metrouniv.ac.id – Selasa 04/01/2022
Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Metro)
Islam menaruh perhatian sangat serius terhadap akhlak. Rasulullah saw bahkan diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Indah, karena terhadap orang yang berbeda keyakinan saja seorang muslim mesti berakhlak baik, apalagi terhadap sesama muslim yang berbeda mazhab, toriqoh, manhaj, atau organisasi. Tak kurang anjuran untuk menempatkan akhlak di atas perbedaan fikih. Tak kurang, kayanya khazanah Islam yang mengenalkan tasawuf, sufi, dan ‘akhlak tasawuf’. Sehingga, akhlak menjadi inti ajaran tasawuf. Akhlak menjelma muara dari seluruh ajaran sufistik. Tanpa akhlak, perbedaan keyakinan adalah tragedi. Tanpa akhlak, perbedaan mazhab tak lebih dari pemantik prahara. Tanpa akhlak, perbedaan fikih membuat seorang makmum menonjok imam sholat subuh karena melantunkan qunut. Syahdan, ketinggian pengetahuan yang tidak disertai kesantunan akhlak pasti berujung smart but dumb, pintar tetapi dungu.
Akhlak, sementara itu, terhubung secara unik dengan novel. Novel–sebagaimana jenis prosa lain semacam dongeng, cerpen dan roman—sejatinya merupakan alat untuk mensyiarkan akhlak. Bukankah ujung dari pembacaan sebuah novel adalah ‘memeras’ nilai-nilai akhlak yang terdapat di dalamnya? Bukankan amanat cerita, pesan cerita, the moral of the story, the lessons learned atau lessons learnt merupakan saluran yang digunakan pembaca untuk menyuling konfigurasi akhlak? Penyaluran akhlak melalui cerita itu menguntungkan paling tidak karena dua hal. Pertama, cerita cenderung menggunakan bahasa yang implisit atau bahasa kiasan, sehingga pembaca tidak merasa sedang ‘digurui’ atau ‘diceramahi’. Jika pembaca merasa digurui oleh sebuah cerita, tutup saja ceritanya dan cari cerita yang lebih nyaman penyampaiannya. No hard feelings, tak akan ada rasa sakit hati. Kedua, mereka yang hobi membaca cerita, lambat laun, akan mengenal atau merasakan alur cerita. Alur cerita adalah plot yang memiliki struktur umum: pengenalan cerita (exposition), awal konflik (rising action), menuju konflik (crisis), konflik memuncak (climax), dan penyelesaian (denouement, end). Struktur ini, semakin dicermati akan semakin ‘menemukan titik temu’ dengan struktur umum sebuah jurnal ilmiah: IMRAD (introduction, method, results and discussion).
Komponen plot di atas adalah penanda keterhubungan antara novel dan jurnal ilmiah. Jika dicermati, introduction itu terasa sama dengan exposition; rumpang penelitian (research gap) senada dengan rising action; tujuan penelitian senada dengan crisis; result senada dengan climax; dan discussion senada dengan denouement. Tentu saja, tidak ada analogi yang sempurna. Struktur plot dan struktur IMRAD jelas berbeda dalam tataran teknis. Namun kedua struktur tersebut memiliki persinggungan dan irisan pada tataran cita rasa (deep structure). Semacam nada yang sama dengan lirik yang berbeda. Sehingga, mereka yang terbiasa menggauli dan mengapresiasi novel, atau sastra, cenderung tidak menemukan kesulitan berarti dalam memahami dan menulis jurnal ilmiah.
Penulis merasakan adanya persinggungan atau irisan (interplay) antara Islam, novel, dan jurnal ilmiah memiliki. Islam menggunakan cerita dalam mensyiarkan akhlak. Akhlak adalah muara akhir yang dituju sebuah novel. Struktur plot sebuah novel support terhadap struktur IMRAD jurnal ilmiah. Penulis juga pernah belajar dari seorang mahaguru yang adalah muslim yang taat, pakar sastra yang hebat, penulis buku dan jurnal yang produktif, dan editor in chief sebuah jurnal internasional bereputasi. Beliau seorang pemandu yang membuat muridnya teringat pada sebuah nilai luhur dalam Islam: “tinta para ulama (sarjana, ilmuan) tidak kalah harum dibanding darah para syuhada”. Beliau adalah sintesis penegas: kegandrungan terhadap novel mestinya tidak menjadi penghalang untuk menjadi muslim yang baik sekaligus penulis karya ilmiah yang produktif.
Sekolah-sekolah Islam modern mungkin telah mengetahui garis lurus yang menghubungkan Islam, novel, dan penulisan karya ilmiah tersebut. Sehingga, di perpustakaannya bisa ditemukan banyak novel. Kapan terakhir kali kita menikmati membaca novel?
Wallahu a’lam.