Haji dan Nilai-nilai Kemanusiaan

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 26/06/2024 – 19 Dzulhijjah 1445 H

Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro)

Kita semua patut bersyukur bahwa setiap tahun umat Islam dari seluruh pelosok Tanah Air berduyun-duyun dan berbondong-bondong melaksanakan ibadah haji. Padahal ibadah haji apabila ditinjau dari sudut ekonomis adalah tergolong dalam kate- gori ibadah yang sangat mahal. Sebab, memerlukan biaya yang sangat banyak dan kesehatan yang prima. Berbeda halnya dengan ibadah lainnya seperti ibadah shalat yang tergolong murah walau bukan gratis, karena hanya memerlukan penutup aurat untuk melaksanakannya.

Namun, dari tahun ke tahun umat Islam selalu beramai-ramai untuk melaksanakannya. Dan anehnya, bagi orang yang telah berkali-kali mengerjakan ibadah haji, tetap saja mempunyai keinginan yang sangat kuat untuk dapat melaksanakannya lagi. Oleh karena itu, kita tidak perlu heran, kenapa ada orang yang melaksanakan ibadah haji berkali-kali, padahal kewajibannya hanya sekali seumur hidup.

Kenyataan tersebut menjadi tanda tanya besar bagi kita, ada apa yang tersembunyi di dalam pelaksanaan ibadah haji, sehingga ummat Islam berlomba-lomba untuk melaksanakannya. Dan bahkan orang miskin sekalipun yang secara rasional dan ekonomis tidak mungkin melaksanakannya, mempunyai keinginan dan menanamkan niat yang kuat untuk dapat melaksanakan ibadah haji pada suatu saat nanti.

Untuk menjawab hal ini, Prof. Dr. Ali Syariati, seorang pemikir Islam kontemporer menyatakan bahwa, ibadah haji adalah merupakan salah satu ibadah yang sangat penting dan berpengaruh dalam membentuk kepribadian seorang Muslim. Sebab, ibadah haji memberikan motivasi kepada nasion muslim, dan yang mem- buat warganya sadar, merdeka, terhormat dan memiliki tanggung jawab sosial dalam masyarakatnya.

Haji pada hakikatnya adalah merupakan napak tilas atas peristiwa yang terjadi pada diri Nabi Ibrahim as beserta keluarganya, yaitu Siti Hajar (istrinya) dan Ismail (putranya). Pelak- sanaan ibadah ini pada dasarnya adalah merupakan pendalaman atas sikap, perilaku dan ajaran Nabi Ibrahim AS. Sebab Nabi Ibrahim dijadikan Allah SWT sebagai teladan bagi seluruh umat manusia sesuai firman-Nya, Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu (Ibrahim) Imam (teladan) bagi seluruh manusia” (Qs. Al-Baqarah: 124).

Peneladan terhadap Nabi Ibrahim ini diwujudkan dalam bentuk ibadah haji dengan berkunjung ke Makkah, karena beliau- lah yang membangun (kembali) fondasi Ka’bah (Qs. Al-Baqarah: 127) dan beliau pulalah yang diperintahkan untuk mengumandangkan syari’at haji sesuai dengan firman Allah SWT dalam al- Qur’an al-Karim: “Dan serulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (Qs. Al-Hajj: 27). Firman inilah menjadi pijakan pelaksanaan ibadah haji.

Itulah Nabi Ibrahim AS, Bapak Monoteisme bagi seluruh umat manusia yang bukan hanya telah menemukan tentang keesaan Tuhan Seru Sekalian Alam (Qs. Al-An’am: 74-83), tetapi juga satu-satunya nabi dan rasul yang dapat diberi kesempatan untuk mengetahui tentang hari kebangkitan. Sebab, hanya beliaulah yang bermohon kepada Allah SWT bagaimana caranya Allah membangkitkan umat manusia yang telah berserakan, dan Allah pun telah mengabulkannya (Qs. Al-Baqarah: 260).

Apabila dilakukan pengkajian dan penghayatan yang mendalam tentang ibadah haji, maka akan ditemukan bahwa dalam pelaksanaan ritual ibadah haji mengandung seperangkat nilai-nilai kemanusiaan. Dalam ritual ibadah haji bukan hanya sekedar mengandung persamaan sesama manusia, tetapi juga mengandung seperangkat nilai luhur yang menghiasi jiwa pemiliknya. Hal itu dapat dilihat dalam ritual-ritual ibadah haji berikut ini.

