Oleh
Mukhtar Hadi
Islam mengajarkan bahwa penciptaan manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan serta berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah agar mereka bisa saling kenal mengenal. Tidak ada suku bangsa yang lebih mulia dibandingkan dengan suku bangsa yang lainnya. Laki-laki juga tidak lebih baik dan mulia dibandingkan perempuan. Mereka yang kaya tidak lebih mulia dibandingkan yang tidak berpunya. Semuanya sama di mata Allah SWT. Hanya satu yang membedakan yaitu derajat ketakwaannya di sisi Allah SWT (QS. Al-Hujurat: 13).
Jikalau ada bangsa yang merasa lebih hebat dan mulia dibandingkan bangsa lain kemudian bangsa itu berbuat semena-mena kepada yang lain, sikap itu sangat dikecam dalam Islam. Islam tidak mentolerir imperialisme dan kolonialisme atau yang sejenisnya dengan alasan apapun lebih-lebih karena alasan kemuliaan ras atau kebangsaan. Ajaran egalitarianisme Islam ini merupakan salah satu esensi nilai-nilai sosial dalam Islam. Antara orang kulit putih, kuliti kuning, kulit merah, kulit coklat dan kulit hitam semuanya setara serta dilindungi oleh nilai egalitarinisme Islam. Semua perbedaan yang bersifat lahiriah adalah wujud kekuasaan Allah SWT, namun secara esensi tujuan penciptaannya adalah sama yaitu agar manusia mengabdi, menyembah dan beribadah kepada Allah SWT.
Hubungan sosial kemanusiaan Islam ini jika diformulakan meliputi lima konsep penting yaitu Ta’aruf – Tafahum – Ta’awun – Takaful – Tasamuh. Penjelasan dan tahapannya dijelaskan secara singkat berikut ini.
Ta’aruf artinya saling mengenal antara yang satu dengan yang lainnya. Ini adalah hubungan awal yang harus dibangun untuk bisa meningkat ke pengenalan berikutnya. Hubungan manusia tanpa diawali dari proses pengenalan tidak akan berlanjut ke hubungan berikutnya. Ta’aruf atau saling mengenal menjadi pintu masuk untuk mengenal lebih dalam dengan manusia yang lainnya. Pepatah yang mengatakan “Tak Kenal Maka Tak Sayang” memiliki maksud serupa, yaitu orang tidak mungkin memiliki sikap menyayangi orang lain kalau tidak mengenal lebih dahulu. Dengan kata lain sikap sayang timbul karena diawali dengan mengenal orang yang disayangi.
Tafahum artinya memahami atau saling memahami. Jika Ta’aruf mengenal orang dari yang lahiriah, nama, rupa fisik, maka tafahum mengenal orang lebih dalam dari itu yakni mengenal kepribadiannya, karakternya, kesukaannya, ibadahnya, keilmuannya dan yang sejenisnya. Dengan sikap tafahum antara orang yang satu dengan yang lainnya, maka akan melahirkan pemahaman yang lebih utuh tentang orang yang dikenalnya tersebut. Tafahum akan melahirkan empati dan simpati. Ukhuwah yang dibangun sampai tahap tafahum akan menumbuhkan persaudaraan yang intim. Rasulullah menggambarkan seperti laksana satu tubuh, bagian yang satu sakit maka sakitnya akan dirasakan bagian tubuh yang lain. Atau seperti bangunan yang kokoh, yang satu menguatkan yang lain.
Ta’awun berarti saling menolong atau membantu. Pengenalan dan pemahaman yang baik antara manusia yang satu dengan manusia lainnya akan menumbuhkan sikap saling menolong atau membantu seandainya yang lainnya memerlukan bantuan. Seseorang yang mengenal dan memahami saudaranya tidak akan tega jika saudaranya mengalami kesusahan atau penderitaan. Ketika di hadapkan pada situasi seperti itu maka ia akan dengan ringan tangan membantu melepaskan atau setidaknya meringankan beban masalah saudaranya. Islam mengajarkan sikap ta’awun tersebut dengan batasan yang jelas, yaitu boleh membantu dan menolong dalam kebaikan dan ketakwaan bukan menolong dalam dosa dan kemaksiatan (QS. Al-Maidah:2). Meskipun mengenal dan memahami dengan baik saudaranya, tidak boleh menolong dengan membabi buta, fanatisme yang sempit, tetapi Islam mengajarkan tolonglah saudaramu jika masih berada dalam kebaikan dan ketakwaan.
Berikutnya adalah Takaful, yang artinya saling menanggung, saling menjamin, atau bertanggung jawab bersama. Dalam praktek ekonomi Islam, takaful adalah kesepakatan di antara sekelompok orang (peserta) yang menyumbangkan dana (tabarru’) ke dalam sebuah kumpulan dana kolektif untuk saling membantu dan menanggung kerugian jika salah satu dari mereka mengalami musibah. Dalam hubungan sosial Islam dimaknai sebagai sikap untuk menjamin saudaranya yang sedang mengalami persoalan supaya orang lain juga percaya bahwa orang tersebut dipercaya dan kebaikannya direkomendasikan oleh banyak orang. Takaful juga bisa dimaknai saling menguatkan, saling menanggung jika terjadi persoalan.
Terakhir adalah Tasamuh, yaitu sikap saling menghormati dan menghargai. Pengenalan terhadap orang lain akan melahirkan pemahaman tentang persamaan, perbedaan, nilai-nilai yang diyakini, adat istiadat dan kebiasaan, perilaku dan sikap orang tersebut. pemahaman yang utuh dan komprehensif tentang orang lain tersebut maka akan diikuti dengan sikap menghargai dan menghormati terhadap perbedaan yang terjadi. Tasamuh tidak akan lahir tanpa mengenal dan memahami dengan baik orang, suku atau bangsa yang berbeda. Belajar mengenal dan memahami orang yang berbeda atau budaya dan suku bangsa yang berbeda adalah prasyarat sikap toleran, penghormatan dan penghargaan terhadap orang lain.
Orang-orang yang merasa paling hebat, kuat, baik, atau paling sempurna tidak akan memiliki atau sukar memiliki sikap tasamuh. Sebab itu tidak boleh seseorangmerasa paling benar, mengklaim kebenaran hanya miliknya sendiri serta menganggap yang lain salah semua. Orang-orang yang takabur, meremehkan orang lain dan menolak kebenaran juga tidak akan memiliki sikap toleran dan menghormati orang lain yang berbeda. Pendek kata sikap tasamuh lahir karena didahului dengan sikap sosial sebelumnya, yaitu ta’ruf, tafahum,ta’awun dan takaful. Begitulah hubungan sosial dalam Islam itu ditenun dan dirajut. Wallahu a’lam bishawab (Serpong.13.02.26).