Inkonsistensi Praktik Adagium Khalifah fil Ardl

2022406112_1281774818617131_4784044686728917814_n

Manusia
sebagai khalifah fil ardh mempunyai
kuasa penuh atas pengelolaan alam. Sifat otoritatif khalifah yang memandang
alam secara instrumentalistik-komplementer menjadikan manusia bertindak
sewenang-wenang kepada alam. Alam dipandang layaknya pelayan yang harus
mengabdikan diri sepenuhnya untuk melayani manusia. Aksi-aksi
destruktif-eksploitatif yang mengancam kelestarian alam akhirnya tidak
terhindarkan. Fakta-fakta ini seolah menjadi pembenaran atas kekhawatiran
malaikat yang merasa skeptis dengan kapabilitas manusia dalam mengelola alam
ketika Allah akan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Pandangan
ini tidak terlepas dari sistem hidup yang di anut masyarakat akhir-akhir ini.
Pandangan hidup yang menganulir nilai-nilai spiritualitas. Pengaruh pandangan
dunia modern dalam berbagai bentuknya -naturalusme, materialisme, positivisme-
memiliki momentum untuk mengembangkan pandangan hidup sekuler sebagai dasar
filosofinya. Pandangan ini menolak segala realitas non fisik -seperti dunia
imajinal dan spiritual- sehingga terputus hubungan dengan segala
realitas-realitas yang lebih tinggi daripada sekadar entitas fisik. Krisis
spiritual ini pada gilirannya menimbulkan apa yang disebut dengan "disorientasi"
pada manusia modern. Karena itu, manusia modern tidak tahu lagi kemana arah
mereka pergi.

Ketika
berhubungan dengan alam, maka manusia hanya akan memperhatikan aspek biotik dan
ekonomisnya saja. cara pandang seperti inilah yang menjadi penyebab krisis ekologis.
Alam yang telah bermurah hati melayani manusia selama ratusan bahkan ribuan
tahun ternyata hanya dalam masa kurang dari tiga abad -setelah revolusi
industri sudah kehilangan daya dukungnya dan kehilangan kualitas dirinya. Alam
dipaksa untuk melayani keserakahan manusia yang tanpa merasa belas kasihan
mengeksploitasi hingga tahap akut.

Kerusakan-kerusakan
hasil ulah tangan manusia bisa disaksikan secara telanjang mata. Sampah
berserakan, polusi udara, limbah pabrik, penggundulan dan perusakan hutan,
eksploitasi tambang yang berlebih, dan lain lain. Sehingga pada musim penghujan
datang akan banyak terjadi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Pada musim
kemaraupun akan terjadi kekeringan dan suhu udara yang terlampau panas.

Bencana
ekologi tidak terlepas dari kerusakan ekosistem, seperti hutan, sungai, air dan
udara. Diperkirakan sebelum terjamah oleh tangan manusia, sumberdaya hutan
dunia terdiri dari 6 milyar hektar. Pada tahun 1954, luas hutan tersebut sudah
turun menjadi 4 milyar Ha. Penyempitan areal hutan berlangsung karena perluasan
areal untuk pertanian dan pemukiman. Luas hutan ini terbagi menjadi atas hutan
yang masih tertutup seluas 2,8 Ha dan hutan yang sudah terbuka, karena adanya
pemanfaatan 1,3 miliar Ha. sementara itu, luas hutan tropika yang jumlahnya
hanya 7% dari permukaan bumi juga mengalami pengurangan sebesar 25% karena
aktivitas pembalakan, kegiatan pertanian, peternakan, dan pembangunan proyek
besar. Menyempitnya ekosistem hutan telah menyebabkan banjir, erosi, pendangkalan
sungai, kekeringan, dan kelangkaan kayu bakar.

Akibat
lain dari penyempitan arela hutan adalah meningkatnya Gas Rumah Kaca (GRK).
Aktivitas manusia terutama industri dan transportasi menyumbang polutan dalam
bentuk zat-zat berbahaya seperti karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2)
nitrogen oksida (NOX), hidrokarbon, debu dan timah hitam.
Limbah-limbah industri ini tidak dapat diserap oleh alam karena jumlah hutan
yang semakin menyempit. Sehingga berdampak pada peningkatan suhu udara. selain
itu, dampak dari polusi udara yang akut juga akan merusak lapisan ozon yang
melindungi bumi dari terpaan sinar UV.

Fakta-fakta
eksploitasi manusia atas alam ini tidak terlepas dari pola hidup konsumtif
manusia (yang tentu juga dimulai dari pandangan hidup). Gaya hidup modern yang
serba glamour menuntut manusia untuk terus menerus memburu barang dan jasa demi
gengsi dan prestise. Eksistensi manusia kian jauh dari kehidupan rohani dan
beralih menjadi pemuja materi.

Aksi-aksi
destruktif-konsumtif manusia pada dasarnya bisa diredam dengan mengamalkan
ajaran-ajaran islam yang rahmatan lil
alamin
. Konsepsi islam yang komprehensif sebenarnya telah memberikan
batasan manusia dalam mengambil haknya atas alam dengan kesadaran
spiritualitas. Jika yang kita lakukan justru sebaliknya, masih pantaskah kita
disebut sebagai Khalifah Fil-Ardl?

 

Penulis: Tomi Nurrohman

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.