Pakaian Ihram

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pakaian adalah simbol bagi pemakainya. Pakaian dapat menjadi pembeda antara seseorang dengan yang lainnya. Pembedaan tersebut mengantarkan kita kepada perbedaan status sosial, ekonomi atau profesi. Pakaian dapat juga memberi pengaruh psikologis bagi pemakainya, sekalipun sama-sama kain tetapi karena kualitasnya berbeda maka akan membentuk pola pikir dan pola rasa yang berbeda bagi pemakainya. Atau bahkan kainnya sama, tetapi karena jahitannya berbeda maka itu juga akan membuat kita memperlakukan diri kita secara berbeda.

Oleh karena itu, semua pakaian yang selama ini dipakai harus ditanggalkan terutama (meminjam istilah Dr. Ali Syariati) pakaian serigala yang mlambangkan kekejaman dan penindasan, pakaian tikus yang melambangkan kelicikan, pakaian anjing yang melambangkan tipu daya, pakaian domba yang melambangkan penghambaan dan pakaian apa saja, warna apa saja dan buatan siapa saja, harus ditanggalkan, diganti dengan pakaian ihram, pakaian berwarna putih dan tidak berjahit sebagai sebuah perlambang bahwa semua pakain, termasuk di dalamnya kedududukan, status sosial, kekuasaan dan kehormatan semua harus ditanggalkan. Dan saatnya dipakai pakaian polos berwarna putih, persis sama dengan pakaian yang kelak dipakai masuk kubur meninggalkan dunia yang fana ini, pergi menghadap sang Khaliq, Allah SWT.

Dengan demikian seorang yang telah melaksanakan ibadah haji pasti akan sadar bahwa hidup di dunia ini adalah sementara, ia akan sadar bahwa manusia penuh dengan kelemahan dan keterbatasan. Dia juga sadar bahwa semua yang hidup di dunia ini adalah sama, tidak ada perbedaan antara kulit putih dengan kulit hitam, tidak ada perbedaan antara pejabat dengan rakyat jelata, yang menjadi pembeda di antara sesama manusia hanyalah kualitas ketaqwaan kepada Allah SWT, sesuai dengan firmanNya : “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling taqwa” (Qs. Al-Hujrat : 13).

Thawaf dan Ka’bah

Thawaf sebagai salah satu ritrual ibadah haji dimaksudkan adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali yang di dalam al-Qur’an disebutkan sebagai rumah suci yang pertama didirikan untuk umat manusia. Penegasan ini tertuang dengan baik sekali melalui firman Allah SWT bahwa, “Sesungguhnya rumah suci yang pertama didirikan untuk manusia adalah yang ada di lembah Bakkah itu sebagai rumah yang diberkahi Allah dan sebagai petun- juk bagi seluruh alam” (Qs. Ali Imran: 96).

Ka’bah yang dikunjungi mengandung hikmah yang amat berharga dari sisi kemanusiaan, sebab di sana ada ‘Hijir Ismail’ yang arti harfiahnya adalah ‘pangkuan Ismail’. Di sanalah Ismail putra Ibrahim, pembangun Ka’bah ini, pernah berada dalam pangkuan ibunya yang bernama Hajar, seorang wanita hitam, miskin bahkan budak, yang konon kuburannyapun berada di tempat ini. Namun demikian, budak wanita yang dipandang hina oleh manusia, ditempatkan Tuhan di sana (atau peninggalannya diabadikan Tuhan) untuk menjadi pelajaran bagi seluruh umat manusia. Bahwa, Allah SWT memberi kedudukan kepada seseorang tidak memandang keturunan atau status sosialnya, tetapi memandang pada takwa dan amal shaleh orang itu kepada Al- lah (Qs. Al-Hujurat: 13). Di samping itu, Allah juga melihat ikhtiar dan usaha keras seseorang untuk berhijrah/berpindah dari situasi gelap (kejahatan) dan keterbelakangan menuju siatuasi terang (kebaikan) dan kemajuan.

Thaawaf

Thawaf mengelilingi Ka’bah yang mengandung nilai kemanusiaan yang sangat monumental ini, secara esensial adalah menirukan perilaku jagad raya yang selalu beredar mengelilingi matahari. Tindakan mengelilingi itulah yang disebut dengan thawaf. Jadi, Thawaf sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh manusia pada saat berhaji, justru ketika thawaf itu manusia menirukan perilaku jagad raya yang mengelilingi kepada satu pusat yaitu matahari. Dengan berthawaf kita seakan-akan menegaskan diri sebagai bagian dari seluruh alam raya yang tunduk da patuh kepada sang Pencipta.

