Metrouniv.ac.id-Saya optimis dengan anak-anak muda kreatif. Mereka hidup dengan alternatif-alternatif baru. Dibesarkan pada masa reformasi, meninggalkan tradisi senioritas organisasi dan terpanggil dengan simpul media digital. Anak-anak muda ini adalah energi hebat masa depan. Bukan dipatronase oleh budaya urban, tapi menyadari bahwa mereka harus berkomunitas tanpa hirarki umur.
Mereka menemukan alternatif dengan memanfaatkan segala sumber daya dan mengolah limbah jadi barang berguna. Konsep ekonomi biru yang memaksimalkan potensi sekitar. Budaya dan teknologi disatukan menjadi kolaborasi yang berguna bagi kehidupan.
3 malam lalu kami berbicara tentang petani di Lampung Tengah yang frustasi. Dia membeli pestisida dengan kandungan racun maksimal seharga 600 ribu. Bermaksud mengusir hama 2 hektar tanaman padi, pestisida itu meruntuhkan harapan hidup. Jerami hasil padi dipanen diberikan ke puluhan ekor sapinya, kemudian mati tak tersisa. Putus asa karena terlilit hutang, petani memutuskan bunuh diri.
Rantai makanan yang sudah lama terputus akibat pestisida, menjadikan hama punya system imun yang terus meningkat. Pestisida dengan berbagai tingkatan tidak membuat hama berkurang tapi bertambah. Rantai makanan yang dulu saling terkait kini punah dan tinggal manusia, hama dan tanaman pangan. System preneurship (ecosystem yang terpadu) adalah mata rantai nilai yang dihilanglan oleh modernisme.
Tapi tidak dengan anak-anak muda ini. Mereka masuk di lahan gersang, mereka menantang pendidikan orang urban. Mereka tak percaya penguluh pertanian kiriman perusahaan pestisida. Mereka memproduksi pupuk, meramu pengusir hama (bukan mematikan hama), mengembalikan keanekaragaman, mencoba menangkap energi yang selama ini dibuang.
Menanam sayuran organik, membuat pupuk cair, memelihara lebah, menanam bunga sebagai pengundang predator hama, tentu yang paling penting membangun konsep ekonomi biru. Ya ekonomi yang memanfaatkan sumber daya alam dan mengelola limbah jadi produk berguna.
Mimpi kami ada system terpadu yang saling berkait-kelindan. Energi terbarukan-Pengairan-Tanaman-Hewan-Manusia-Pangan-Limbah dan kembali ke energi. Sebuah Socio-Eco-Techno-Preneurship yang diciptakan dengan gerakan, bukan teori di ruang-ruang kelas. Kami berjuang untuk mengembalikan ciptaan Tuhan untuk menjadi rantai nilai yang terikat kuat.
Dharma Setyawan