Haji dan Kepekaan Sosial

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 12/06/2024 – 5 Dzulhijjah 1445 H

Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro)

Pada saat banyak orang berpikir keras tentang melihat Ka’bah untuk memenuhi panggilan Nabi Ibrahim, di saat yang sama ada sebuah keluarga justru berpikir keras bagaimana membangun madrasah di kampungnya dengan uang yang telah bertahun-tahun mereka tabungkan untuk tujuan yang sama: berangkat ke Tanah Suci. Manakah yang lebih mulia: pergi haji atau membangun madrasah yang terbengkelai akibat ketiadaan dana? Pemerintah nampak belum juga terbuka mata dan telinganya untuk ikut membantu madrasah swadaya masyarakat ini. Peme rintah kerjanya hanya mengurus izin operasional madrasah kalau semua syarat-syarat pendirian sudah terpenuhi. Jika belum, jangankan membantu mengatasinya, mereka justru mempersulit ikhtiar masyarakat itu sebelum persyaratan formal dipenuhi. Padahal membangun madrasah adalah tugas konstitusional yang diamanatkan oleh negara kepada pemerintah, bukan masyarakat. Anehnya, di saat masyarakat berinisiatif membangun sekolah, pemerintah malah berbuat sebaliknya. Pemerintah hanya tampil sebagai “tukang stempel” yang cerdas.

Ironi pemerintah ini setali tiga uang dengan cara berpikir sebagian masyarakat kita yang rajin naik haji secara berulang- ulang tetapi kondisi masyarakat di lingkungannya tak berdaya dari segi ekonomi maupun pendidikan, dia tutup mata dan telinga rapat-rapat. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa dengan lingkung- annya. Ternyata, tanggung jawab sosial orang-orang yang berduit di negeri ini sungguh rendah. Ibadah haji yang semestinya tidak saja melahirkan kesalehan individual melainkan kesalehan sosial, tidak mewujud dalam kenyataan hidup bermasyarakat dan beragama. Kebanyakan di antara kita pergi haji sebagai “wisata spiritual” setelah terjerat kasus korupsi atau sekedar “pamer prestise” saat diangkat menjadi pejabat anu.

Apa yang terjadi di tengah masyarakat kita pun tidak banyak menolong. Bayangkan, ada tetangga anaknya tidak bisa melan- jutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi tetapi tetangga di samping rumah justru mengadakan pesta mewah sunatan anak dan pergi haji berkali-kali tanpa ada kepekaan sosial secuil pun dengan nasib tetangganya itu. Padahal berkali-kali Allah meng- ingatkan kita bahwa di dalam harta orang-orang kaya itu ada hak yang pasti bagi orang-orang miskin, baik diminta maupun tidak. Penegasan ini hendaknya menggugah siapa pun yang mengaku sebagai umat Muhammad untuk bersedia memberi apa yang seharusnya menjadi hak tetangga yang tak beruntung itu. Alangkah besar dosa orang-orang pergi haji tetapi tetangga- nya kelaparan. Alangkah celaka orang-orang yang pergi haji berkali-kali tetapi amal sosial di lingkungan sekitarnya tidak per- nah ditunaikannya. Lantas apa makna haji yang disandangnya itu? Apakah dia hanya berangkat haji dengan niat semata-mata melihat Ka’bah setelah itu puaslah hatinya? Apakah demikian maksud dan tujuan panggilan Nabi Ibrahim ini untuk umat manusia di muka bumi? Jika sesederhana itu maksudnya, barangkali Allah tidak sudi memerintahkan umatnya untuk berangkat ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji. Sebab makna paling hakiki dari ibadah umat Islam ini adalah setelah bersua seluruh umat manusia di muka bumi ini, ada hikmah yang bisa dipetik setelah bersama-sama melakukan ritual haji yang penuh dengan nilai-nilai eskatalogis sekaligus nilai-nilai sosiologis tersebut. Salah satu nilai sosiologis yang patut dipetik adalah berkumpulnya manusia di Padang Arafah tanpa membedakan suku bangsa, warna kulit, kaya-miskin, dan posisi politik di tengah masyarakat. Semua larut dalam asma Allah dan hanya takwa yang mampu membedakan posisi mereka di hadapan Allah.

Dalam posisi seperti itulah seharusnya menyadarkan kita bahwa salah satu bentuk ketakwaan manusia adalah kepekaan sosialnya atas kesulitan dan penderitaan orang lain. Bukankah Rasulullah pernah mengingatkan, “Seorang Muslim dengan Muslim lainnya bagaikan anggota tubuh, bila salah satu sakit maka sakitlah seluruh tubuh.” Pesan ini terasa mahal untuk diwujudkan di saat kita menyaksikan dengan pilu di tengah masyarakat kita bahwa seakan-akan dengan jelas sekali kita menyaksikan posisi spiritual dari pesan ini berjalan ke kanan sementara umatnya berjalan ke kiri, meskipun mereka itu bergelar haji dua kali, haji tiga kali, atau haji sepuluh kali.