Ka’bah adalah melambangkan ketetapan (kesucian) dan keabadian Allah, sedangkan manusia-manusia yang berbondong-bondong bergerak mengelilinginya, melambangkan aktifitas dan transisi makhluk-makhluk ciptaannya, aktivitas dan transisi yang terjadi secara terus menerus. Hal ini merupakan sebuah perlambang bahwa manusia selalu berevolusi menuju kesempurnaan pengabdian dan kekhalifahannya di muka bumi.

Sa’i

Setelah selesai melaksanakan Thawaf yang menjadikan pelakunya larut dalam kebersamaan bersama-sama manusia lainnya menuju satu tujuan yang sama yakni berada dalam lindungan Allah, maka dilaksanakan pulalah Sa’i. Dalam pelaksanaan Sa’i ini lagi-lagi muncul Hajar, budak wanita bersahaja yang diperistrikan Ibrahim as, diperagakan penga- lamaannya mencari air untuk putranya Ismail yang kehausan.

Hajar adalah simbol wanita yang begitu percaya terhadap titah Allah SWT. Hal ini telah ia buktikan sejak ia ditinggalkan oleh suaminya di suatu lembah yang tandus bersama putranya. Namun kepercayaannya itu tidaklah membuatnya berpangku tangan, tetapi justru mendorongnya untuk berusaha mencari air bagi anaknya yang kehausan.

Usahanya ia mulai dengan berlari-lari kecil dari bukit Shofa menuju bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Shafa arti harfiahnya adalah kesucian dan ketegaran, sebagai lambang bahwa setiap usaha yang dilakukan di dunia ini haruslah dimulai dengan kesucian dan ketegaran, sebab tanpa ini maka usaha akan menyimpang dari rel kebenaran. Marwah arti harfiahnya adalah ideal manusia, sikap menghargai, bermurah hati dan memaafkan orang lain. Ini berarti bahwa manusia haruslah mempunyai idealisme yang tinggi yang disertai dengan sikap menghargai orang lain, bermurah hati dan memberikan maaf kepada orang lain dan bahkan berbuat baik terhadap orang yang pernah berbuat tidak baik terhadap kita.

Berlari-lari kecil dari bukit Shafa menuju bukit Marwah sebanyak tujuh kali adalah sebuah perlambang bahwa dalam hidup dan kehidupan ini haruslah memiliki sifat optiomisme dan perjuangan. Sebab, tanpa ini mustahil pertolongan Allah akan datang, sebagaimana sadarnya Siti Hajar bahwa keringnya kerongkongan putranya Ismail tidak terobati dengan hanya menunggu datangnya rahmat Allah, tetapi rahmat Allah itu harus dikejar dengan usaha sungguh-sungguh disertai dengan keyakinan bahwa semua yang melata di dunia ini sudah dijamin Allah rezkinya, sesuai dengan firman Allah, “Dan tidaklah ada satu binatang yang melata di muka bumi ini kecuali Allah telah menjamin rezekinya.” (Qs. Hud [11]: 6).

Wuquf di Arafah

Wuquf di Arafah adalah rukun haji yang teramat penting sampai-sampai Nabi bersabda “Al-Hajju ‘Arafah” (Haji itu adalah wuquf di Padaang Arafah). Tanpa melakukan wuquf di Padang Arafah maka haji seseorang dianggap tidak sah.

Adalah satu kisah menarik bahwa dahulu Adam AS dan Hawa isterinya setelah dikeluarkan oleh Allah SWT dari surga karena terlanjur memakan buah Khuldi (larangan), mereka berpisah dalam waktu yang cukup lama, mereka dipertemukan Allah kembali di Arafah. Mungkin atas dasar ini tidak salah aapabila ada yang meyakini bahwa orang yang belum mempunyai jodoh, datanglah ke arofah, berdo’aalah di sana, mohonkan kehadirat Allah SWT agar cepat diberikan jodoh, insya Allah do’anya akan dikabulkan Allah SWT.

Soal jodoh menjodoh itu tidaklah terlalu penting, yang paling penting adalah Nabi Muhammad SAW menyampaikan Pidato Perpisahan (Khuthbatul Wada’) di Padang Arafah. Isi pidato itu sangat menarik, menggugah, menggerakkan, dan mengharukan. Makna keseluruhan isi pidato itulah yang perlu dihayati, diamalkan dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Nabi memulai pidatonya dengan pertanyaan, “Wahai sekalian ummat manusia, tahukah kamu dalam bulan apakah kamu ini, di hari apakah kamu ini, dan di negeri apakah kamu ini?”. Hadirin ketika itu spontan menjawab, “Kita semua berada di hari yang suci, di bulan yang suci dan di tanah yang suci.” Mendengar jawaban itu, Nabi melanjutkan pidatonya: “Oleh karena itu, ingatlah bahwa hidupmu, hartamau dan kehormatanmu itu suci, seperti sucinya hari ini, bulan ini dan di negeri yang suci ini, sampai kamu datang menghadap Tuhan.” Sejenak Nabi berdiam, tetapi kemudian berkata lagi dengan nada suara yang lebih tinggi. “Wahai manusia! Sekarang dengarkanlah aku, dengarkanlah aku, bahwa kamu akan hidup dengan tenang jika kamu selalu ingat ini, ‘kamu tidak boleh menindas orang lain, kamu pun tidak boleh berbuat zalim kepada orang lain dan tidak boleh mengambil harta orang lain secara tidak halal’.”

