Islam adalah agama yang
menjadi rahmad bagi seluruh alam. Munculnya Islam, sebenarnya adalah suatu
kebaikan dan menjadi sebuah simbol kedamaian untuk seluruh alam. Karena Islam
sangat mengutamakan kedamaian dan keadilan. Kepemimpinan dalam Islam (khilafah
Islamiyah), tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai keadilan.
Kepemimpinan, dalam kaca
mata Islam, dipandang sangat penting adanya. Karena, dengan adanya seorang
pemimpin, maka akan ada diantara manusia yang mengatur, memanajemen, atau
memerintah seorang manusia yang lain. Dengan adanya pemimpin dari sebagian
manusia, maka manusia akan lebih teratur. Untuk itu ketaatan kepada seorang
pemimpin itu sangat penting.
Islam, sebagai agama
samawa (yang datang dari tuhan), tidak melulu selalu mengatur tentang kehidupan
akhirat saja. Pasalnya, Islam juga mengatur mengenai bagaimana memimpin di
dunia, bagaimana menghormati pemimpin dan hal lain yang hubungannya lebih ke
duniawi yang kemudian dapat dimengerti melalui fiqh muamalah. Serta hal lain yang
termasuk di dalamnya juga telah diatur dalam Islam yaitu berkenaan tentang
politik.
Politik itu sendiri
adalah, jika menurut bahasa berasal dari bahasa arab (siyasah) berasal dari kata saasa.
Dimana politik ( siyasah) secara bahasa artinya adalah memimpin, mengatur,
melatih dan memerintah. Lalu kemudian juga disebut sebagai (saasa al-qoum). Saasa
al-qoum berarti seseorang itu memerintah, mengatur, melatih dan memerintah
seorang kaum.
Politik secara istilah,
sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Abul Wafa Ibnu'Aqil Al-Hambali, beliau
berkata bahwa politik (siyasah) merupakan semua tindakan yang dengannya manusia
lebih dekat dengan kebaikan dan semakin jauh dari kerusakan.
Politik
(siyasah), jika dikatakan sebagai hal
yang selaras (tidak bertentangan) dengan syari'ah, itu benar. Namun jika
dikatakan bahwa siyasah itu sesuai
dengan yang tersurat di dalam syari'ah (Al-Qur'an) itu salah. Berdasarkan yang
di kemukakan oleh Imam Abul Wafa Ibnu'Aqil Al-Hambali.
Berdasarkan
pernyataan yang dikemukakan oleh Imam Abul Wafa, maka sesungguhnya, itu
mengindikasikan bahwa sebuah politik (siyasah)
itu sangat baik tujuannya. Dimana dengan adanya politik, maka akan ada dan
tercipta sebuah kepemimpinan yang ideal, karena pengertian sebuah politik (siyasah) itu adalah memimpin, memerintah
atau mengatur.
kepemimpinan
akan berjalan dengan baik jika ada sebuah siyasah.
Menurut penulis, berdasarkan pengertian siyasah,
dengan adanya siyasah, pemimpin akan
memiliki kekuatan untuk kemudian bisa mengatur, atau memerintah sebuah umat.
Maka penting bagi seorang pemimpin itu harus mengerti tentang syari'ah agar
kemudian yang dipimpinya benar-benar jauh dari keburukan.
Islam dan politik
merupakan hal yang tidak bisa terpisahkan. Kedua hal ini merupakan senyawa yang
harus menyatu, jika memang benar-benar Islam akan ditegakkan. Pembahasan diawal
dijelaskan bahwa kepemimpinan itu penting, jadi, politik juga perlu.
Politik (siyasah), sebenarnya, bukanlah hal baru
yang muncul baru-baru ini. Melainkan politik (siyasah) merupakan hal yang sudah ada sejak zaman nabi. Pasalnya,
pada waktu itu Rasulullah SAW. Memimpin, mengatur dan memerintah sebuah umat.
Sedangkan kegiatan memimpin, memerintah atau mengatur manusia itu adalah
politik (siyasah), agar kemudian yang
dipimpinnya semakin dekat dengan kebaikan.
Politik adalah suatu hal
baik dan mulia. Jika ada yang berpendapat bahwa politik itu hal yang tidak baik dan salah, maka
sebenarnya yang berpendapat demikian itu secara tidak langsung juga menyalahkan
para sahabat. Pasalnya para sahib pun juga memutuskan untuk berpolitik,
walaupun politik itu tidak tertulis jelas dalam Al-Qur'an. Namun yang jelas,
politik (siyasah) merupakan hal yang
tidak bertentangan dengan syari'ah.
Dilihat dari sejarahnya,
tidak pernah ada sejarah Islam yang memisah-misahkan antara urusan kepemimpinan
(siyasah), ataupun kenegaraan dengan
Islam. Karena Nabi pun juga berprilaku politik, karena nabi juga memimpin
sebuah umat. Pemikiran kaum sekulerisme, yang tidak mau menyatukan antara
urusan agam dan politik, itu tidak pernah ada di dalam sejarah Islam. Pasalnya
Islam dan politik adalah hal yang saling berkaitan.
