metrouniv.ac.id – 12/07/2024 – 6 Muharam 1446 H
Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)
Setelah pelaksanaan puncak ibadah haji selesai, secara bertahap jamaah haji Indonesia dipulangkan ke tanah air. Jamaah haji kloter CKG 33 mendapat giliran dikembalikan ke tanah air pada Ahad, 7 Juli 2024, pukul 18.50 WAS, melalui Bandara Abdul Aziz Madinah. Tuntas sudah keseluruhan rangkaian ibadah haji tahun 1445 H. Bertepatan dengan tanggal 1 Muharam 1446 H kami pulang kembali ke tanah air. Pelaksanaan ibadah haji sejak berangkat hingga pulang kembali ke tanah air memakan waktu sekitar 41 hari. Waktu yang cukup lama tentunya karena jika dihitung dari pelaksanaan inti ibadah dari sejak umrah hingga rukun dan wajib haji sebenarnya hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu hingga sepuluh hari saja. Yang bisa menerapkan waktu ibadah haji seperti itu untuk Indonesia baru haji khusus dan haji furoda. Haji reguler belum bisa.
Harus dimaklumi mengorganisir dan mengatur dua ratus empat puluh ribu orang tentu tidaklah mudah. Mengatur jadwal penerbangan, pemondokan, catering, serta pelaksanaan ibadahnya. Dengan berbagai pertimbangan dan pengaturan waktu, maka jadilah waktu sekitar empat puluh hari itu yang bisa digunakan. Kedepan tentu kita berharap waktu pelaksanaan ibadah haji Indonesia bisa lebih diperpendek lagi waktunya. Waktu yang lebih pendek akan dapat membuat pelaksanaan ibadah haji lebih efektif dan lebih efisien dari sisi biaya dan tenaga. Biaya yang lebih kecil akan memperingan calon jamaah haji.
Jamaah haji negeri Jiran Malaysia konon katanya sejak tahun 2023 sudah menerapkan waktu pelaksanaan ibadah haji hanya sekitar 35 hari, dari yang tadinya sama dengan Indonesia yaitu sekitar 40 hari. Ada waktu yang dipangkas yakni waktu di Madinah hanya dibuat lima hari saja. Resikonya shalat arbain (shalat jamaah empat puluh waktu) di masjid Nabawi tidak bisa terpenuhi. Tidak mengapa, karena itu sifatnya hanya tambahan dari pelaksanaan ibadah haji. Indonesia saja yang waktunya 41 hari, ternyata sekarang ini shalat arbain juga tidak terpenuhi. Kurang dua atau tiga waktu shalat di Masjid Nabawi.
Pengaturan jadwal penerbangan dan jumlah maskapai yang bekerjasama dengan pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama mungkin menjadi salah satu problem utama lamanya waktu ibadah haji reguler. Pengaturan jadwal dengan dua gelombang dimana gelombang satu dari tanah air menuju Madinah dulu baru ke Mekah dan pulang lewat Mekah. Sementara gelombang dua dari tanah air menuju Mekah dan baru ke Madinah dan pulang lewat Madinah. Ternyata dalam kenyataan tidak selalu bisa konsisten. Beberapa kelompok terbang ada yang datang lewat Madinah baru ke Mekah dan pulang ke tanah air lewat Madinah lagi. Ada juga yang datang lewat Mekah, baru ke Madinah dan pulang lewat Mekah lagi. Padahal jarak Mekah ke Madinah atau sebaliknya cukup jauh yaitu empat ratusan kilometer. Ini akan sangat melelahkan bagi jamaah haji. Namun itu dimaklumi karena tadi, pengaturan jadwal penerbangan.
Jamaah haji kloter CKG 33 ternyata dari Madinah tidak langsung terbang ke Jakarta namun singgah dulu di Bandara Kuala Namu Medan Sumatera Utara. Singgah saja untuk mengisi bahan bakar. Ini juga di luar perkiraan jamaah. Mulanya sejak awal jamaah berpikir dari Madinah akan langsung ke Jakarta ternyata transit dulu ke Medan. Jarak Madinah-Jakarta mungkin yang lebih jauh dibandingkan dengan Jedah-Jakarta, sehingga pesawat perlu diisi bahan bakarnya kembali. Kerinduan jamaah untuk segera berkumpul dengan keluarga harus sedikit ditunda dulu karena ada satu dua jam tambahan waktu perjalanan.
Kepulangan setelah sekian lama meninggalkan keluarga, semua kesibukan dan tanah air tercinta selalu menimbulkan kesan emosional. Kerinduan yang membuncah pada akhirnya akan terbayarkan. Di luar semua itu, salah satu yang juga dirindukan adalah makanan Indonesia yang dimasak dan diolah dengan bumbu asli Indonesia. Meskipun selama di Arab Saudi jamaah haji disuguhkan makan tiga kali dengan cita rasa Indonesia, namun tetap saja tidak seenak yang dimasak dan diolah di Indonesia. Apalagi menu makan di Arab Saudi cenderung monoton dan kurang variatif. Kurang berkuah dan minim sayuran. Wajar, jika diperjalanan pulang salah satu topik yang dibahas adalah menu makanan apa yang akan disantap setelah sampai ke tanah air. Semua Kekayaan kuliner Indonesia disebut. Seolah-olah mau ‘balas dendam’. Ada-ada saja.
Tidak kalah penting dari semua itu adalah bagaimana jamaah haji menjaga kemabruran hajinya setelah nanti pulang ke rumah masing-masing dan beraktivitas kembali seperti biasa. Doa yang selalu dipanjatkan agar memperoleh haji yang mabrur harus bisa dibuktikan dalam kehidupan nyata. Kemabruran itu bukan soal pengakuan gelar haji tetapi lebih pada perubahan pada diri sendiri ke arah yang lebih baik serta kemanfaatan diri bagi orang lain. Akan terlihat nanti dampak ibadah haji dalam setiap orang yang pulang dari tanah suci. Apakah akan menjadi lebih baik dari sebelumnya, tetap saja atau sebaliknya lebih buruk lagi. Yang diharapkan tentu, ibadahnya akan semakin baik, sikap kepeduliannya terhadap sesama semakin meningkat dan semakin memberikan manfaat bagi semesta alam. (MH. 12.07.24).