Pidato Nabi inilah yang kemudian dikenal sebagai pidato tentang Hak Asasi Manusia (HAM). Jauh sebelum orang-orang Barat sekarang berteriak tentang HAM, Nabi Muhammad SAW telah mencanagkannya terlebih dahulu sejak hampir lima belas abad yang lalu. Pada saat Eropa masih terlelap dalam kebodohan tentang HAM, umat Islam telah diajari dan bahkan telah melaksanakan HAM dalam kehidupan mereka sehari-hari. Rasulullah jauh-jauh hari telah meletakkan dasar-dasar HAM secara jelas dan tegas di saat berkumpulnya umat Islam seluruh dunia, dan telah diperaktikkan oleh beliau dan para sahabatnya, dmaupun generasi sesudahnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara nyata.

Orang yang telah wukuf di Arafah akan selalu sadar sepenuh hati bahwa manusia dan kemanusiaan harus dijunjung tinggi, sebab mereka sadar bahwa manusia adalah puncak tertinggi ciptaan Allah, tidak ada yang lebih indah dan lebih sempurna dari- padanya, sesuai dengan firman Allah: “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya” (Qs. At-Tien: 4).

Melontar Jumrah

Dari Arafah, para jama’ah haji menuju Muzdalifah untuk mengumpulkan batu-batu kecil sebagai “senjata” untuk melontar Jumrah ketika mereka tiba di Mina. Melontar Jumrah adalah simbol perlawanan sengit dari manusia beriman kepada godaan musuh utama mereka, yaitu syaithan (setan). Dari Mudzalifah, kaum Muslimin melanjutkan perjalanan mereka kemuju Mina, di sanalah para jama’ah haji melampiaskan kebencian dan kema- rahan mereka masing-masing terhadap musuh utama yang selama ini menjadi penyebab segala kealpaan dan kegetiran yang dialami umat manusia, dengan cara nmelontar jumrah: baik ula, wustha, maupun `aqabah.

Ketika Nabi Ibrahim as hendak menyembelih putranya Ismail AS, syaithan datang menggoda Ibrahim agar jangan mau menyembelih putra kesayangannya itu. Ibrahim mengambil batu dan melempar syaithan laknatullah yang menggodanya, sampai setan itu tidak berdaya lagi menggodanya.

Perilaku syaithan yang selalu menggoda dan menjerumuskan ummat manusia ini telah ia mulai sejak Nabi Adam AS dan berhasil mengeluarkannya dari sorga. Perlakuan semacam itu diulanginya lagi kepada Nabi Ibrahim, namun ia tidak berhasil, sebab Ibrahim melempari, mengusir, dan memeranginya sampai syaithan takluk tak berdaya. Katakberdayaan setan tersebut sekaligus melambangkan kemenangan Nabi Ibrahim dalam melawan ego pribadinya di atas ego ketuhanannya.

Ritual melontar Jumrah yang diperagakan oleh jama’ah haji pada dasarnya adalah bermakna melempari dan memerangi setan kapan dan di mana pun dia berada. Sebab, setan merupakan musuh utama bagi umat manusia. Setan harus dapat ditaklukkan oleh setiap orang dan bukan sebaliknya, supaya umat manusia terbebas dari tipu muslihat dan rayuannya.

Apabila seseorang telah dapat menaklukkan setan, baik setan yang berwujud asli maupun setan tiruan berwujud manusia, berarti yang bersangkutan telah ikut menolong dan menyelematkan umat manusia dari kehancuran, kehinaan, dan kesengsaraan, menuju puncak kebahagiaan, kemuliaan, dan keselamatan hidup di dunia maupun akhirat.

Apabila nilai-nilai kemanusiaan yang terdapat pada ritual ibadah haji seperti diuraikan di atas, melekat pada diri setiap or- ang yang telah melaksanakan ibadah haji, para hujjaj tersebut dapat menaburkannya kekuatan istiqamahnya itu kepada seluruh umat manusia, maka dunia ini terasa bagaikan bayang-bayang surga di muka bumi.

Wallahu a’lam.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.