KALAU TIDAK YANG PERTAMA JADILAH YANG BERBEDA

WhatsApp Image 2025-11-06 at 09.52.11

Oleh

Mukhtar Hadi

 

Kalau tidak yang pertama jadilah yang berbeda. Ungkapan ini  semacam “mantra” yang dimiliki oleh  orang-orang yang terjun dalam dunia bisnis. Sarat makna, karena berisi motivasi, cita-cita dan harapan serta strategi untuk mencapai kesuksesan. Di dunia ini tidak ada yang benar-benar baru. Semua pasti pernah dilakukan orang, entah kapan. Sudah ada, meski terkadang orang merasa belum ada karena keterbatasannya. Banyak orang ragu-ragu untuk memulai berwirusaha dalam satu bidang tertentu karena merasa bidang itu semua sudah dilakukan orang lain. Tertutup rasanya, mau usaha apa lagi yang orang belum lakukan. Maka nasehat yang kedua dari para pebisnis, jika semua sudah dilakukan orang, maka lakukanlah hal yang berbeda walaupun bidang usahanya sama.

Pesan dalam dunia bisnis itu, sesungguhnya bisa berlaku juga dalam bidang-bidang lainnya. Termasuk juga dalam memimpin dan mengelola lembaga pendidikan semacam perguruan tinggi. Dewasa ini banyak sekali bermunculan perguruan tinggi, baik yang negeri maupun yang swasta. Namanya perguruan tinggi, penawarannya hampir sama, yaitu program studi. Program studi yang ditawarkan juga kebanyakan sama. Hampir tidak ada program studi yang dimiliki oleh suatu perguruan tinggi tidak dimiliki perguruan tinggi yang lain dalam jenis dan karakteristik perguruan tinggi yang serupa. Sama-sama PTKI sudah dipastikan program studi yang ditawarkan berkecenderungan sama. Sama-sama PTU juga demikian.

Tidak ada program studi yang benar-benar baru atau yang pertama. Akhirnya berebutlah antar perguruan tinggi dalam ceruk yang sama. Pada kondisi seperti maka hukum pasar berlaku. Siapa yang mampu memberikan sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan yang lainnya, maka ia akan menjadi pemenang. Dia akan mendapatkan  bagian yang terbesar dari ceruk yang sama tadi. Disitulah relevansi pesan moral di atas berlaku. Siapa yang memiliki keunggulan yang distingtif, maka ia akan dicari. Kalau tidak bisa yang pertama, maka jadilah yang berbeda.

Dahulu banyak ulama yang memiliki kemampuan keilmuan yang kuat dalam bidang tertentu. Mereka dikenal sebagai ulama atau alim  bukan karena menguasai banyak bidang ilmu, namun justru karena menguasai satu bidang ilmu yang sangat ia kuasai dibandingkan bidang yang lainnya. Ada ulama yang dikenal sebagai ahli Fiqih, ahli Ilmu Nahwu, ahli Balaghah, ahli Ushul Fiqih, ahli Mantiq, dan lain sebagainya.

Para penuntut ilmu, jika ingin menguasai dalam bidang Fiqih maka ia mendatangi dan belajar ke ulama ahli Fiqih. Jika ingin belajar ilmu Nahwu, maka datang dan berguru kepada ulama ahli Nahwu, dan seterusnya. Para ulama itu semua memiliki murid karena ulama-ulama itu memiliki keilmuan yang distingtif. Di Jawa banyak pesantren yang dikenal oleh masyarakat karena memiliki kekuatan dalam bidang keilmuan tertentu. Biasanya kekhasan pesantren adalah cermin dari keahlian keilmuan pengasuhnya. Pesantren-pesantren itu tetap berkembang karena dikenal memiliki bidang kajian keilmuan yang berbeda dengan yang lainnya.

Dari sudut pandang dan pemikiran tersebut, maka bukanlah sebagai sesuatu yang kebetulan jika lembaga pendidikan tinggi yang ingin bertransformasi selalu diminta untuk menjelaskan distingsi lembaga baru itu secara kelimuan. Proposal pembukaan prodi baru juga selalu diminta untuk mendeskripsikan kekhasan keilmuan program studi yang diusulkan dibandingkan  dengan prodi yang serupa di perguruan tinggi lain. Akreditasi program studi juga selalu menanyakan hal-hal apa yang berbeda suatu prodi dibandingkan dengan prodi yang lainnya. Sayangnya terkadang kekhasan itu secara naratif ada dalam usulan, namun begitu implementatif tidak secara konsisten dilakukan.

Tidak selalu mudah menjadi yang berbeda. Bahkan sebagian orang justru ingin sama dengan yang lain. Menjiplak atau mencontoh yang sudah besar-besar dan popular. Tidak berani mengambil posisi yang berbeda. Maka jadilah ia menjadi bayang-bayang yang besar-besar itu. Tidak pernah menjadi diri sendiri. Padahal kalau ia mau berbeda, maka ia akan mudah dikenali dari kebanyakan yang sama. Domba berwarna putih diantara ribuan domba dengan warna yang sama akan sangat sulit dikenali meskipun domba itu diberi nama yang berbeda. Tetapi satu domba berwarna hitam diantara ribuan domba berwarna putih akan sangat mudah dikenali.

Para pimpinan dan pengelola lembaga pendidikan menjadi sangat penting memiliki program yang unik dan khas serta memiliki kekuatan keilmuan yang berbeda dibandingkan dengan lembaga pendidikan lainnya. Mencari, menemukan dan menentukan perbedaan hingga memiliki kekhasan yang unik dari lembaga yang dimiliki serta secara konsisten mengimplementasikan adalah prasyarat kemajuan. Jika ingin lembaganya kompetitif, miliki perbedaan yang membanggakan dibandingkan dengan lembaga pendidikan lainnya. Itupun jika anda percaya dengan “mantra” para pebisnis: Kalau tidak yang pertama jadilah yang berbeda. Wallahu a’lam bishawab. (mh.20.08.25)

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.