Istafti Qolbak

14. Istafti Qolbak_27082025 Cover Artikel 2025

metrouniv.ac.id – 27/08/2025 – 3 Rabiul Awal 1447 H

Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Jurai Siwo Lampung)

Yang kita lakukan saat tak ada mata yang memandang,

saat tak ada telinga yang mendengar, adalah versi diri kita yang sebenar-benarnya.

(Disadur dari kalam Sayyidina Ali bin Abi Thalib, k.w.)

Aku teringat pada kisah lama, mungkin dari obrolan para sufi, atau mungkin dari kepulan asap di padang pasir. Kisah tentang seorang murid, yang datang kepada gurunya. Tak tampak roman marah pada diri sang murid, tapi suaranya begitu letih. Kepada gurunya, ia berkata, “Guruku, aku baru saja tertipu.”

“Aku pernah percaya pada seorang rekan. Sosok yang tampaknya jujur, berintegritas, dan piawai bicara tentang kejujuran dan integritas itu sendiri. Ia mengajakku bermitra, menawarkanku mimpi dalam rupa investasi. Kefasihannya membuatku percaya pada mimpi yang ditawarkannya itu. Tapi tak butuh waktu lama, kenyataan menghadirkan pil pahit yang harus kutelan. Janji-janji itu ternyata palsu. Ia yang dulunya tampak tak mungkin menyakiti, ternyata tega menebarkan jerat yang menyakitkan. Aku tertipu. Rasanya perih. Bukan hanya karena aku kehilangan uang, tapi aku kehilangan respect dan kepercayaan. Duhai Guruku, berilah aku wejangan, agar aku bisa berdamai dengan keadaan ini dan berdamai dengan diriku sendiri.

Si murid dan mungkin pula banyak orang di dunia ini, pernah berada pada posisi yang tidak mengenakkan. Ditipu rekanan. Dicurangi kolega. Dipermalukan sejawat. Ada yang bersepakat menjadi rekan bisnis dengan pembagian hasil yang tampak menggiurkan di awal. Setelah bisnis terlihat berjalan baik, salah satu pihak membawa lari semua asset. Tanpa kabar, apalagi keuntungan. La kalaama wa la salaama. Yang tertinggal hanya emosi dan cerita pilu dari pihak yang tertipu.

Ada pula yang mungkin pernah dicurangi secara intelektual. Awalnya dilibatkan dalam penyusunan proposal sebuah project pembangunan pencakar langit. Setelah fase presentasi, project akhirnya mendapat donor eksternal. Namun nahas, pada tahap implementasi dan cairisasi, tim pelaksana project telah berubah. Ada nama yang tadinya ada dalam penyusun awal, kini hilang berganti tanpa klarifikasi. Akhirnya, ada pihak yang merasa tercurangi.

Ada juga yang mungkin merasa dipermalukan oleh kenalan atau sejawat yang cuap-cuap di media. Sang sejawat merasa memiliki data dan bukti untuk melemahkan dan mencederai pihak lain. Rumor tersebar, penggalan informasi tanpa konteks-lengkap menyeruak, dan asumsi menggurita. Lalu terjadilah sebuah pembunuhan karakter (character assassination). Semacam upaya berulang untuk merusak citra, kredibilitas, dan reputasi orang lain. Di ujung hari, ada yang merasa telah dipermalukan.

But maybe that is life. Tetapi, barangkali memang begitulah hidup ini. Keseimbangan yang terjadi di titik tengah itu mensyaratkan dua titik yang berbeda: kiri dan kanan. Ia memerlukan dua kutub yang tak sama: timur dan barat. Ia membutuhkan dua rasa yang berlawanan: panas dan dingin. Ia menghendaki dua peran yang berlainan: yang tertipu dan yang menipu; yang tercurangi dan yang mencurangi; yang dipermalukan atau yang mempermalukan.

Godaan untuk membalas tipuan, kecurangan, dan perasaan dipermalukan, sama beratnya dengan upaya untuk bersabar, berkontemplasi, dan menjaga keseimbangan diri. Karena ‘an eye for an eye’, mata diganti mata, seringkali bermuara pada moralitas klasik: menang jadi arang, kalah jadi abu. Karena ada pilihan sikap alternatif, yang mungkin lahir dari kepulan asap padang pasir, atau dari obrolan para sufi.

Syahdan, di ujung cerita, sang Guru sufi memberi wejangan kepada muridnya yang baru saja ditipu oleh rekan bisnisnya. Ia berkalam, “Dan mungkin begitulah hidup ini. Ada dua peran berbeda dalam satu peristiwa. Ada peran penipu dan ada peran yang tertipu. Ada pencurang dan tercurangi. Ada yang dipermalukan dan yang mempermalukan…Jika hari ini engkau ditipu, itu pasti menyakitkan. Tapi mari melihat dengan cara lain. Andai kita boleh memilih peran, yang mana lebih kita sukai, menjadi penipu atau yang tertipu? Yang mencurangi atau yang tercurangi? Yang mempermalukan atau yang dipermalukan? Tak perlu kau jawab pertanyaan-pertanyaan ini. Jawabannya telah ada di dalam hatimu. Istafti qolbak. Tanyakan hatimu pada suatu tempat di mana tak ada mata melihat, dan pada satu masa di mana tak ada telinga yang mendengar.” Wallahu a’lam bishawab. Allah knows best.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.