House Dinner Party: Cara “Saya” Mengenal “Mereka”

4950Mufliha-Wijayati2

Penulis: Mufliha Wijayati (Dosen IAIN Metro, Penerima Program Beasiswa Partnership in Islamic Education Scholarships (PIES) 2018) 

Setelah sekian lama absen tidak ikut house dinner party yang dihelat mingguan, dengan berbagai alasan dan pertimbangan, sejak 2 minggu lalu kuputuskan untuk gabung kembali. Dulu lebih karena alasan tak nyaman, telinga masih mengalami banyak 'gangguan' untuk bisa menangkap kalimat lawan bicara. Bagaimana aku bisa merespon obrolan, sementara mendengar saja aku tak utuh. Dua kali pertama ikut dinner party, rasanya enjoy-enjoy tak nyaman. Enjoy dengan pengalaman baru, berharap dapat teman baru, berjejaring dengan banyak foreign students dari berbagai negara dan disiplin ilmu.

Alih-alih berjejaring, mendengar mereka bicara saja masih sulit. Bukan karena Inggris saya jelek, tapi accent bahasa yang macam-macam itu loo, yang bikin telinga saya hard to hear the words. Sekarang sudah mulai bisa menjeda, Inggris-Cina, Inggris-India, Inggris-Vietnam, Inggris-Australian dan yang pasti Inggris-Jawa macam kami. Baru level menjeda belum sampai memahami utuh. Lumayan lah, modal belajar mendengar selama dua jam acara party. Jadi kebayang 'senep'nya kan kalau pada mulanya saya harus 'tersiksa' dengan suasana yang aku tak mengerti aku harus ngobrol apa.

Belum lagi dengan gaya table manner ala western; minum pembuka, makanan pembuka, makanan inti, makanan penutup, tambahan lagi teh/kopi sebagai minuman akhir. Lambungku terlalu kecil untuk menampungnya. Pisau-garpu wa akhawatuha yang berjejer dengan ukurannya sangat tidak compatible dengan mulutku. Maklum, biasa makan lesehan yang hanya tersedia sambel dan lalapan, cukup dengan kobokan. Belum lagi masakan yang sangat tidak familiar dengan lidah 'jowo'ku. Tapi, aku harus belajar mengenal budaya lain. Bagaimana mungkin aku bisa memahami 'liyan' kalau aku enggan menyapanya dan tak mau mengenalnya.

Di luar yang "enjoy-enjoy tak nyaman" itu, sempat juga ada ragu dengan sajian yang dihidangkan. Secara, we're the minority. Tapi kami diyakinkan oleh menejemen bahwa sajiannya adalah halal food yang bisa kami konsumsi. Ada juga pilihan untuk para vegan, jika memang kita mau yang lebih aman. Wine juga tersedia di meja, tapi selalu ada pilihan juice dan air putih. Even kita minority, tapi keyakinan kita dihargai.

Sebelum masuk ruang dinner, kolega saya berbisik "nanti kita duduk satu meja ya…". Dengan mengeryitkan dahi, saya jawab, "loooh biasanya mau jauh-jauhan biar kita bisa practice listening dan speaking-speaking". Dengan semangat dia jawab, 'yaaaa aku kan pengen dipoto-poto….." Sambil nyengir kujawab, "I see, modus rupanya……" Finally kita satu meja, tapi tetap bisa spiking-spiking sama students lain. Aku duduk dekat dengan student Australian tapi asli Cina. Accentnya lumayan, austalian tidak, china pun tidak. Kami menikmati obrolan, dia juga tampaknya paham yang kubicarakan, dan aku pun rasa-rasanya paham. Karena sesekali kami bisa tertawa bersamaan. Kolegaku juga duduk sampingan dengan student Cina atau mungkin vietnam. Foto-foto untuk mengabadikan moment pun tetap jalan. 

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.