Dalam Islam kita
dianjurkan dan diwajibkan untuk mentaati seorang Ulil Amri di antara kita. Itu
menggambarkan bahwa Islam juga menganjurkan adanya sebuah politik (siyasah), asalkan politik (siyasah) yang dijalankan, merupakan
politik yang berdasarkan syari'at dan tidak bertentangan dengannya. Karena
tanpa adanya sebuah siyasah maka kepemimpinan tidak akan pernah terbentuk
dengan baik.
Jika ada yang beranggapan
bahwa, politik Islam dirasa akan menghancurkan sebuah NKRI, itu adalah
pemikiran yang salah. Itu adalah anggapan yang tidak ilmiah, tidak ada bukti
kebenarannya. Menurut penulis, utuhnya NKRI itu menjadi simbol kekuatan Islam,
karena memang mayoritas penduduk yang tinggal adalah beragama Islam. Jika
politik Islam dirasa akan menghancurkan NKRI, itu hal yang tidak logis. Karena
tidak mungkin umat muslim menhancurkan symbol kekuatann agamanya sendiri.
Jika kemudian seorang
ulama terjun ke-dunia politik. Maka itu adalah salah satu kebenaran yang harus
saya akui.jika ada yang bilang jika ulama berpolitik itu salah, berarti belum
memahami sejarah Islam dan belum memahami apa pentingnya politik dalam menjaga sebuah
keutuhan NKRI dan menjaga tegaknya Khilafah Islamiyah.
Memang sudah saatnya,
seorang ulama menjadi pemimpin. Sebagaimana Islam terdahulu (masa khalufa'ur Rasydin). Pada masa awal-awal
Islam, para pemimpinnya adalah juga seorang ulama, yaitu Abu Bakar, Umar,
Utsman dan Ali. Ke-empat khalifah ini, selain menjadi seorang pemimpin (jika di
Indonesia presiden), juga adalah seorang ulama.
Sudah saatnya, politik
itu dipegang oleh manusia-manusia yang bermoral baik, serta faham tentang
syari'ah Islam yang sesungguhnya. Dengan pemimpin yang memahami syari'ah Islam
yang benar, maka dapat dijamin, NKRI akan lebih bersemangat dalan keberagaman,
dan dirasa akan semakin kuat persatuannya. sebagaimana pada masa dipimpin oleh
ke-empat ulama besar yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.
Jika pemikiran kaum
sekuler berkembang di tengah-tengah masyarakat, yaitu beranggapan bahwa urusan
agama untuk agama, dan Negara untuk Negara, yang tidak mau mencampurkan perkara
agama dengan Negara, maka ditakutkan akan semakin banyak kaum radikal yang
semakin berkuasa di Negara ini. Dan Islam akan semakin tertindas dengan politik
yang dibangun kaum radikal. Untuk itu perlu Islam juga berpolitik, untuk
kemudian melawan bentuk politik yang dibangun oleh kaum radikal.
Ulama, itu bukan melulu
mengurusi masalah rohaniyah umat saja. Namun dinamakan ulama, juga harus
mengurusi segala hal tentang umat, tidak terkecuali masalah politik dan
kepimimpinan. Dengan jayanya ulama didunia politik, maka Islam akan semakin
kuat dan terjaga keutuhannya.
Jika kemudian, didapati
ada oknum-oknum yang dia itu mengaku sebagai tokoh muslim, lalu kemudia dalam
berpolitik oknum tersebut menyebabkan hal-hal yang tidk baik, itu bukan salah
dari nilai-nilai politik (siyasah).
Melainkan itu kesalahan yang murni berasal dari pribadi orang tersebut. Karena
politik itu tujuannya sangat mulia, tidak ada ilmu politik (politik Islam) yang
mengajarkan kearah perbuatan negatif.
Namun memang saat ini,
keadaan politik itu sangat jauh dari syari'at, tidak seperti politik yang terjadi
pada zaman Nabi maupun khalufa'ur Rasydin.
Kedaan politik saat ini, memang berbahaya bagi kaum muslim, pasalnya jika
seseorang tersebut tidak kuat iman menahan godaan setelah masuk politik, maka
akan menimbulkan sesuatu yang tidak baik juga.
Untuk itu, menurut
penulis, dalam dunia politik, perlu adanya peran serta seorang ulama atau
seorang tokoh muslim untuk mengatur dunia politik agar lebih baik. Gunakan
politik, sebagai alat untuk menjaga keutuhan dan menjaga tegaknya sebuah agama,
terutama Islam. Jangan menyalah gunakan politik, gunakan kepemimpinan dan
pemerintahan untuk menjaga dan memperkokoh adanya rasa persaudaraan, dan
memperkuat berdirinya agama.
Penulis : Wahyu Eko
Prasetiyo (Pegiat Jurai Siwo Corner).