metrouniv.ac.id – Selasa 04/03/2022
Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Metro)
“Beauty is in the eye of the beholder” (Pribahasa Inggris)
Lazim jika manusia bisa memiliki cara pandang berbeda terhadap satu hal yang sama. Ambil contoh sebuah tanah lapang. Seorang arsitek mungkin akan ingin membangun sebuah gedung fenomenal (landmark) di atasnya; seorang atlit menginginkan pusat kebugaran; seorang ustad membayangkan pesantren; seorang dosen memimpikan tempat kursus; seorang chef memvisualisasikan restoran, dsb. Lapangan yang sama, hadir secara berbeda di ruang imajinasi orang yang melihatnya. Lapangan menjelma menjadi bermacam bangunan indah bergantung pada cara pandang, latar pengetahuan, imajinasi, dan pandangan dunia (worldview) orang yang melihatnya. Tulisan ini menyuguhkan refleksi, bukan tafsir, yang menautkan antara hadis, pembelajaran bahasa Inggris, dan keindahan.
Lebih dari 1400 tahun yang lalu, Sang Nabi Agung bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Kemudian kedua orang tuanya yang menjadikannya seorang Yahudi, Nashrani, atau Majusi” (HR. al-Bukhari). Lama berselang, dunia pendidikan mengenal konsep nature (alami, sifat dasar) dan nurture (sifat yang disebabkan oleh lingkungan atau pendidikan). Secara nature, setiap anak terlahir suci, fitrah, Islam. Secara nurture, sifat-sifat dasar itu berpeluang menjadi lebih kuat (progressive) atau, sebaliknya, menjadi lebih lemah (regressive) atau bahkan punah bergantung pada lingkungan fisik, psikologis, sosiologis, kultural, spiritual, dan edukasional.
Kurang dari 100 tahun yang lalu, tepatnya 1960-an, dunia edukasional menampilkan seorang ahli bahasa bernama Noam Chomsky. Sang ahli mengenalkan konsep deep structure (struktur dalam, lapis batin) dan surface structure (struktur luar, struktur permukaan, lapis lahiriah). Accordingly, sebuah ‘struktur dalam’ bisa melahirkan beragam struktur luar. Misalnya, sebuah ‘struktur dalam’ berupa Subjek + Predikat + Objek yang ke dalamnya ‘ditiupkan’ imaji sayang dan kasih, akan melahirkan beraneka ‘struktur luar’ seperti: Aku cinta kamu, I love you (Inggris), ana uhibbuki(ka) (Arab), wo ai ni (Mandarin), ich liebe dich (Jerman), ikam buguh jamo sekam (Lampung), aku tresno marang kowe (Jawa), dan sebagainya. Struktur dalamnya sama, ekspresi kebahasaannya berbeda.
Sepintas, ada pertalian antara lapangan kosong, sifat fitrah pada anak yang baru lahir, konsep nature, dan teori deep structure. Semuanya tampak menunjuk pada sebuah bahan baku (raw material) yang dapat dikreasikan secara progresif atau regresif. Dalam contoh progresif berskala kecil, seorang pengajar bahasa Inggris dapat menggunakan struktur dalam (Subject + Predikat + Objek) untuk mengajarkan (nurture): (1) kegemaran membaca (reading habit) melalui kalimat: I enjoy reading (Saya suka membaca); (2) kecintaan pada sang Nabi: I love Muhammad s.a.w (Saya mencintai Nabi Muhammad s.a.w.) ; (3) kebhinekaan: We celebrate diversity (Kami merayakan kebhinekaan); (4) moderasi: I respect differences (Saya menghormati perbedaan), dan lain sebagainya menyesuaikan intensi para pengajar. Kiranya, beberapa contoh kalimat itu adalah kreasi progresif untuk menegaskan bahwa pembelajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah Islam should be more than just teaching a language. Tidak hanya mengajarkan bahasa Inggris, namun juga nilai-nilai yang menopang ajaran ke-Islaman.
Syahdan, lapangan kosong itu bisa diisi dengan berbagai macam bangunan Indah seperti sebuah landmark, atau pesantren, atau pusat kebugaran dan sebagainya. Dan di tengah semangat integrasi dan interkoneksi, di atas lapangan yang sama bisa didirikan sebuah pesantren berarsitektur unik, yang memiliki pusat kebugaran, ruang belajar, dan restoran yang nyaman. Adalah benar bahwa keindahan itu bisa jadi sangat subjektif (Beauty is in the eye of the beholder). Namun tidaklah keliru untuk mengatakan bahwa satu keindahan dengan keindahan lain bisa saling mengisi.
Wallahu a’lam.