Dharma Setyawan, M.A. (Kaprodi Ekonomi
Syariah IAIN Metro)
Kampung Tangguh Nusantara yang sudah banyak
dilaunching harus menunjukkan kinerja dalam menangkap potensi pemudik yang saat
ini pulang desa. Tidak cukup hanya dilaunching , desa harus ada ketangguhan
nyata. Perlu diketahui anggaran KTN adalah 8% dari total anggaran Desa, jika
dana desa 1 miliar berarti 80 juta untuk gerakan KTN. Isu Covid ini memang
muncul dari kelas menengah kota, sampai saat ini warga desa tidak takut dengan
isu Corona. Mereka tahu Corona saat keluarga sakit dengan penyakit bawaan, di
bawa ke Rumah Sakit kemudian muncul isu penyakit Corona. Jika tidak percaya
silahkan kelas menengah ini datang ke desa dan lihat masyarakat desa tidak ada
yang berubah, mereka tidak pakai masker dan menaati prokres lainnya.
Selain menghadapi wabah Corona, KTN punya
kontribusi dalam mengembangkan ketahanan lumbung pangan desa. Ekonomi di kota
jelas berdampak dan banyak yang memilih pulang kampung karena lahan pekerjaan
berkurang. Ingat kejadian pemudik perempuan yang menangis karena dihentikan
polisi hendak pulang ke Lampung karena tidak ada pekerjaan di Kota Tangerang.
Jadi mereka pulang bukan takut Covid, tapi lebih takut tidak bisa melanjutkan
hidup karena menganggur. Posisi ini membuat arus ke desa semakin besar,
fenomena ini tentu dapat dilihat dari 2 sisi yaitu potensi atau bencana bagi
desa.
Selama desa masih menghasilkan pangan tidak
akan ada kendala kelaparan. Bertahan di kota tentu lebih sulit dan mereka
memilih pulang desa. Di sinilah gerakan ekonomi desa harus mendapat prioritas.
Membincangkan desa sekaligus menggerakkan desa harus menjadi isu penting dimasa
pandemi ini. Isu yang mengalir dari kota, tapi harus dijawab oleh orang desa.
Kemarin malam saya berbincang dengan mas
Hely Sumanto pengusaha muda yang kian moncer
setelah bangkit kembali. Hely Seedling makin banyak memberi pekerjaan bagi
banyak penduduk, ada 200 orang lebih dapat terberdayakan dari usaha pembibitan
tanaman pangan. Obrolan kami sampai jam 00.30 banyak bicara bagaimana desa
dengan menjadikam Bumdes sebagai prioritas. Pengalaman saya di Wisata Dam Raman
dan Pasar Payungi, lalu ide beliau soal kampung Agro, sangat mungkin dipadukan.
Desa tempat kami lahir bukan hanya butuh
ide, tapi juga gerakkan. Dan beliau sudah bergerak memberdayakan warga bahkan
hingga ratusan keluarga dapurnya terus mengepul. Konsep Desa Wisata dan Kampung
Agro masih terbuka lebar, belum lagi menghitung pendapatan warga desa sejak
tahun lalu dengan penjualan bunga Agloenema. Ada banyak kendala untuk memulai
perubahan, tapi konsistensi dan relasi akan menjawab apakah gerakan ekonomi ini
akan berhasil. Kendala utama biasanya datang dari yang terdekat,
ketidakpercayaan, pesimisme dan kemauan untuk memproduksi gagasan dan gerakan.
Perlu diketahui rumah semai beliau banyak
di serap oleh kabupaten dan provinsi lain, awalnya banyak yang tidak percaya
apakah akan berhasil atau tumbang seperti usaha lama. Para orang tua dan anak
muda ikut pesimis atas ide-ide baru, setelah berhasil kelak mereka mengakui
dengan sendirinya. Pun dengan ide ide baru untuk desa ke depan pasti banyak
orang pesimis, larut malam obrolan kami tutup dengan kesepakatan,"Dukun
itu sakti di luar, tidak dipercaya di kampung sendiri."