Karakter Orang Beriman

bg dashboard HD

(Bagian 1)

metrouniv.ac.id – 20/03/2023 – 28 Sya’ban 1444 H

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

Waktu berjalan terasa begitu cepat. Kemarin anak-anak tahu-tahu sudah remaja. Belum lama masih kelas satu sekolah dasar tahu-tahu sudah di sekolah menengah pertama. Belum hilang ingatan menunaikan ibadah Ramadhan, tahu-tahu bertemu kembali dengan Ramadhan, tahu-tahu sudah beridil fitri lagi. Begitulah waktu bagi kehidupan. Sangat cepat terjadi dan berlalu. Kita hanya bisa mengatakan tahu-tahu sudah begini, tahu-tahu sudah begitu, tahu-tahu sudah besar, tahu-tahu sudah bertemu kembali.

Di penghujung bulan Sya’ban ini, kita tersadar bahwa beberapa hari lagi akan memasuki bulan suci Ramadhan 1444 H. Bertemu kembali dengan Ramadhan adalah sebuah anugerah dan kebahagiaan. Banyak kawan, tentangga, atau saudara kita yang di bulan Ramadhan tahu lalu masih bersama-sama, bersendagurau dan bekerjasama dengan kita boleh jadi sudah tidak bersama lagi di bulan Ramadhan tahun ini. Mereka sudah lebih dulu dipanggil oleh Dzat Yang Maha Memanggil, Dzat yang Memiliki dan Pemilik kehidupan setiap manusia. Sepatutnya setiap insan yang masih sehat  berbahagia dan bersyukur tiada henti karena masih dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadhan tahun ini. Ramadhan 1444 H. Ramadhan di tahun yang cantik karena ada tiga angka empat yang berjejer.

Ramadhan mengingatkan kepada setiap yang beriman bahwa ada kewajiban berpuasa selama satu bulan penuh sebagaimana kewajiban yang juga pernah diberikan kepada umat-umat terdahulu (QS. Al-Baqarah: 183). Secara spesifik ayat ini memanggil kepada orang-orang yang beriman bukan panggilan kepada manusia atau insan secaa umum. Mereka yang beriman saja yang dipanggil oleh Allah SWT  untuk berpuasa, yang lain tidak dipanggil, Sebab itu ibadah puasa itu sangat istimewa. Salah satu keistimewaannya adalah pahalanya langsung dari Allah SWT. Allah berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi: “Semua amal anak Adam untuknya, kecuali puasa, Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya”. (HR.Bukhari dan Muslim).

Bergembiralah orang-orang yang beriman, yang mendapat panggilan langsung dari Allah SWT. Siapa sesungguhnya orang-orang yang beriman itu? Ada sepuluh tanda dan karakter yang dimiliki oleh orang yang beriman.

Pertama, orang yang beriman adalah Salimul Aqidah atau orang yang akidahnya lurus dan selamat. Akidah yang lurus adalah orang yang imannya murni kepada Allah SWT. Terbebas dari segala perilaku syirik dan khurafat. Orang-orang yang memiliki salimul aqidah adalah orang yang hanya menyembah kepada Allah yang Esa, tidak menduakannya. Memohon dan meminta hanya kepada Allah tidak kepada yang lainnya, tidak meminta dan memohon kepada makhluk. Menggantungkan hidup dan matinya hanya kepada Allah dan segala hal yang dilakukannya hanya semata mengharapkan ridha-Nya. Demikianlah karakter mukmin yang salimul aqidah.

Kedua, Shahihul Ibadah, yaitu orang-orang yang melakukan ibadahnya secara benar atau shahih. Ibadah yang benar adalah ibadah yang syarat dan ketentuannya sudah ditentukan oleh Allah SWT dalam syariatnya. Ibadah yang benar adalah ibadah yang dilakukan sesuai dengan ketentuan syariat, tidak lebih dan tidak kurang. Disamping itu shahihul ibadah adalah orang yang melakukan ibadah dengan penuh keikhlasan dan semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT. (QS. Al-Bayyinah: 5). Tidak ada harapan lain dari ibadah yang dilakukannya kecuali semata ridha Allah. Mereka shalat dan membayar zakat dengan penuh keikhlasan, karena demikian itulah  ad-Dinul Qayyimah (agama yang lurus).

Ketiga, ciri orang beriman adalah Matinul Khuluq, yaitu orang-orang yang memiliki akhlak yang kokoh, melembaga dalam sikap dan kepribadiannya. Seorang mukmin yang baik tidak cukup menyatakan dirinya beriman kepada Allah dan hari Akhir, tidak cukup hanya rajin beribadah. Seorang mukmin harus memiliki akhlak yang mulia (akhlakul karimah), memiliki pribadi yang anggun dan bermoral. Rasulullah menyatakan salah satu tugas utama kerasulannya adalah memperbaiki akhlak umat manusia agar memiliki akhlak yang mulia. Dalam rangka melaksanakan tugas itu, maka Rasulullah mencontohkannya langsung. Karena itu Beliau adalah Uswatun Hasanah (contoh teladan yang baik). Allah langsung memuji akhlak Rasul dalam firman-Nya; “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS.Al-Qalam:4). Mereka yang beriman atas Kerasulan Muhammad SAW harus mencontoh beliau dalam hal akhlak yang mulia.

Keempat Qawwiyul Jismi, yaitu memiliki kekuatan jasmani atau memiliki kesehatan dan kebugaran fisik yang baik. Orang-orang beriman adalah mereka yang senantiasa menjaga kesehatannya. Cara menjaga kesehatan itu adalah dengan cara mencukupi tubuh dengan makanan yang halalan dan thayyiban. Makanan yang halal adalah makanan yang didapatkan dari sumber dan dengan cara yang halal. Bukan makanan dari hasil mengambil hak orang lain, atau dari berbohong, menipu dan yang sejenisnya. Makanan yang halal adalah makanan yang halal dzatnya maupun cara memperolehnya. Sementara makanan yang thoyyib (baik) adalah makanan yang bergizi, memenuhi standar makanan yang sehat dan menyehatkan. Kesehatan dan kebugaran fisik juga didapatkan dengan olah raga, mengatur pola hidup, istirahat dan tidur yang cukup. Karena itu Rasulullah memerintahkan umat Islam untuk berenang, berkuda, memanah dan berlari. Dengan kata lain Rasulullah menganjurkan umat Islam untuk rajin berolahraga.

Kelima, Mutsaqqofful Fikri, yaitu memiliki kemampuan intelektual dan berfikir yang baik. Orang-orang beriman adalah orang yang suka belajar, mempelajari ilmu pengetahuan dan mengunakan kemampuan berfikirnya (intelektualnya) untuk mempelajari ayat-ayat dan tanda-tanda kekuasaan Allah. Kemampuan berfikir dan pengetahuan yang dimilikinya dipergunakan untuk kemaslahatan umat manusia dan menyempurnakan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Perintah membaca (Iqra’) sebagaimana ayat pertama yang diturunkan oleh Allah, kewajiban dan perintah menuntut ilmu, serta perintah menggunakan akal fikiran (tafakkur) adalah bukti nyata bahwa Allah SWT memerintahkan kepada semua yang beriman untuk memiliki kemampuan intelektual dan berfikir yang baik. Mereka yang mengabaikan belajar dan tidak peduli dengan ilmu pengetahuan adalah orang-orang yang mengingkari ajaran Iqra’ sebagai perintah pertama dari Allah SWT. (mh.20.03.23)

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.