kurang sempurna dalam
menjalankan ajaran agama sering dianggap sebagai ‘muslim yang baik’, hanya
karena menyatakan pemikiran pemikiran tentang masa depan Islam.

Pandangan yang seperti inilah yang mementingkan masa
depan Islam yang disebut dengan ‘Islam kita’. Hal tersebut terjadi karena
merasa prihatin terhadap dengan masa depan agama tersebut, sehingga
keprihatinan itu mengacu pada kepentingan bersama kaum muslim. Jadi menurut Gus
Dur ‘Islam kita’ ini mencangkup ‘Islamku’ dan ‘Islam anda’, karena berwatak
umum dan menyangkut nasib kaum muslim seluruhnya dimanapun mereka berada. Dari
situ terbukti bahwa Islam kita dalah Islam yang menggabungkan antar 'Islamku'
dan 'Islam anda'. 'Islamku' adalah Islam yang telah terbukti kebenaranya yang
itu berarti rasional sedangkan Islam anda adalah kepercayaan yang sudah ada
dalam pemikiran seseorang tanpa mempedulikan bahwa hal itu benar atau tidak.

Dengan begitu jika kita ingin melestarikan ‘Islamku’
maupun ‘Islam anda’, yang harus dikerjakan ialah menolak Islam yang dijadikan
ideologi negara. Bisakah hal hal esensial yang menjadi keprihatinan kaum
muslimin, melalui proses yang sukar, akhirnya diterima sebagai ‘Islam kita’,
dengan penerimaan suka rela yang bersifat  pemaksaan pandanagn. Jadi ‘Islam
kita’ dapat disebutkan bentuk empati kita sebagai muslim terhadap kepentingan
bersama.[]

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.