Pariwisata halal itu dari PTKIN kan? Bukan dari kementerian pariwisata. Karena ada jurusan Pariwisata Syariah, juga ada jurusan Hukum Tata Negara Islam (HTNI). Jadi kalau ada ribut-ribut Pariwisata Syariah, coba ramai-ramai kritik jurusan itu, termasuk ekonomi syariah. Saya juga heran ada Zoya jilbab halal, telur halal, dan bla-bla-bla. Banyak agen kapitalis menumpang isu syariah untuk membodohi orang mabuk agama. Jatuhnya kecewa pada Islam kalau ada travel umroh bodong, investasi kampung kurma bodong, Bank Syariah biayai investasi sawit yang rusak lingkungan. Jadi kita mau ribut tampilan atau isi? Ngritik syariah itu karena kita mencintai Islam, agar tidak jadi mainan para tengkulak atas nama agama.
Ide-ide syariah juga tidak harus ditakuti secara parno. Menurut saya ini hanya soal merebut pasar muslim saja. Substansinya ini soal muamalah yang adil atau tidak, apakah berakhir pemerataan atau tidak? Dandhy Dwi Laksono meskipun mendukung ekonomi birunya Gunter Pauli tapi juga mengritik soal skala. Apabila ekonomi biru menimbulkan peminggiran warga, kapitalisme elit, ekonomi terpusat, ketergantungan modal, hancurnya kolektifitas, bahkan hal yang prinsipal masalah turunan seperti limbah, maka konsep itu tidak layak dipertahankan. Gagasan keadilan, pemberdayaan, gotong royong, koperasi, dan pemerataan ekonomi menurut saya adalah Islami, atau mudahnya akan menyelamatkan banyak orang.
Contoh lain, saat program sawitisasi zaman dulu dianggap green economics, faktanya jadi malapetaka kapitalisasi. Rusaknya hutan, banjir saat musim hujan, dan berkurangnya air drastis karena tak ada pohon hutan yang menyimpan air, bahkan punahnya flora dan fauna. Maka gagalnya industri sawit menyejahterakan warga adalah gagalnya bangsa ini mempertahankan ekonomi lokal. Fakta Orang Utan makin punah, dan ada elit negeri harus ke Vatikan jualan isu radikalisme. Kalau sawit hancur maka akan banyak karyawan sawit jadi pelaku radikalisme.
Hutan memberikan segalanya. Misal dari madu saja, seharusnya kita sudah melampaui branding Malaysia melalui Upin Ipin-nya. Pangan pertanian kita seharusnya hanya skala jumlah perut manusia yang ada. Tanaman obat dan hasil kayu sangat surplus untuk hidup bagi rakyat. Namun saat semua jadi skala industri, cetak sawah untuk menguntungkan segelintir elit, tanam sawit jutaan hektar untuk kerakusan sedikit elit, menambang batu bara dan minyak bumi tanpa batas maksimal, semua telah menimbulkan kerusakan.
Jadi yang tidak syariah itu harus jelas penentuan makronya. Jangan yang mikro-mikro dibahas tidak syariah, mengandung riba dan tidak halal. Ekonomi Syariah bahkan cenderung mempersulit dan menimbulkan kebingungan ummat diimplementasi. Pengingkaran pada nilai Islam, Syariah dan halal akan menimbulakn efek, jadi orang Islam ini susah sekali. Sedangkan Prof Makruf Amin saat mengetuai MUI membolehkan Bank Syariah membiayai investasi hutan diubah jadi sawit. Bahkan dalam film Sexy Killer, saham Bank Syariah membolehkan investasi tambang yang jelas merusak lingkungan.
Berbangsa adalah konsensus, kita sebagai warga bisa memilih akan hidup dan menjalankan ekonomi seperti apa? Jika hanya memberi jalur keuntungan pada elit yang tidak kita kenal, ketimpangan ekonomi makin tinggi, sudahi saja para intelektual perguruan tinggi bicara industri pada skala besar. Toh 70 tahun lebih berdiri Indonesia, para elit selalu mengajak investor, investor dan investor. Kata investor itulah yang membuat rakyat hanya jadi penonton dan sulit mendapat pemerataan ekonomi.
Kita ambil ekonomi biru sebagai contoh kemandirian ekonomi lokal. Mengambil secukupnya dan mengembalikan lagi dengan siklus mata rantai makanan. Alam tidak mengenal sampah, hanya manusia yang membuat sampah. Fillsafat akan mengantarkan kita pada ekologi yang sebenarnya. Plastik dan limbah industri tidak dihasilkan oleh orang utan dan tumbuhan. Mereka memberi siklus hidup yang saling menjaga dan memberi keadilan distributif. Apakah kita harus meninggalkan teknologi? Yang harus kita tinggalkan adalah ekonomi skala besar dimana rakyat hanya mendapat limbahnya. Jika minim limbah, maka ekonomi itu mendekati Islami, syariah dan halal.
Dharma Setyawan
Ketua Jurusan Ekonomi Syariah IAIN Metro yang juga Penggerak Pasar Yosomulyo Pelangi