metrouniv.ac.id – 06/08/2023 _ 19 Muharam 1445 H
Dharma Setyawan, M.A. (Wakil Dekan 3 FEBI IAIN Metro)
Tuan-tuan hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya datangnya Ratu Adil. Dan sering kali kita mendengar di desa ini atau di desa situ telah muncul seorang Imam Mahdi atau Heru Cakra. Tak lain tak bukan karena rakyat menunggu dan mengharap pertolongan.
― Soekarno
Ketika disebuah forum saya lontarkan pertanyaan kepada para kepala desa. Berapa jumlah penduduk, jumlah pohon kelapa, jumlah perokok di desa, jumlah hasil pertanian, berapa jumlah sarjana? Banyak sekali mereka gelagapan menunggu data dari perangkat desa lain. Data sosial mapping para kepala desa banyak yang kacau. Kita masih melihat banyak kepala desa masih menjadi follower bukan sebagai leader.
Kualitas pertanyaan kurang mendalam, gagasannya kurang otentik, dan berujung selalu tentanb permintaan bantuan kepada pemerintah meskipun belum punya gerakan konsisten. Kepala desa seringkali tidak menyadari dana desa di depan mata wajib adanya perencanaan, butuh inovasi program dan mereka dipilih untuk menjadi inovator sosial.
Kepala desa jangan sampai memusuhi anak-anak muda. Mereka generasi masa depan harus dirangkul jangan dipukul. Mereka energi muda yang butuh inspirasi, didukung, ditemani sampai mereka yakin bahwa masa depan desa harus dipikirkan bersama-sama. Semua ide baik harus dicarikan cara bagaimana melaksanakannya di lapangan.
Kepala desa bukanlah para mesias atau ratu adil. Kepala desa dipilih untuk menjadi pemimpin masyarakat membangun program mendorong kesejahteraan. Dana desa adalah milih rakyat, maka butuh terobosan-terobosan baru, agar dana desa tidak hanya kegiatan ritual. Memimpin selama 6 tahun, tapi tidak ada program desa yang sustainable dan bahkan hanya menghabiskan anggaran saja.
Dana Desa dalam intruksi Presiden wajib digunakan untuk pemberdayaan masyarakat, memajukan sumber daya manusia dan mendorong peningkatan ekonomi desa. Investasi kader pemberdayaan desa dimulai dengan mendidik mereka secara sabar, memberi ruang kreatif bagi anak muda dan membangun kebanggaan di anak muda bahwa desa benar-benar memberi perhatian pada pemuda.
Apa yang harus diajarkan tentang desa bagi anak muda? Jamak diketahui prodi jurusan desa sangat langka, setahu penulis hanya ada Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat desa “APMD” itupun berada di Yogyakarta. Maka, desa harus membangun pendidikan alternatif, bahwa mengajarkan local genius dan local wisdom desa itu sangat penting bagi anak muda. Misal, mengenalkan kebudayaan leluhur untuk dirawat kembali dapat menjadi daya tarik desa. Mereka mengenal kembali siapa nenek moyang mereka.
Pendidikan alternatif punya segudang cara untuk membuat anak-anak muda punya waktu belajar yang tidak mereka temukan di pendidikan formal. Misal membuat kuliner lokal, wastra, musik tradisional, tari, kriya, arsitek adat lokal, dan masih banyak lagi warisan leluhur yang sangat kaya. Pendidikan alternatif bagi pemuda desa didorong untuk terus membangun kesadaran bahwa yang dibutuhkan desa adalah hadirnya anak-anak muda yang mau ambil peran. Pemuda yang tahu bagaimana membangun keunikan desa dimasa depan.
Terakhir bagaimana pemuda mendayagunakan teknologi untuk membuat mudah pekerjaan. Teknologi juga mendorong akses informasi desa dapat dipromosikan ke luar desa. Bahwa kearifan lokal yang selama ini dianggap terbelalang kemudian menarik wisatawan bukanlah sebuah tontonan, tapi mereka adalah tuntunan. Teknologi yang paham bagaimana cara menggunakannya akan menjadikan kerja-kerja branding media akan berjalan dinamis dan keunikan desa akan dikenal orang dari luar. (penulis : DS, Posting : SS_Humas)