Kepuasan Pribadi Vs Kepentingan Umat

Persoalan sekarang adalah perlukan ibadah haji itu dilakukan berkali-kali, seperti yang dilakukan oleh sebagian kalangan umat Islam yang melaksanakannya bukan hanya sekedar dua atau tiga kali, tetapi malah mencapai empat sampai dengan lima kali. Konon, di zaman dulu, ada yang melakukannya setiap tahun. Memang, uang yang dipergunakan untuk melakukan ibadah haji itu adalah uangnya sendiri, tetapi sejauh manakah manfaat yang diperoleh dari mengerjakan ibadah haji berkali-kali itu, dibanding- kan dengan manfaat yang akan diperoleh umat Islam secara keseluruhan, apabila uang yang akan dipergunakan mengerjakan ibadah haji berkali-kali itu, dapat disumbangkan untuk mengatasi kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan yang menyelimuti sebagian umat Islam dewasa ini. Bukankah negeri yang molek ini sedang berada diambang kebangkrutan?

Benar bahwa ibadah haji itu nikmat. Bahkan, sangat masuk akal bila orang kemudian selalu terpaut dengan Ka’bah bila sekali saja bertemu dengannya, maka secara spiritual, ia langsung mencecapi kenikmatan berhaji. Malahan, kenikmatannya itu tak terlu- kiskan kata-kata. Apalagi melalui ibadah haji, kita dapat bertemu dengan jutaan perwakilan umat Islam di seluruh dunia, justru pintu kenikmatan itu kian melimpah merasuk dada. Cukupkah kenikmatan spritual pribadi itu kita nikmati sendiri, sementara di lingkungan kita ada orang-orang miskin, ada kebutuhan mem- bangun madrasah, memperbaiki jalan, dan merenofasi masjid?

Manakah lebih utama, kepentingan kepuasan spritual pribadi ataukah kepentingan orang banyak? Bukankah nota bene meraka adalah saudara-saudara kita seiman dan seagama? Tegakah rasanya kita membiarkan mereka hidup dalam kemelaratan, sehingga Rasulullah saw mengingatkan, “Kemiskinan itu sangat dekat dengan kekafiran.” Bukankah uang itu lebih baik dipergunakan untuk membantu dan membentengi mereka dari rayuan keka- firan? Haji kita lakukan sekali dalam seumur hidup maka telah lepas kewajiban kita terhadap Allah SWT, tetapi umat Islam kita biarkan kelaparan, merana dalam kesengsaraan, menyebabkan kita berdosa seumur hidup. Nabi bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu yang tidur nyenyak karena kekenya- ngan, sementara tetangganya tidak bisa tidur karena kelaparan.” Sudahkah kita merealisir salah satu pesan penting ini?

Haji untuk Siapa?

Pertanyaan yang sering diajukan orang adalah haji yang kita tunaikan itu sesungguhnya untuk siapa? Benarkah haji yang sarat dengan nilai-nilai sosial maupun spiritual itu hanya untuk diri sang haji itu sendiri? Jawaban atas pertanyaan ini, sedikit telah kita singgung di muka bahwa karena dimensi haji itu bukan saja bersifat personal commitment (tanggung jawab pribadi) tetapi juga social commitment (tanggung jawab sosial). Wujud dari personal commitment adalah menjalankan ritual haji sesuai dengan prose- dur yang disyariatkan agama sebagaimana dicontohkan oleh Ra- sulullah saw. Sedangkan wujud paling kongkret dari social com- mitment adalah membelanjakan sebagian harta yang dimiliki un- tuk kepentingan orang lain yang lebih membutuhkan. Dalam bahasa yang lebih emosional, orang biasa menyebutnya dengan istilah “kepekaan sosial.” Yakni suatu sikap peduli dan mudah tergetar oleh penderitaan orang lain. Perasaannya halus, air matanya mudah bercucuran, dan tangannya gampang memberi, bila menyaksikan kesulitan orang lain di depan matanya.

Bahkan dalam tulisan lainnya kita pernah menggambarkan bagaiman sikap dua orang suami-istri yang bersedia menunda haji mereka hanya karena mereka menyaksikan penderitaan dan kesengsaraan penduduk di sebuah desa miskin. Hati mereka tak kuasa melanjutkan perjalanan menuju Tanah Suci demi membela nasib masyarakat yang amat mengenaskan itu. Mereka batal membelanjakan uangnya untuk pergi haji tetapi mereka membe- lanjakan uang mereka di jalan Allah yang lain, yakni membantu masyarakat miskin yang mereka saksikan di depan mata. Apa yang terjadi kemudian, ternyata mereka bukan saja memperoleh pahala dari Allah, tetapi juga menghajimabrurkan mereka melalui tangan dua malaikat yang menyerupai keduanya. Subhanallah!

Wallahu a’lam.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.